Respons ini muncul setelah otoritas kedua wilayah ini menilai pemerintah pusat lamban mengambil keputusan pada Kamis, (22/10/2020).
Meski kedua wilayah, Castilla y Leon dan Valencia memiliki sistem autonomi tersendiri sehingga bertanggungjawab menangani Covid, tetapi mereka memerlukan intervensi pemerintah pusat atas kebijakan seperti jam malam.
Lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi sepekan ini dengan total lebih dari satu juta kasus membuat pemerintah Spanyol mendukung kebijakan jam malam,
Namun, otoritas setempat menunda menerbitkan aturan tersebut setelah adanya penolakan dari wilayah Madrid dan Basque, pada Kamis (22/10).
Baca: Tak Mau Lakukan Lockdown, Perdana Menteri Spanyol Minta Warganya Kurangi Mobilitas
Baca: Cemburu Buta, Wanita Ini Potong Testis Kelamin Pasangan saat Berhubungan Seksual
"Kami ingin ini (jam malam) dilakukan hari ini, jika memungkinkan bisa diterapkan besok," kata Alfonso Fernandez Manueco, pemimpin wilayah Castillah y Leon, dilansir Reuters, Jumat (23/11/2020).
Seperti diketahui, kenaikan kasus Covid-19 menjadi yang tertinggi di wilayah Eropa Barat.
"Covid-19 itu tak mengenal batasan wilayah ataupun garis politik yang berbeda," katanya dalam konferensi pers bersama Menteri Kesehatan, Salvador Illa.
Sementara itu, pemimpin wilayah Valencia, Ximo Puig menyuruh jajarannya untuk merancang aturan 'sepihak' ihwal jam malam hingga 9 Desember 2020.
Ini dilakukan mendesak dan tak bisa menunggu keputusan pemerintah.
Baca: TKW Terpaksa Dimakamkan di Malaysia, Keluarga Sebut Biaya Pemulangan Jenazah Rp 32 Juta
Baca: Komentari Tuduhan Donald Trump, Anggota DPR AS Alexandria Ocasio-Cortez Buka Suara
Di lain hal, meski mendukung jam malam, PM Spanyol menolak adanya lockdown kembali.
Namun demikian, dirinya meminta warganya untuk kurangi mobilitas.
Ia menyebut akan menerbitkan sejumlah aturan agar warganya bisa tertib dalam melakukan kegiatan sosial.
Langkah ini merupakan strategi Pedro agar tidak mengeluarkan kebijakan lockdown kembali, dilansir Reuters, Jumat (23/10/2020).
Seperti diketahui, Spanyol menjadi negara pertama di Eropa Barat yang mencatat lebih dari 1 juta infeksi Covid-19 yang dikonfirmasi minggu ini.
Saat ini, 'Negeri Matador' ini sedang berjuang untuk menahan naiknya angka tersebut.
Baca: Cemburu Buta, Wanita Ini Potong Testis Kelamin Pasangan saat Berhubungan Seksual
Baca: Keluarga TKW Dimintai Rp 32 Juta untuk Biaya Pemulangan Jenazah, Pemkab Indramayu: Itu Masih Isu
Negara berpenduduk 47 juta jiwa itu termasuk yang paling terpukul oleh pandemi COVID-19, dengan lebih dari 34.000 kematian terkait Covid-19.
Sebelumnya virus sempat terkendali karena mereka melakukan penguncian nasional (lockdown) pada musim semi lalu. Namun beberapa bulan setelah pembatasan itu dicabut dan warga mulai bergerak dan bersosialisasi, virus mulai menyebar lagi.
Saat ini Spanyol mencatat jumlah infeksi yang tertinggi di Uni Eropa
Pada September, rumah sakit di Madrid mulai terisi penuh.
Kasus yang dikonfirmasi naik melampaui angka 1 juta pada hari Rabu (21/10/2020), ketika hampir 17.000 infeksi baru ditambahkan.
Para ahli mengatakan jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi karena adanya kasus tanpa gejala dan masalah-masalah lain yang menghalangi pihak berwenang untuk mencatat angka sebenarnya dari wabah tersebut.