Serangan Roket dari Jalur Gaza Palestina Jatuh di Wilayah Israel, Diduga dari Kelompok Hamas

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

FOTO: Kobaran api terlihat menyusul serangan udara tentara Israel di kota Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan, pada awal 22 November 2020, merespons serangan roket yang ditembakkan ke Israel dari Jalur Gaza pada Sabtu 21 November malam, lapor militer Israel.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sejumlah roket dilaporkan meluncur dari Palestina dan jatuh di wilayah Israel.

Insiden ini diduga dilakukan oleh kelompok militan Palestina, menurut militer Israel, dilansir Reuters, Minggu (22/11/2020).

Belum ada laporan perihal korban di kedua sisi perbatasan.

Sementara kepolisian Israel mengatakan roket yang ditembakan dari perbatasan Gaza pada Sabtu malam (21/11) tersebut merusak sebuah pabrik di kota selatan Ashkelon.

Militer Israel mengatakan telah melucurkan awak pesawat untuk merespons serangan yang diarahkan ke Hamas, kelompok militan yang menguasai jalur Gaza.

Baca: Disebut Diskriminasi Pembubaran Kerumunan, Doni Monardo: Keselamatan Rakyat Adalah Hukum Tertinggi

FOTO: Kobaran api terlihat menyusul serangan udara tentara Israel di kota Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan, pada awal 22 November 2020, merespons serangan roket yang ditembakkan ke Israel dari Jalur Gaza pada Sabtu 21 November malam, lapor militer Israel. (SAID KHATIB / AFP)

Baca: Viral Ibu Kandung Tega Aniaya Anak, Rendam Kepala Balita Dalam Ember Berisi Air hingga Menangis

Kepada Reuters, saksi mata mengatakan serangan dilakukan sebelum waktu fajar tiba, mencapai sasarannya di kota Gaza dan selatan kota, Rafah serga Khan Younis.

Kobaran api dan gumpalan asap terlihat naik ke atas di sejumlah lokasi.

Sebagai informasi, Israel dan Hamas terakhir berperang pada 2014 tetapi memanas kembali dalam beberapa bulan belakangan tahun 2020.

"Organisasi Hamas bertanggung jawab atas semua peristiwa yang terjadi di Jalur Gaza dan (mereka) akan menanggung konsekuensi atas aktivitas teror terhadap warga sipil Israel, kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.

Sampai berita ini dibuat, belum ada klaim pertanggungjawaban langsung dari kelompok militer Hamas ataupun pernyataan dari pejabat Hamas di Gaza.

Mencari Negara Timur Tengah

Belakangan ini, Israel sibuk mencari negara-negara timur tengah dalam rangka menormalisasi hubungan bilateral

Sudan menjadi negara ketiga -setelah Uni Emirat Arab dan Bahrain- yang melakukan normalisasi hubungan dengan negara tersebut.

Mendapat dukungan Amerika Serikat, Sudan juga dihapuskan dari daftar negara pendukung terorisme.

Presiden AS Donald Trump juga membuka blokir bantuan ekonomi dan investasi di Sudan.

Trump menegaskan masih ada 'lima negara' Arab lainnya 'dan bahkan lebih' yang menginginkan kesepakatan damai dengan Israel.

Seperti diketahui, kesepakatan damai Sudan-Israel datang beberapa minggu setelah langkah serupa diterapkan UEA dan Bahrain.

Baca: Koordinator Riset Uji Klinis Covid-19: Selesai Paling Cepat Januari 2021, Selesai Semua Maret 2021

Presiden AS Donald Trump melepas maskernya sebelum berbicara pada rapat umum dari South Portico Gedung Putih di Washington, DC pada 10 Oktober 2020. (MANDEL NGAN / AFP)

Baca: Vaksin Covid-19 Bisa Digunakan untuk Usia Berapa Saja, Ini Kata Koordinator Uji Klinis

UEA dan Bahrai tersebut menjadi negara pertama di daratan Timur Tengah yang mengakui kedaulatan Israel sejak 26 tahun.

Sudan dan Israel (dalam pernyataan tiga arah dengan AS) akan mempertemukan delegasi pada pekan depan.

Keduanya akan membahas urusan pertanian, penerbangan, dan migrasi.

Namun, belum ditentukan tanggal spesifik atas rencana tersebut.

"Para pemimpin sepakat menormalisasi hubungan Sudan dan Israel untuk mengakhiri perang di negara mereka," tulis pernyataan itu, dilansir BBC, Sabtu (24/10/2020).

Baca: Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto Berhentikan Dirjen P2P Achmad Yurianto, Ini Alasannya

Baca: Cara Memperpanjang Masa Aktif Kartu Telkomsel Tanpa Harus Membeli Pulsa, Simak Langkah-langkahnya

PM Israel Benjamin Netanyahu menyebut kesepakatan ini sebagai langkah yang bagus untuk perdamaian.

"Ini adalah awal dari era baru," kata Netanyahu.

Perdana Menteri Sudan Abdalla Hamdok berterima kasih kepada Trump karena telah mengeluarkan negaranya dari daftar terorisme AS.

Ia mengatakan pemerintah Sudan sedang bekerja "menuju hubungan internasional yang paling baik dalam melayani warganya".

Diwartakan stasiun televisi lokal, pemerintah Sudan mengatakan 'kondisi agresi' akan berakhir.

Baca: Viral Video Puting Beliung di Bekasi, Warga Sekitar Panik saat Bangunan dan Motor Tersapu Angin

FOTO: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan di Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv pada 27 Juli 2020 setelah naiknya tensi dengan kelompok militan Lebanon, Hezbollah di perbatasan Israel-Lebanon. (Tal SHAHAR / POOL / AFP)

Baca: Dituduh Bekerja untuk Israel, Vlogger Terkenal Dunia Nas Daily Sebut Al Jazeera Kampanye Kotor

Kesepakatan kedua negara ini menandai semakin banyaknya negara-negara Arab yang meresmikan hubungan dengan Israel.

Yordania berdamai dengan Israel pada 1994, Mesir pada 1979. Kemudian, Mauritania pada 2009, tapi putus lagi 10 tahun kemudian.

Banyaknya kesepakatan yang dibangun Israel dengan negara-negara Arab ini menuai kecaman dari orang-orang Palestina, yang melihat hal tersebut sebagai pengkhianatan perjuangan mereka.

Berdasarkan catatan sejarah, negara-negara Arab pernah melakukan pembicaraan damai dengan Israel dengan kesepakatan agar Israel menarik diri dari wilayah yang didudukinya sejak 1967.

Dalam kesepakatan juga disebutkan akan ada pembentukan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer