Terkait dengan hal itu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah memberi tanggapan.
Ida Fauziyah mengatakan selama pandemi Covid-19 lapangan kerja masih sedikit sehingga membuat angka pengangguran bertambah.
Selain itu, Ida Fauziyah menyebut pasar kerja belum optimistis.
"Banyaknya kesempatan kerja yang berkurang dan pasar kerja yang masih belum begitu optimis," kata dia, Jumat (6/11/2020), dikutip dari Kompas.
Menaker mendorong para penganggur untuk mengikuti yang dipelatihan yang diprakarsai oleh Kementerian Ketenagakerjaan agar bisa berwirausaha.
Selain Kemenaker, kata Ida, Kementerian PUPR dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) juga terlibat menekan jumlah pengangguran agar tidak menembus dua digit, yakni melalui program Padat Karya.
Baca: Dampak Pandemi Covid-19, BPS Catat Jumlah Pengangguran Capai 9,77 Juta Orang
"Sebenarnya kami melakukan banyak mitigasi untuk mengatasi dampak daripada Covid-19 ini," kata dia.
Ida mengatakan tak terkejut dengan adanya peningkatan angka pengangguran.
Ida menyebut angka yang disampaikan oleh BPS sesuai dengan prediksi Kemnaker.
Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan pandemi Covid-19 membuat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia mengalami kenaikan dari 5,23 persen menjadi 7,07 persen.
Berdasarkan lokasi, jumlah pengangguran di kota mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan di desa.
Di kota, tingkat pengangguran meningkat 2,69 persen sementara di desa hanya 0,79 persen.
Peningkatan TPT terjadi lantaran terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja per Agustus 2020 sebesar 2,36 juta orang menjadi 138,22 juta orang.
Meski terjadi kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) sebesar 0,24 persen poin menjadi 67,77 persen, ada penurunan jumlah penduduk yang bekerja.
Baca: Daftar Bantuan untuk Pengangguran dan Fresh Graduate, Harus Penuhi Syarat Berikut Ini
DKI Jakarta menjadi provinsi dengan TPT tertinggi, yakni sebesar 10,95 persen.
Bukan hanya itu, Jakarta juga menjadi wilayah dengan penambahan angka TPT tertinggi di Indonesia, yakni sebesar 4,41 persen dibandingkan dengan tahun lalu.
Setelah Jakarta, TPT tertinggi kedua ditempati oleh Banten dengan 10,64 persen, disusul oleh Jawa Barat sebesar 10,46 persen, lalu Kepulauan Riau sebesar 10,34 persen lalu Maluku sebesar 7,57 persen, dan Sulawesi Utara sebesar 7,37 persen.
"Kita sadar bahwa dampak Covid menghantam keras DKI, Banten, Jawa Barat, Kepulauan Riau naik tingkat penganggurannya," ujar Suhariyanto.
Sebagai informasi, seluruh provinsi di Indonesia mengalami peningkatan TPT. Sulawesi Barat menjadi provinsi dengan TPT terendah yakni 3,32 persen.
Baca: Seperempat Miliar Orang Diprediksi Bakal Jadi Pengangguran, Presiden Microsoft: Pelajari Hal Baru
Suhariyanto mengatakan sektor pertanian mengalami peningkatan persentase lapangan pekerjaan terbesar
"Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar adalah sektor pertanian (2,23 persen poin). Sementara sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu sektor industri pengolahan (1,30 persen poin)," kata Suhariyanto.
Dia pun memaparkan terjadi penurunan jumlah pekerja penuh sebanyak 9,46 juta pekerja, di sisi lain terjadi peningkatan jumlah pekerja paruh waktu atau setengah menganggur sebesar 4,83 juta orang.
Suhariyanto menjelaskan pekerjaan hingga saat ini masih didominasi oleh sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 29,76 persen, kemudian perdagangan sebesar 19,23 persen, dan industri pengolahan sebesar 13,61 persen.
"Ada pergeseran jumlah penduduk bekerja di pertanian meningkat 2,23 persen, demikian perdagangan terutama perdagangan eceran meningkat 0,46 persen, jasa lainnya meningkat tipis, serta jasa kesehatan dan informasi serta kominukasi mengalami peningkatan," kata Suhariyanto.
"Tetapi bisa dilihat bahwa hampir seluruh sektor terjadi pengurangan jumlah penduduk yang bekerja terutama untuk industri pengolahan terjadi pengurangan sebesar 1,30 persen," ujar dia.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pengangguran Tembus 9,77 Juta Orang, Ini Kata Menaker"