Dari Griezmann, Coutinho hingga Dybala: Ini Alasan Lionel Messi Bikin Karier Bintang Lain Redup

Penulis: Haris Chaebar
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ekspresi kekecewaan Lionel Messi, dalam laga Barcelona vs Osasuna di Stadion Camp Nou, Kamis (16/7/2020) waktu setempat pada laga pekan 37 Liga Spanyol.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Manajemen Barcelona dan Lionel Messi kini sedang dalam perselisihan terbesar mereka.

Berbagai masalah baik di dalam dan luar lapangan membuat hubungan antara manajemen yang dipimpin Presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu dengan kapten tim Lionel Messi semakin mendidih.

Kabar kepindahan Lionel Messi dari Barcelona, klub yang sudah hampir dua dasawarsa lebih pria Argentina itu tinggali itu punkini  semakin realistis.

Pertemuan antara agen Lionel Messi yang sekaligus ayahnya, Jorge Messi dengan Bartomeu tak membuahkan hasil konkrit untuk Barcelona.

Kedua pihak tetap ngotot dengan pendirian mereka masing-masing terkait konflik interpretasi kontrak Lionel Messi di Barcelona.

Terlebih, isu kepindahan Lionel Messi dari Barcelona semakin menguat karena Manchester City juga beberapa kali menunjukkan gimik serius untuk meminang peraih 6 trofi Ballon d'Or tersebut.

Namun, isu kepindahan Lionel Messi dari Barcelona ke Manchester City yang berlaga di Liga Inggris tak bulat dibarengi optimisme.

Salah yang berkomentar skeptis tentang kepindahan Lionel Messi ke Manchester City adalah legenda sepak bola Inggris, John Barnes

Barnes, yang memperkuat Liverpool dalam periode 1 Juli 1987 sampai 1 Agustus 1997, tahu betul karakter kompetisi teratas Liga Inggris atau Premier League.

Baca: Kisruh dengan Barcelona Belum Usai, Status Kapten Lionel Messi Keburu Dicopot oleh Ronald Koeman

Baca: Pasca Dialog dengan Presiden Barcelona Berakhir Buntu, Lionel Messi dan Agen Lakukan Rapat Darurat

Pria bernama lengkap John Charles Bryan Barnes ini menyampaikan keraguannya terhadap kualitas Lionel Messi untuk bisa bersinar di Liga Inggris.

"Lionel Messi sudah berusia 33 tahun." 

"Dia bukan pemain yang sama seperti dulu, apalagi dia datang ke Liga Inggris yang sangat mengedepankan kemampuan fisik."

"Selama 15 tahun di Barcelona, Messi tidak terbiasa bermain dengan cara Liga Inggris."

"Messi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dan orang-orang juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan dia."

"Saya pikir sepak bola Liga Inggris tidak akan cocok untuk Messi," kata John Barnes dilansir Tribunnewswiki.com dari Manchester Evening News via Bolasport.com berjudul Lionel Messi Rusak Karier Griezmann-Coutinho karena Tak Patuh, De Bruyne Berikutnya.

Ilustrasi Lionel Messi bergabung ke Manchester City (Twitter @Lanacion)

Selain menilai usia dan kemampuan fisik Lionel Messi tak lagi prima, Barnes juga menilai sang mega bintang tersebut akan butuh waktu lama beradaptasi di sepak bola Inggris, meski dilatih oleh Pep Guardiola.

"Manchester City akan cocok untuk Messi melebihi klub lainnya karena di sana ada Pep Guardiola dan gaya bermain mereka mirip dengan Barcelona."

"Namun, membutuhkan waktu untuk menyatukan Messi dengan cara baru dalam bermain, tim baru, dan tim harus terbiasa dengan Messi."

"Messi akan menghambat pemain-pemain besar yang Anda miliki, seperti ketika Antoine Griezmann datang ke Barcelona, Griezmann menjadi terhambat."

"Philippe Coutinho juga menjadi terhambat kariernya karena ini semua tentang Messi."

"Tidak apa-apa semuanya tentang Messi ketika dia berusia 25, 26, 27, tetapi pada usia 33 tahun, dia bukan lagi pembangkit tenaga listrik seperti dulu."

"Jadi, meminta semua pemain Anda untuk patuh kepada Messi bukan merupakan sesuatu yang benar untuk dilakukan," ucap Barnes lagi.

Antoine Griezmann dalam sebuah sesi latihan Barcelona. (Tribunnews.com)

Atnoine Griezmann pindah dari Atletico Madrid ke Barcelona pada 14 Juli 2019.

Bukannya semakin tampil bagus, pemain Timnas Prancis itu justru langsung mengalami kemerosotan performa

Pada musim 2018-2019, Griezmann mampu mencetak 15 gol dan 8 assist dalam 37 pertandingan Liga Spanyol untuk Atletico Madrid.

Namun, pada Liga Spanyol 2019-2020, seorang penyerang dengan reputasi seperti Griezmann hanya menciptakan 9 gol dan 4 assist dari 35 laga.

Hal serupa juga dialami Philippe Coutinho hingga akhirnya dipinjamkan ke Bayern Muenchen pada musim 2019-2020.

Setelah pindah dari Liverpool, Coutinho hanya sanggup mengukir 8 gol dan 5 assist dari 18 pertandingan pertamanya di Liga Spanyol bareng Barcelona pada 2017-2018.

Hal yang sama juga terjadi pada Zlatan Ibrahimovic, Arda Turan di Barcelona hingg Paulo Dybala di Timnas Argentina, dengan alasan harus berbagi pengaruh ke tim hingga gaya main yang mirip dengan Messi.

Nama-nama tersebut tidak mampu menyatu dengan Lionel Messi.

Mereka tak bisa menyesuaikan diri sepenuhnya dengan gaya dan keinginan Messi sehingga ketika satu tim dengan La Pulga, mereka tidak bisa menampilkan performa terbaik.

John Barnes pun melihat potensi Lionel Messi akan mematikan Kevin De Bruyne apabila dia jadi bergabung dengan Manchester City.

Terlebih, saat ini De Bruyne sedang dalam puncak performa dan Messi di masa-masa senja kariernya.

"Messi akan mendominasi Kevin De Bruyne sehingga kita mungkin tidak akan melihat kemampuan lebih dari Kevin De Bruyne," tutur Barnes menambahkan.

Status kapten Messi dicopot

Ribut-ribut jelang musim 2020-21 antara kubu Lionel Messi dan manajemen Barcelona pimpinan Presiden Josep Maria Bartomeu berpuncak pada interpretasi kontrak sang kapten.

Pihak Messi menilai, klausul pelepasan 700 juta euro yang melekat pada pemain kelahiran Rosario, Argentina itu tak berlaku pada jeda musim ini.

Sedangkan Barcelona tetap bersikeras tak ada perubahan, mengingat di kontrak tertulis batas kadaluwarsa adalah Juni, bukan Agustus 2020.

Baca: Dikabarkan Mulai Menyerah dengan Barcelona, Mengapa Saga Transfer Lionel Messi Berujung Antiklimaks?

Baca: Rapat Alot 2 Jam Agen Lionel Messi dan Presiden Bartomeu, Seperti Ini Hasilnya

Sontak saja, friksi Messi vs manajemen Barcelona membuat dinamika di dalam tim mengalami pergeseran.

Sebelumnya, manajemen Barcelona via pelatih baru, Ronald Koeman sudah menegur Messi bahwa sang kapten harus bekerja lebih keras dan akan kehilangan hak-hak istimewa untuk musim 2020-21.

Isu kepergian Lionel Messi dari Barcelona yang sangat kencang pun disebut akan menimbulkan perubahan hierarki kepemimpinan dalam skuad berjuluk Los Cules tersebut.

Lionel Messi. Membuat seisi jagad sepak bola terkejut dengan konfliknya di Barcelona. (AFP/Manu Fernandez)

 

Beberapa media melaporkan, bertahan atau tidaknya Lionel Messi tidak akan mengubah terjadinya pergeseran kapten di tim Barcelona saat ini.

Messi sendiri sudah menjadi kapten Barcelona sejak 2018.

Penyerang berusia 33 tahun ini menggantikan gelandang legendaris Barcelona kala itu, Andres Iniesta.

Iniesta yang merupakan jebolan tim muda Barcelona ini memperkuat tim senior Barca dalam periode 1 Juli 2002 hingga 1 Juli 2018.

Andres Iniesta membela Barcelona dalam 674 penampilan di semua kompetisi.

Iniesta juga sanggup menyumbangkan 57 gol dan 141 assist di berbagai ajang untuk Barcelona.

Bersama Lionel Messi, Iniesta membawa Barcelona memenangi 9 gelar Liga Spanyol.

Messi dan Iniesta juga mengantarkan Barcelona empat kali menjuarai Liga Champions.

Sebuah keputusan tepat dari Barcelona memilih Messi sebagai kapten tim selanjutnya setelah Iniesta memilih bergabung dengan tim Liga Jepang, Vissel Kobe.

Baca: Jika Pindah, Lionel Messi Dicap Sebagai Pengkhianat Paling Besar di Dunia Sepak bola, Ini alasannya

Baca: Pecah Jadi Dua Kubu, Geng Lionel Messi Tak Kompak Bersuara Terkait Masalah Sang Kapten di Barcelona

Sejak kepergian Iniesta, Lionel Messi naik kasta menjadi kapten utama dan mempunyai tiga wakil kapten, yakni Sergio Busquets, Gerard Pique, dan Sergi Roberto.

Dikutip dari pemberitaan AS, Ronald Koeman telah menentukan kapten baru bagi Barcelona apabila Lionel Messi resmi hengkang.

Kapten pilihan Koeman adalah bek tengah Barcelona, Gerard Pique.

Sialnya bagi Messi, meski Barcelona sangat terang-terangan ingin menahan agar La Pulga tak pindah, peluang dirinya untuk digeser sebagai kapten juga tetap besar.

Gerard Pique merupakan satu-satunya pemain Barcelona yang menerima tanggung jawab menghadapi media usai Barca dicukur 2-8 oleh Bayern Muenchen pada laga perempat final Liga Champions 2019-2020.

Gerard Pique juga pemain muda dari akademi Barcelona.

Pique sempat dijual dari Barcelona U-19 ke Manchester United pada 1 Juli 2004.

Namun, Pique kembali ke Barcelona pada 1 Juli 2008.

Sergi Roberto, Lionel Messi, Sergio Busquets dan Gerard Pique. Kuartet empat kapten tim Barcelona dengan Messi sebagai kapten utama. (fcbarcelona.com)

Bersama Andres Iniesta dan Lionel Messi, Pique mengangkat trofi Si Kuping Besar pada 2009, 2011, dan 2015.

Gerard Pique juga mempunyai tiga wakil kapten.

Pique akan didukung oleh tiga wakilnya, yakni Sergio Busquets, Sergi Roberto, dan Marc-Andre ter Stegen.

Ter Stegen masuk ke dalam daftar karena dianggap sebagai sosok yang dihormati di ruang ganti dan selalu bersedia mengambil tanggung jawab ekstra saat dibutuhkan.

Sejauh ini, Lionel Messi baru dua musim menjabat sebagai kapten Barcelona.

Messi masih kalah dibandingkan dengan Andres Iniesta yang memimpin Barca dalam periode 2015-2018.

Iniesta menggantikan tugas Xavi Hernandez yang sekadar menjadi kapten pada 2014 hingga 2015.

Namun, Iniesta, Xavi, dan Messi tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kapten terhebat Barcelona sepanjang sejarah.

Sosok tersebut adalah Carles Puyol.

Puyol merupakan pemain yang paling lama mengemban tugas sebagai kapten Barcelona, yakni dari 2004 sampai 2014.

Bek tengah legendaris Barcelona ini cuma membela Barca di sepanjang kariernya.

Carles Puyol promosi dari tim muda ke tim senior Barcelona pada 1 Juli 1999.

Dalam era kepemimpinan Puyol, Barcelona meraih 17 gelar, termasuk tiga kali menguasai Liga Champions pada 2006, 2009, dan 2011.

(Tribunnewswiki.com/Ris)



Penulis: Haris Chaebar
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer