Dari hasil laboratorium, penyebab ratusan warga keracunan yakni karena amuba.
Namun hingga kini, belum bisa dipastikan dari makanan mana amuba tersebut berasal.
"Hasilnya di dalam feses itu terdapat amuba, sehingga bisa dipastikan sementara, sumber penyebab keracunan yang menimpa 213 warga itu dari amuba," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Uus Supangat, Minggu (11/10/2020).
Nanti setelah ada hasil pemeriksaan sampel makanan di laboratorium di Bandung, bisa diketahui amuba dalam feses pasien itu terdapat dalam makanan yang mana.
Amuba, lanjut Uus, bisa menyebabkan beberapa gejala dalam tubuh.
Di antaranya sakit perut, demam, pusing lalu muntah-muntah dan diare.
Pihak Dinkes sendiri, tambah Uus, sudah melakukan uji lab terhadap air yang ada di lokasi rumah yang mengadakan ulang tahun dan membagikan nasi kuning.
Baca: Jangan Pernah Makan Buah Apel di 3 Kondisi Ini, Tubuh Bisa Keracunan
Baca: Semburan Lumpur Panas di Blora Jebak 19 Kerbau, 4 Warga dilarikan ke Puskesmas Diduga Keracunan Gas
"Hasilnya amuba yang ada dalam air bersih tidak sama dengan yang ada dalam tinja pasien korban keracunan massal itu," ujar Uus.
Jumlah korban keracunan nasi kuning di Tasikmalaya mencapai 213 orang.
"Totalnya 213 orang terdiri dari anak-anak dan dewasa. Hari ini (Minggu 11/10, Red) dari pantauan sejak pagi hingga petang hanya ada beberapa penambahan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota, Uus Supangat.
Upaya penanggulangan yang dilakukan tim medis gabungan Puskesmas dan rumah sakit, sudah banyak pasien yang sembuh dan diperbolehkan pulang.
"Jumlah yang dirawat di Puskesmas Mangkubumi termasuk beberapa ruang kelas SD Puspasari di belakang Puskesmas sebanyak 15 orang," ujar Uus.
Sementara yang dirawat di RSU dr Soekardjo sebanyak 25 orang dan RS TMC 1 orang.
"Jadi tinggal 40-an yang masih dirawat," kara Uus.
Pemantauan di tiga ruang kelas SD Puspasari yang dijadikan tempat perawatan darurat, setiap ruangannya sudah lengang.
Euis (25), salah seorang korban yang dirawat di ruang kelas, menuturkan, dirinya sudah tidak merasakan lagi sakit perut maupun pusing.
Baca: Ini Alasan Mengapa Jeruk Nipis Digunakan Sebagai Bahan Dasar Sabun Pencuci Piring
Baca: Mulai Musim Hujan, Simak Tips Perawatan Rem Motor untuk Keselamatan Berkendara
"Pusing dan sakit perutnya sudah tidak ada lagi. Begitu pula diare sudah tidak. Tapi memang badan masih belum pulih," kata Euis.
Namun begitu, ia berharap segera bisa pulang dan melakukan pemulihan di rumah.
Komandan Koramil 1203 Kodim 0612 Tasikmalaya Mayor Inf Iwan Suwanto mengatakan, kejadian ini berawal saat keluarga IN, warga asal Kampung Cilange, Kelurahan Karikil, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, mengadakan acara ulang tahun anaknya.
Keluarga IN berniat merayakan ulang tahun anaknya, dengan mengundang 80 orang.
Sebagian besar tamu yang datang adalah anak-anak yang didampingi para orangtuanya.
Para tamu acara tersebut merupakan kerabat dan tetangga pihak penyelenggara acara.
Kemudian terjadilah keracunan massal setelah para tamu undangan menyantap nasi kuning yang telah disediakan.
Korban yang mengalami gejala berat dan sedang sampai menjalani perawatan di Puskesmas Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.
Diketahui, korban keracunan yang bergejala sedang dan berat merupakan anak-anak berusia 5 hingga 10 tahun.
Mereka mengalami gejala pusing, muntah-muntah dan kejang-kejang.
Pada Jumat (9/10/2020) petang, korban keracunan bertambah hingga mencapai 197 orang.
Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Sumber Penyebab Keracunan Makanan di Karikil Kota Tasikmalaya Diduga dari Amuba, Ini Buktinya