Megawati Sebut Anak Muda Rentan Terkena Hoaks, Anggota DPR Termuda: Harusnya Negara Berbenah

Penulis: Restu Wahyuning Asih
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Hillary Brigitta Lasut saat menjabat Wakil Ketua MPR Sementara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/10/2019).

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hillary Brigitta Lasut, anggota DPR RI dari Fraksi Nasdem angkat bicara soal pernyataan Megawati tentang bahaya hoaks.

Kala itu, Megawati menyebutkan jika anak muda jaman sekarang lebih rentan terkena hoaks.

Megawati pun menyebutkan, anak muda mudah percaya berita bohong dan rentan mencari tahu kebenaran.

Mendengar hal itu, anggota DPR RI termuda itu pun memberikan tanggapan berbeda.

Ia mengaku tak setuju dengan kalimat yang dilontarkan oleh pemimpin partai PDI-P tersebut.

Menurutnya, risiko seseorang terpengaruh informasi hoaks tidak hanya dialami anak-anak muda, tetapi semua umur.

Bahkan, menurut Hillary, kelompok usia 50-an cenderung rentan terpengaruh hoaks.

"Anak muda yang mudah percaya hoaks? Salah. Hoaks bisa mempengaruhi siapa saja. Risiko termakan hoaks itu tidak hanya ada pada anak muda, tapi bisa terjadi di segala usia, orang tua di usia di atas 50an saat ini juga sangat rentan terhadap hoaks," kata Hillary saat dihubungi, Selasa (10/11/2020).

Hillary mengatakan, perkembangan teknologi saat ini membuat penyebaran hoaks semakin masif.

Baca: Anggota DPR Termuda Tanggapi Pidato Megawati, Sebut Orang Tua juga Rentan Termakan Hoaks

Baca: Jadi Sorotan karena Pertanyakan Sumbangsih Milenial, Megawati: Ngapain Saya Dibully? Orang Benar Kok

Oleh karenanya, kata Hillary, masyarakat harus memiliki kemampuan menyaring informasi dan membiasakan untuk check and recheck sebelum menyebarkan berita.

"Kebiasaan check and recheck diharapkan bisa menjadi skill wajib yang dimiliki masyarakat Indonesia sebelum menyebarkan berita," ujarnya.

Menurut Hillary, usia tidak bisa menjadi dasar untuk mengkategorikan suatu kelompok yang sering memercayai hoaks.

Ia menuturkan, kelompok yang mudah terpengaruh hoaks merupakan dampak dari minimnya literasi dan kurang menggali informasi, bukan karena persoalan usia.

"Anak-anak muda masih banyak yang mau stalking dan cari tahu lebih dalam untuk memenuhi rasa penasarannya," ucap dia.

Lebih lanjut, Hillary mengatakan, apabila jumlah masyarakat yang terpengaruh hoaks makin tinggi, maka pemerintah harus mengklarifikasi hoaks tersebut.

"Sehingga kita tidak menjadi negara yang saling menyerang tapi saling berbenah," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merasa heran dengan anak-anak muda masa kini yang lebih percaya hoaks.

Menurut Mega, sudah terlihat kecenderungan bahwa anak-anak muda enggan mencari tahu kebenaran sebuah informasi yang mereka temukan di dunia maya.

Anggota DPR dari Fraksi Nasdem Hillary Brigitta Lasut menanggap ucapan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarno Putri yang menggap bahwa anak-anak muda masa kini rentan termakan hoaks. (TRIBUNNEWS.COM/Henry Lopulalan, KOMPAS.com/Haryantipuspasari)

"Tadi saya berbicara mulai dengan Pancasila. Anak-anak muda banyak kan, karena ada internet dan sebagainya, anehnya sekarang kenapa lebih percaya pada hoaks dari pada tidak menanyakan dulu apakah ini benar atau tidak,"

"Selalu, mulai kecenderungan," ujar Mega dalam Dialog Kebangsaan Pembudayaan Pancasila dan Peneguhan Kebangsaan Indonesia di Era Milenial, Selasa (10/11/2020).

Ia mempertanyakan pemahaman anak-anak muda kini terhadap Pancasila.

Mega lantas mengulas kisah para pejuang kemerdekaan di masa lampau yang telah memiliki pandangan jauh ke depan untuk membangun bangsa.

Baca: Anggota DPR Termuda Tanggapi Pertanyaan Megawati Terkait Sumbangsih Anak Muda: Tidak Adil

Baca: Megawati Ketua Umum PDIP Merasa Kesal Ada yang Masih Bahas PKI: Zaman Gini Masih Ngomongin PKI

Mega mencontohkan Presiden RI pertama Soekarno yang berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika pada 1955, meski kemajuan teknologi belum sebesar sekarang.

Dia menilai, konferensi itu merupakan wujud dari semangat juang yang begitu tinggi dari para pendiri bangsa.

Mega berharap hal serupa dapat kembali dilaksanakan di masa mendatang.

"Sebagai contoh Bung Karno, sampai bisa bayangkan tahun 1955 membuat konferensi yang sampai saat ini belum bisa dilaksanakan kembali meski kita sudah bisa daring seperti ini. Apa artinya? Apakah kita yang ketinggalan atau teknologinya terlalu maju?" katanya.

(TribunnewsWiki.com/Restu, Kompas.com/Haryanti Puspa Sari)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tanggapi Megawati, Anggota DPR Termuda: Orang Tua Juga Rentan Terpengaruh Hoaks"



Penulis: Restu Wahyuning Asih
Editor: Melia Istighfaroh

Berita Populer