Pasukannya Tembak dan Bakar Tubuh Pejabat Korsel, Kim Jong Un Kirim Surat Permintaan Maaf

Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

(ILUSTRASI) Gambar file tak bertanggal ini dirilis dari Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara pada 23 Juni 2019 menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un membaca surat pribadi dari Presiden AS Donald Trump di lokasi yang tidak diketahui. Kim Jong Un mengatakan hubungannya dengan Donald Trump seperti film fantasi, menurut penerbit buku baru tentang presiden AS yang akan mengungkap 25 surat pribadi yang dipertukarkan antara kedua pemimpin.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah meminta maaf atas kematian seorang pegawai pemerintah Korea Selatan yang ditembak mati oleh pasukan Korea Utara setelah melintasi perbatasan laut antara kedua negara.

Dalam surat yang dikirimkan ke Blue House Korea Selatan pada Jumat (25/9/2020) pagi, Korea Utara mengatakan unit menanggapi panggilan bahwa seorang laki-laki tak dikenal ditemukan mengambang di sebuah benda di laut.

Dilansir oleh CNN, surat tersebut menggatakan ada sekitar 10 peluru ditembakkan ke pria itu setelah dia tidak memenuhi permintaan seorang tentara untuk mengidentifikasi dirinya dan tembakan peringatan berikutnya.

Korea Utara mengatakan hanya genangan darah yang tersisa di benda mengambang itu setelah tembakan dilepaskan.

Setelah tentara menduga pria itu tewas, mereka membakar benda mengambang di lokasi sesuai dengan tindakan pencegahan Covid-19 di Korea Utara.

"Ketua Kim Jong Un meminta untuk menyampaikan bahwa dia merasa sangat menyesal bahwa alih-alih memberikan bantuan kepada rekan kami di Selatan yang sedang berjuang dengan epidemi Covid, kami telah mengecewakan Presiden Moon dan rekan kami di Selatan dengan kemalangan yang tak terlihat ini di laut kita, "bunyi surat itu, menurut Blue House.

Baca: Pejabat Korea Selatan Dibunuh Secara Brutal Kemudian Dibakar oleh Pasukan Korea Utara

Pernyataan itu menambahkan bahwa Korea Utara telah memperkuat pengawasan maritimnya dan meminta maaf atas sebuah insiden yang jelas akan berdampak negatif terhadap hubungan antar-Korea.

Sebelumnya, Letnan Jenderal Ahn Young-ho, seorang pejabat tinggi di Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, seorang pekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan hilang di perairan 1,9 kilometer (1,2 mil) selatan Kepulauan Yeonpyeong pada 21 September.

Presiden Korea Selatan Moon Jae In - berbicara dalam video konferensi bersama EU Council Presiden Charles Michel dan European Commission Presiden Ursula von der Leyen di Gedung Biru, Seoul, Selasa (30/6/2020). (AFP/Yonhap)

Pejabat pertahanan Korea Selatan sebelumnya mengatakan mereka yakin pria itu sedang dalam proses mencoba membelot ke Korea Utara.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis kemarin, militer Korea Selatan mengatakan mereka mengutuk keras kekejaman Korea Utara dan mendesak Pyongyang untuk memberikan penjelasan dan menghukum mereka yang bertanggung jawab.

Baca: Mata-mata Korea Selatan Sebut Kim Yo Jong Jadi Orang Nomor Dua di Korut Secara De Facto

"Korea Utara menemukan pria itu di perairannya dan melakukan tindakan brutal dengan menembaknya dan membakar tubuhnya, menurut analisis menyeluruh militer kami terhadap berbagai intelijen," kata kementerian pertahanan dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita Yonhap.

"Militer kami mengutuk keras tindakan brutal tersebut dan sangat mendesak Korea Utara untuk memberikan penjelasan dan menghukum mereka yang bertanggung jawab," tambah pernyataan itu.

"Kami juga dengan tegas memperingatkan Korea Utara bahwa semua tanggung jawab atas insiden ini ada di tangannya."

Pejabat itu dilaporkan hilang pada hari Senin dari kapal patroli perikanan Korea Selatan ketika berada sekitar 10 km (6 mil) selatan dari Garis Batas Utara (NLL), garis kontrol militer yang disengketakan yang bertindak sebagai batas maritim de facto antara Utara dan Utara Korea Selatan.

Tidak jelas bagaimana pria 47 tahun itu bisa sampai ke air.

Baca: Geger Gambar Kim Jong Un ada di Kertas Rusak, Korea Utara Buru Pelaku dan Siapkan Hukuman Berat

Ketegangan telah meningkat antara Korea Utara dan Korea Selatan sejak komunikasi antara kedua belah pihak terputus pada bulan Juni, ketika Pyongyang pertama kali ditutup dan kemudian meledakkan kantor penghubung bersama di Kaesong , sebuah kota di sisi utara perbatasan.

Kemerosotan hubungan terjadi setelah pemulihan hubungan selama bertahun-tahun yang dipimpin oleh Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menghasilkan pertemuan bersejarah antara dirinya dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, serta pertemuan puncak antara Kim dan Presiden AS Donald Trump.

Dalam foto yang diambil pada 25 Agustus 2020 dan dirilis oleh media Korea Utara KCNA pada 26 Agustus 2020, nampak Kim Jong Un berbicara dalam pertemuan komite pusat Partai Buruh Korea di Pyongyang. (AFP/KCNA VIA KNS/STR)

Tetapi pertemuan tersebut pada akhirnya tidak memberikan hasil yang signifikan bagi semua pihak, dan Korea Utara telah mengambil nada yang semakin keras terhadap tetangga selatannya, perubahan sikap yang terjadi saat saudara perempuan Kim, Kim Yo Jong, pindah ke posisi yang lebih berpengaruh di Rezim Korea Utara .

Berbicara pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-hwa mengatakan bahwa tawaran dialog terhadap Korea Utara tetap terbuka, dan Seoul siap untuk terlibat dengan Pyongyang.

Beberapa minggu sebelum penembakan, Kim telah bertukar surat dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, kata Blue House.

(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)



Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi

Berita Populer