Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kernikterus adalah kerusakan otak yang sering terjadi pada bayi yang baru lahir dan disebabkan oleh penumpukan bilirubin yang sangat banyak di otak.
Kernikterus adalah jenis kerusakan otak yang dapat dicegah.
Bilirubin merupakan produk pembuangan yang diproduksi oleh hati.
Bayi yang baru lahir memiliki kadar billirubin tinggi, dan dapat menyebabkan kuning yang dikenal sebagai ikterus.
Sekitar 60% bayi mengalami ikterus, karena tubuh mereka tidak dapat mengeluarkan bilirubin sebagaimana mestinya, namun tidak semua ikterus menyebabkan kernikterus
Kernikterus merupakan keadaan darurat medis, dimana bayi dengan kondisi tersebut harus segera diobati.
Kadar bilirubin harus diturunkan untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.
Meski termasuk kondisi yang jarang, kernikterus sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan cedera pada otak atau lumpuh otak (cerebral palsy).
Selain itu, kernikterus juga dapat menimbulkan masalah pada gigi, gangguan pada penglihatan dan pendengaran, serta keterbelakangan mental. (1)
Baca: Toksoplasmosis
Baca: Anemia
Penyebab
Kernikterus disebabkan oleh bilirubin yang menumpuk di otak akibat penyakit kuning dan tidak diobati.
Penyakit kuning merupakan masalah umum pada bayi yang baru lahir.
Hal ini terjadi karena hati tidak dapat memproses bilirubin dengan cukup cepat, sehingga bilirubin menumpuk pada aliran darah bayi.
Ada dua jenis bilirubin dalam tubuh, di antaranya adalah:
Jika bilirubin tak terkonjugasi tidak diubah di hati, maka akan menumpuk di tubuh bayi.
Ketika tingkat bilirubin tak terkonjugasi sangat tinggi, bilirubin tak terkonjugasi akan keluar dari darah dan masuk ke jaringan otak, dan menyebabkan kernikterus.
Ada beberapa penyebab potensial yang dapat menyebabkan pembentukan bilirubin tak terkonjugasi, di antaranya adalah:
- Penyakit Rh (rhesus) atau ketidakcocokan ABO atau jenis darah bayi dan ibu tidak kompatibel
- Sindrom Crigler-Najjar.
- Kondisi bawaan dimana bayi kekurangan enzim untuk mengubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi bilirubin terkonjugasi untuk dibuang. (2)
Gejala
Karena kernikterus merupakan kondisi akibat penyakit kuning yang tidak tertangani, maka yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah gejala penyakit kuning.
Meskipun penyakit kuning pada bayi umumnya sembuh dengan sendirinya, namun bila berlangsung terlalu lama akan memicu gejala kernikterus, seperti:
- Demam.
- Gerakan mata yang tidak normal, sehingga tidak dapat melirik ke atas.
- Kaku di seluruh tubuh.
- Otot yang tegang.
- Gangguan dalam pergerakan.
- Tidak mau menyusu.
- Suara yang melengking saat menangis.
- Mudah mengantuk.
- Tampak lemas.
- Kejang.
- Gangguan pendengaran. (3)
Baca: Mimisan
Baca: Penyakit Croup
Pengobatan
Pengobatan kernikterus bertujuan untuk mengurangi kadar bilirubin dalam darah dan mencegah terjadinya kerusakan otak.
Salah satu metode pengobatan kernikterus adalah dengan mencukupi asupan ASI.
Kecukupan ASI akan membantu pembuangan bilirubin melalui urine dan tinja.
Metode lain untuk menangani kernikterus meliputi:
Terapi yang dikenal dengan blue light ini menggunakan sinar khusus, untuk menurunkan kadar bilirubin dalam darah.
Fototerapi dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode konvensional dan metode fiberoptik.
Metode konvensional dilakukan dengan membaringkan bayi di bawah lampu halogen atau lampu fluoresen.
Kemudian setelah semua pakaian bayi dibuka dan mata bayi ditutup, kulit bayi akan disinari dengan cahaya biru.
Sedangkan pada fototerapi fiberoptik, bayi akan dibaringkan di alas yang dilengkapi kabel fiberoptik untuk disinari di bagian punggung.
Kedua fototerapi umumnya dilakukan terus menerus, dengan diberi jeda selama 30 menit, tiap 3 atau 4 jam, agar ibu bisa memberi makan dan mengganti popok bayi.
Bila kondisi bayi belum membaik setelah menjalani terapi ini, dokter akan menyarankan terapi kombinasi fototerapi dengan menggunakan lebih dari satu sinar, dan penggunaan alas fiberoptik.
Karena terapi kombinasi ini dilakukan secara terus-menerus, pemberian asupan makanan dan cairan akan dilakukan melalui selang atau suntikan ke pembuluh darah.
Kadar bilirubin akan diperiksa tiap 4-6 jam, setelah memulai fototerapi.
Bila kadarnya menurun, kondisi bayi akan diperiksa tiap 12 jam. Umumnya butuh 2-3 hari hingga kadar bilirubin turun.
Bila kadar bilirubin pada bayi masih tinggi walaupun sudah menjalani fototerapi, dokter akan menyarankan transfusi tukar.
Prosedur ini mengganti darah bayi dengan darah pendonor.
Transfusi tukar membutuhkan waktu hingga beberapa jam. Setelah menjalani transfusi, kadar bilirubin bayi akan diperiksa tiap 2 jam.
Bila kadar bilirubin masih tinggi, transfusi tukar akan diulang kembali. (4)