Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Amblyopia adalah salah satu jenis gangguan penglihatan.
Dalam bahasa awam, amblyopia disebut mata malas.
Amblyopia disebabkan oleh kerja otot mata dan saraf otak yang tidak bekerja sama dengan baik.
Anak-anak yang punya mata malas akan mengalami penglihatan yang baik di sisi mata yang normal, sementara mata yang “malas” akan melihat buram.
Diagnosis dan perawatan dini dapat membantu mencegah penglihatan anak dari masalah jangka panjang.
Mata malas disebabkan oleh perkembangan penglihatan visual yang tidak normal pada awal kehidupan.
Diagnosis awal dan perawatan dini dapat membantu mencegah masalah jangka panjang pada penglihatan anak.
Mata malas biasanya dapat diatasi dengan kacamata atau lensa kontak atau penutup mata, namun kadangkala memerlukan operasi. (1)
Baca: Trakoma
Baca: Rabun Jauh
Penyebab
Mata malas umumnya terjadi sejak lahir hingga usia 7 tahun.
Pada beberapa kasus yang langka, penyakit ini dapat menyerang kedua belah mata.
Adanya mata malas pada anak akan menyebabkan kualitas atau fokus penglihatan yang dihasilkan oleh kedua belah mata berbeda.
Efeknya, otak hanya akan menerjemahkan penglihatan dari mata yang baik dan mengabaikan penglihatan dari mata yang mengalami gangguan (mata malas).
Jika tidak ditangani dengan baik, mata yang malas dapat mengalami kebutaan.
Mata malas terjadi ketika koneksi saraf dari salah satu mata ke otak tidak terbentuk secara sempurna pada masa kanak-kanak.
Mata dengan kemampuan penglihatan yang buruk akan mengirimkan sinyal visual yang kabur atau keliru ke otak.
Lama-kelamaan, kinerja kedua mata menjadi tidak sinkron dan otak akan mengabaikan sinyal dari mata yang buruk tersebut.
Mata malas dapat terjadi pada seorang anak dengan dipicu oleh berbagai hal. Beberapa di antaranya adalah:
Luka pada kornea mata tepatnya pada lapisan transparan di bagian depan mata ini (ulkus kornea) dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan memicu terjadinya mata malas pada anak.
Di samping pemicu di atas, terdapat beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya mata malas pada seorang anak, di antaranya adalah:
- Kelahiran prematur.
- Bayi yang lahir dengan berat badan di bawah normal.
- Faktor keturunan, terutama jika ada riwayat mata malas dalam
- Gangguan perkembangan anak. (2)
Gejala
Beberapa gejala yang timbul pada penderita mata malas, yakni:
- Mata yang terlihat tidak sinkron
- Persepsi menilai kedalaman yang buruk (kesulitan melihat obyek dalam bentuk 3 dimensi)
- Menyipitkan atau menutup mata
- Memiringkan kepala
- Hasil tes skrining yang tidak normal (3)
Baca: Pterigium
Baca: Blefaritis
Pengobatan
Tingkat keparahan mata malas dan dampaknya pada penglihatan anak akan menentukan langkah pengobatan apa yang sesuai.
Umumnya jika mata malas didiagnosis sedini mungkin, tingkat keberhasilan sembuhnya cukup baik.
Pengobatan yang dimulai pada saat usia anak diatas 6 tahun memiliki tingkat keberhasilan lebih rendah.
Prinsip pengobatan mata malas ada dua, yaitu antara memaksa penggunaan mata yang malas untuk melihat, atau mengobati kondisi yang menyebabkan terjadinya penyakit ini.
Beberapa penanganan yang akan disarankan oleh dokter adalah:
Di masa awal, kebanyakan anak akan menolak menggunakan kacamata khusus mata malas, karena merasa penglihatannya lebih baik tanpa alat tersebut.
Orang tua dianjurkan untuk selalu menjaga anak agar tetap menggunakan kacamata khusus mata malas, agar pengobatan dapat berhasil dengan baik.
Alat ini dipasangkan pada mata yang normal guna merangsang mata yang malas, agar mengalami perkembangan dalam melihat.
Sama seperti penggunaan kacamata, pada awal masa terapi, anak terkadang menolak menggunakan penutup mata, karena merasa tidak nyaman dalam melihat.
Cara ini paling efektif bagi penderita balita, dan penutup mata umumnya dipakai selama 2-6 jam per hari.
Terapi dengan penutup mata dapat dikombinasikan dengan penggunaan kacamata.
Hal ini akan mendorong anak-anak untuk menggunakan mata malas mereka.
Namun, obat tetes mata seperti ini berpotensi memicu efek samping berupa iritasi mata, kulit kemerahan, serta sakit kepala.
Prosedur ini dianjurkan untuk menangani katarak dan mata juling yang memicu mata malas.
Operasi umumnya dilakukan dalam keadaan anak tidak sadarkan diri setelah diberi bius total.
Setelah menjalani operasi, anak harus menjalani rawat inap sebagai bagian dari pemulihan.
Meski tidak bisa seratus persen memperbaiki kemampuan visual, mata akan menjadi lebih sinkron, sehingga kinerjanya pun meningkat. (4)