Jakob Oetama yang yang merupakan pendiri Kompas Gramedia menghembuskan nafas terakhirnya di usia 88 tahun.
Perjalanan hidup Jakob Oetama dalam membesarkan Kompas Gramedia yang didirikannya, juga warna kehidupannya sebagai seorang pendidik, seorang wartawan, dan juga seorang pengusaha.
Meski demikian, Jakob Oetama dikenal lebih senang dan bangga disebut wartawan, ketimbang pengusaha.
Berikut perjalanan hidup Jakob Oetama dilansir dari Kompas.com.
Baca: Sebelum Tutup Usia, Kondisi Jakob Oetama Sempat Kritis Sejak Minggu Sore
Bagi seorang Jakob Oetama, hidup tidak hanya dimaknai sebagai serangkaian kebetulan.
Iman menjadikan Jakob percaya bahwa hidup adalah skenario penyelenggaraan Allah, providentia Dei.
Berbagai peristiwa yang terjadi itulah yang membentuk karakter sederhana dan kerendahan hati seorang Jakob Oetama dalam menjalani berbagai peran kehidupan.
Dikutip dari buku Syukur Tiada Akhir, Lahir dengan nama asli Jakobus Oetama, pada 27 September 1931, Jakob adalah putra pertama dari 13 bersaudara pasangan Raymundus Josef Sandiya Brotosoesiswo dan Margaretha Kartonah.
Ayahnya merupakan seorang guru Sekolah Rakyat yang selalu berpindah tugas.
Profesi ayahnya pula yang menjadi pilihan Jakob setelah memutuskan untuk tak melanjutkan cita-cita awalnya, menjadi pastor.
Usai lulus seminari menengah, sekolah calon pastor setingkat SMA, Jakob memang sempat melanjutkan ke seminari tinggi.
Namun, dia menjalani pendidikan di seminari tinggi hanya sekitar tiga bulan.
Baca: Jakob Oetama Meninggal Dunia, Kantor Kompas Gramedia Palmerah Akan Jadi Tempat Penghormatan Terakhir
Setelah itu, Jakob pergi ke Jakarta untuk menjadi guru seperti ayahnya.
Kepergian Jakob ke Jakarta dilakukan atas bimbingan ayahnya.
Jakob diminta untuk menemui kerabat ayahnya yang bernama Yohanes Yosep Supatmo pada 1952.
Supatmo bukan guru, tapi baru saja mendirikan Yayasan Pendidikan Budaya yang mengelola sekolah-sekolah budaya.
Jakob mendapat pekerjaan, tapi bukan di sekolah yang dikelola Supatmo.
Dia mengajar di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat pada 1952 hingga 1953.
Kemudian, Jakob pindah ke Sekolah Guru Bagian B di Lenteng Agung, Jakarta pada 1953-1954.