Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sindrom Horner merupakan kumpulan gejala dan tanda yang terjadi karena gangguan jalur saraf yang berjalan dari otak ke wajah.
Penyakit ini menyebabkan gangguan pada satu sisi wajah dan salah satu mata.
Sindrom Horner dapat dialami oleh segala usia.
Kerusakan saraf ini akan berimbas dengan terjadinya kelainan pada salah satu bagian mata.
Sindrom ini terjadi pada pasien yang menderita penyakit, seperti stroke, cedera saraf tulang belakang, atau tumor.
Oleh sebab itu, penanganan sindrom Horner dilakukan dengan mengobati penyakit yang dialami oleh pasien.
Mengobati kondisi dasar bagi penderita sindrom ini sangat berguna dalam memulihkan fungsi jaringan saraf agar kembali normal.
Gejala sindrom Horner ditandai dengan mengecilnya pupil mata sebelah saja.
Gejala lain yang bisa dirasakan oleh penderita sindrom Horner ialah jumlah keringat yang keluar lebih sedikit serta kelopak mata tampak merosot di salah satu sisi wajah. (1)
Baca: Sindrom Putri Tidur
Baca: Sindrom Nefrotik (Nephrotic Syndrome)
Gejala
Tanda dan gejala sindrom Horner yang paling sering terjadi pada penderitaya, yakni:
- Pupil pada satu mata lebih kecil daripada mata yang lain (anisokor)
- Kesulitan melihat dalam kegelapan
- Kelopak mata atas lebih turun pada sisi yang sakit
- Kelopak mata bawah terlihat sedikit terangkat
- Keringat yang lebih sedikit pada satu sisi wajah (anhidrosis)
- Iris mata yang lebih terang pada satu sisi mata pada bayi
- Kemerahan pada satu sisi wajah pada anak-anak (2)
Penyebab
Penyebab sindrom Horner yakni karena ada kerusakan pada jalur saraf simpatik antara otak dan wajah.
Sistem saraf ini mengatur banyak hal, termasuk pergerakan pupil mata, detak jantung, tekanan darah, keringat, dan lain-lain.
Sistem ini juga membantu tubuh untuk merespons segala perubahan lingkungan sekitar.
Jalur saraf (neuron) antara otak dan wajah terbagi menjadi tiga bagian yang berbeda.
Jalur tersebut di antaranya, neuron tingkat pertama, neuron tingkat kedua, dan neuron tingkat ketiga.
Setiap bagian memiliki kemungkinan penyebab yang berbeda.
Kerusakan pada jalur ini dapat disebabkan oleh:
- Trauma pada leher
- Stroke
- Tumor
- Penyakit seperti multiple sklerosis yang memengaruhi lapisan luar pelindung neuron
- Kista atau pengeroposan tulang belakang
Kerusakan pada jalur ini disebabkan oleh:
- Operasi rongga dada
- Kerusakan pembuluh darah utama jantung
- Tumor pada lapisan luar pelindung saraf
- Kanker paru-paru
- Cedera traumatis
Kerusakan pada jalur ini dapat disebabkan oleh:
- Cedera atau kerusakan pada salah satu atau kedua pembuluh darah besar (arteri karotis atau vena jugularis) di sisi leher
- Sakit kepala berat, termasuk migrain dan sakit kepala klaster
- Infeksi atau tumor di dasar tengkorak
Kemudian, Sindrom Horner yang terjadi akibat kerusakan saraf pada anak-anak biasanya umum disebabkan karena:
- Neuroblastoma atau tumor pada sistem hormonal dan saraf
- Cedera saat lahir pada bahu atau leher
- Cacat lahir aorta (salah satu pembuluh darah besar pada jantung)
Pada beberapa kasus, penyebab sindrom Horner tidak diketahui, hal tersebut dikenal sebagai sindrom Horner idiopatik. (3)
Baca: Sindrom Williams
Baca: Sindrom Baby Blues
Pengobatan dan Penanganan
Untuk memastikan pasien menderita sindrom Horner, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti:
Dokter akan memeriksa respons pupil mata pasien.
Kemudian Dokter akan meneteskan sedikit dosis obat tetes mata untuk melebarkan pupil pasien.
Reaksi pupil yang tidak melebar dapat menandakan pasien mengalami sindrom Horner.
Sejumlah tes seperti USG, foto Rontgen, CT scan, atau MRI akan dilakukan pada pasien yang didiagnosis menderita kelainan struktural, luka atau lesi, hingga tumor.
Sayangnya, tidak ada pengobatan khusus untuk menangani sindrom Horner.
Pada banyak kasus, jika penyebabnya telah ditangani, maka kondisi ini akan hilang dengan sendirinya.
Namun pasien dengan diagnosa Sindrom Horner juga bisa mengalami komplikasi dengan penyakit lain, yakni:
- Gangguan penglihatan
- Nyeri leher atau sakit kepala berat dan tiba-tiba menyerang
- Otot-otot melemah atau kesulitan mengontrol otot-otot (4)