Awal Mula Konflik Antara Lionel Messi dan Manajemen Barcelona Ternyata Dipicu Persoalan Neymar

Penulis: Haris Chaebar
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Lionel Messi dan Neymar, pernah membentuk kolaborasi luar biasa di Barcelona. Messi hampir selalu meminta Barcelona memulangkan Neymar, namun manajemen belum mampu wujudkan transfer tersebut.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Situasi kacau di Barcelona saat ini semakin membuat kabar kepergian Lionel Messi semakin kencang.

Patut diketahui, Lionel Messi punya klausul pada kontraknya yang mengizinkan si pemain berjuluk La Pulga itu untuk pindah ke klub lain secara gratis transfer pada 2021.

Pada akhir musim 2020-21, Lionel Messi yang merupakan kapten timnas Argentina ini bisa dengan sesuka hati untuk angkat koper dari Camp Nou, markas Barcelona.

Namun ternyata, hasil buruk du musim 20192-0 yang diraih Barcelona serta kisruh dengan manajemen klub justru membuat Messi disebutkan sudah tak tahan lagi dan ingin secepatnya minggat dari Barcelona.

Sebelumnya, Messi pernah mengultimatum bahwa dirinya siap hengkang jika Barcelona tak melakukan revolusi atau perombakan besar-besaran dari segi manajemen, perekrutan pemain, maupun kepelatihan.

Kedatangan pelatih baru, Ronald Koeman pun tak mengurangi tensi antara manajemen Barcelona dengan Messi.

Bahkan, Messi semakin naik pitam mengingat rencana pertemuan dirinya dengan pelatih Ronald Koeman, untuk membahas masa depan dirinya di klub ternyata bocor ke publik.

Messi disebut semakin tak nyaman dengan situasi klub saat ini.

Baca: Meski Ada Konflik dengan Manajemen Klub, Ronald Koeman Bujuk Lionel Messi Supaya Tetap di Barcelona

Baca: Bayern Muenchen ke Final Liga Champions, Robert Lewandowski Dekati Rekor Gol Ronaldo dan Messi

Menanggapi hal tersebut, mantan calon presiden Barcelona, Agusti Benedito angkat suara.

Agusti Benedito pernah ikut pemilihan presiden untuk menduduki kursi nomor satu di klub Barcelona pada tahun 2010 dan 2015.

Ekspresi kekecewaan Lionel Messi, dalam laga Barcelona vs Osasuna di Stadion Camp Nou, Kamis (16/7/2020) waktu setempat pada laga pekan 37 Liga Spanyol. (AFP/Luis Gene)

Benedito menjadi kandidat dari Presiden Barcelona dalam pemilihan pada 2010 dan 2015.

Pada 2010, Benedito menempati urutan kedua dengan 14,09 persen (8.044 suara).

Benedito dikalahkan oleh Sandro Rosell yang mengantongi 61,35 persen dengan dukungan 35.021 suara.

Pada 2015, Agusti Benedito lagi-lagi takluk karena hanya mengumpulkan 7,16 persen dari 3.386 suara.

Benedito berada di bawah Josep Maria Bartomeu dengan 54,63 persen (25.823 suara) dan Joan Laporta yang menerima 33,03 persen (15.615).

Terkait dengan situasi Barcelona saat ini, Benedito memberikan pandangannya tentang masa depan Messi, sembari mengkritik era kepemimpinan Bartomeu dan Rosell.

"Sayangnya, saya pikir Bartomeu akhirnya akan melihat Messi pergi dari Barcelona," kata Agusti Benedito mengutip dari Bolasport.com

"Hal ini akan menjadi kesalahan terbaru dalam daftar panjang dan yang paling tragis di era Bartomeu-Rosell, yang telah menjadi mimpi buruk bagi sejarah klub kami."

"Jika kontrak Messi habis pada musim panas ini, saya yakin dia akan pergi."

"Sejak Neymar pergi, Messi tidak bahagia," ucap Benedito menambahkan.

Baca: Selain Mata-mata di Klub, Teror Surat Berisikan Peluru buat Antonio Conte Tak Betah di Inter Milan

Baca: Inter Milan Gagal Juara Liga Europa dan Liga Italia, Antonio Conte Galau dengan Masa Depannya

Neymar pergi meninggalkan Barcelona pada 3 Agustus 2017.

Penyerang asal Brasil itu pindah ke Paris Saint-Germain dengan memecahkan rekor transfer dunia, yakni mahar sebesar  222 juta euro (sekitar Rp 3,87 triliun).

Opini dari Agusti Benedito sejalan dengan apa yang sudah dilalui Lionel Messi bersama Neymar.

Neymar sudah menjadi bagian dari Barcelona sejak Juli 2013.

Kedatangan Neymar dari Santos membantu Messi meraih delapan gelar untuk Barcelona.

Bahkan, pada musim 2014-2015, Neymar dan Messi mengantarkan Barcelona menyapu bersih gelar.

Ditambah datangnya Luis Suarez, Neymar dan Messi membentuk salah satu trisula lini depan terbaik dunia yang pernah ada.

Trio Amerika Latin tersebut, Messi (Argentina), Neymar (Brasil) dan Suarez (Uruguay) tampil meyakinkan dengan membawa Barcelona merajai Liga Spanyol, Copa del Rey, dan Liga Champions pada musim 2014-15.

Neymar, selalu diisukan akan kembali ke Barcelona. (Tribunnews.com)

Namun, semenjak kepindahan Neymar, Barcelona belum pernah lagi menyentuh partai final Liga Champions.

Lionel Messi dan Luis Suarez pun belum menemukan kembali tandemnya yang cocok.

Philippe Coutinho, Ousmane Dembele hingga Antoine Griezmann gagal mengisi lubang yang ditinggalkan Neymar.

Tak heran, dalam beberapa musim terakhir, Barcelona selalu dihubung-hubungkan kembali dengan upaya mengembalikan Neymar ke Camp Nou.

Kebetulan, Messi sendiri ingin bermain lagi dengan Neymar. Mengingat kedekatan dua pemain ini, dengan Luis Suarez, tidak hanya terjalin di lapangan namun juga di luar lapangan.

Apa daya, manajemen Barcelona justru mendatangkan Antoine Griezmann di awal musim 2019-20 ini.

Selain tidak cocok dengan gaya bermain Barcelona yang cenderung mengandalkan satu penyerang ditengah, Griezmann juga tajam di tim yang mengandalkan pendekatan sepak bola pragmatis, seperti Atletico Madrid atau timnas Prancis 2018.

Sepak bola dengan bola-bola langsung kedepan, disitulah Griezmann mampu unjuk diri dengan kecepatan dan ketajaman di mulut gawang.

Hal ini pun terbukti di Barcelona.

Griezmann kesulitan menyatu dengan tim dan lebih parahnya, dia "diasingkan" oleh Lionel Messi karena memang sejak awal tidak suka dengan kedatangan bekas pemain Real Sociedad tersebut.

Lebih memilih Griezmann dan bukannya membawa kembali Neymar inilah salah satu faktor yang ikut memperkeruh hubungan Messi dengan manajemen Barcelona yang dipimpin Josep Maria Bartomeu sejak awal musim.

Masalah-masalah di Barcelona

Barcelona musim 2019-20 ini benar-benar hancur.

Musim 2019-20, Barcelona tak mampu meraih satu gelar pun dari Liga Spanyol, Copa del Rey, Liga Champions dan bahkan Piala Super Spanyol.

Ternyata, Barcelona memiliki berbagai masalah penting dibalik kegagalan mereka pada musim 2019-20.

Pergantian pelatih, konflik antar petinggi klub dan pola perekrutan pemain "asal comot" dinilai menjadi faktor kenapa performa Barcelona di rumput hijau begitu labil.

Pertama, terkait perpindahan kursi pelatih dari Ernesto Valverde ke Quique Setien.

Sebelumnya, beberapa pemain senior Barcelona tetap mendukung keberadaan Valverde di klub berjuluk Azulgrana tersebut. Namun, tuntutan kuat dari pada pendukung dan hasil buruk membuat Valverde pun akhirnya dikenai godam pemecatan oleh manajemen.

Quique Setien masuk, harapan baru muncul.

Terlebih, eks pelatih Real Betis itu dikenal suka menerapkan sepak bola yang dominan menguasai bola.

Hal ini tentu linier dengan tuntutan para pendukung yang meminta timnya bermain layaknya era Johan Cruyff, Frank Rijkaard atau Pep Guardiola.

Baca: Dirumorkan ke Barcelona, Berikut Ini 3 Klub Eropa yang Pernah Berniat Pasangkan Ronaldo dan Messi

Baca: Selain ke PSG, Cristiano Ronaldo Ditawarkan ke Barcelona oleh Juventus: Potensi Duet dengan Messi?

Namun, jauh panggang dari api, Setien meski sukses membuat Barcelona kembali rutin "menguasai bola", mereka teta[ keropos di lini pertahahan dan terlalu mengandalkan Messi di lini depan. 

Setien pun kabarnya akan dipecat pada Senin (17/8/2020) ini oleh manajemen Barcelona.

Para pemain Barcelona di musim 2019-20. (Squawka)

Lalu, problem kedua terkait konflik petinggi klub yang dipimpin oleh Josep Maria Bartomeu cs, dugaan penggunaan buzzer sosial media untuk menyerang citra Messi, Busquets, Pique dan para pemain senior hingga konflik direktur olahraga, Eric Abidal vs Messi.

Selanjutnya, tentu perekrutan pemain secara asal-asalan.

Pertengahan musim 2019-20 lalu, Barcelona merekrut penyerang medioker, Martin Braithwaithe dari Leganes, alih-alih membeli penyerang top atau menggunakan jasa didikan akademi sendiri.

Namun, sekalinya merekrut pemain top seperti Antoine Griezmann, Barcelona pun seolah-olah menyia-nyiakan bakat peraih juara Piala Dunia 2018 bersama Prancis itu dengan membangku cadangkannya.

Baca: Terjerat Kasus Sengketa Transfer, Antoine Griezmann Bisa Dilarang Perkuat Barcelona di Liga Spanyol

Baca: Takut Tertular Covid-19, Lionel Messi Gunakan Tempat Tidur Khusus Anti Virus Corona

Diluar itu, ternyata kedatangan Griezzman tak direstui Messi dan hal ini pun menjadi masalah tersendiri di Barcelona karena pengaruh sang kapten yang keterlaluan.

Messi kini disebut mendikte Barcelona mulai dari penentuan pelatih, gaya atau cara bermain tim hingga menyetujui/tidak menyetujui ketika seorang pemain hendak direkrut klubnya.

Peran dan pengaruh terlalu besar dari Messi ini pun secara tidak langsung, berdampak pada situasi Barcelona saat ini.

Semua akumulasi masalah ini pun tertuang pada laga perempat final kontra Bayern Muenchen.

Direktur olahraga Barcelona, Eric Abidal dan kapten tim, Lionel Messi. Berkonfilk. (AFP)

Barcelona mengalami kekalahan sangat memalukan dari Bayern Muenchen dengan skor 2-8 dalam laga perempat final Liga Champions di Estadio Da Luz, Portugal, Jumat (14/8/2020) atau Sabtu dini hari WIB lalu.

Barcelona gagal meraih satu pun gelar di semua ajang yang mereka ikuti.

Di Liga Spanyol, The Catalans disalip Real Madrid hingga menuntaskan kejuaraan sebagai runner-up.

Di Copa del Rey, Barca cuma sampai perempat final karena disingkirkan Athletic Bilbao secara menyakitkan akibat gol bunuh diri menit-menit terakhir.

Di Piala Super Spanyol, comeback brilian Atletico Madrid, juga di menit-menit terakhir, mengirim skuad Blaugrana pulang lebih awal pada semifinal.

Puncaknya, dalam ajang yang diharapkan menghasilkan gelar terakhir musim ini, Liga Champions, anak asuh Quique Setien dipermak Bayern dengan margin 6 gol.

Musim penuh gejolak dan bencana bagi Barca disertai momen pergantian pelatih dan sejumlah konflik di jajaran manajemen.

Efeknya bagi Messi, kiprah musim ini menjadi periode terburuknya semenjak memperkuat tim utama Barca.

Baca Juga: Dibantai Bayern Muenchen 8-2, Rio Ferdinand Klaim Lionel Messi Pertimbangkan Pergi dari Barcelona

Kali terakhir Messi melalui perjalanan semusim tanpa satu pun trofi adalah pada 2007-2008.

Kala itu, Messi baru berusia 20-21 tahun dan masih memakai nomor punggung 19 karena angka 10 dikenakan playmaker legendaris, Ronaldinho.

Ronaldinho, pernah berjaya bersama Barcelona. (Instagram @ronaldinho)

Kendati begitu, bisa dibilang musim 2007-2008 pun lebih baik untuk Barca dibandingkan musim ini.

Tim asuhan Frank Rijkaard memang finis di peringkat ketiga klasemen Liga Spanyol, segaris di bawah pencapaian musim ini.

Namun, mereka mencapai tahap lebih jauh di Copa del Rey (semifinal) dan Liga Champions (semifinal).

Musim tersebut akhirnya menjadi pemicu revolusi besar-besaran di Barca.

Itulah akhir penanda era Rijkaard, juga sederet jagoan klub seperti Ronaldinho dan Deco.

Baca: Diego Jr Sebut Maradona Dewa Sepak Bola, Messi Juga Hebat tapi Masih dari Kalangan Manusia

Baca: Lionel Messi Patah Hati dan Curhat Alasan Barcelona Tampil Buruk hingga Kalah Bersaing dengan Madrid 

Secara berani, manajemen Barca mempromosikan Pep Guardiola sebagai pelatih tim utama, merekrut Gerard Pique, mencomot Sergio Busquets dari Barca B, dan memberikan nomor 10 kepada Messi.

Hasilnya adalah sejarah yang menjelaskan.

Guardiola memberi treble winners di musim pertamanya yang membuka era baru kejayaan Barcelona.

Apakah revolusi serupa bakal dilakukan Barcelona musim depan?

"Apakah ini akhir sebuah era? Saya tidak tahu. Pastinya, kami tahu bahwa tim ini sedang berada di titik terendah," ucap Pique, mengutip dari situs UEFA via Bolasport.com.

(Tribunnewswiki.com/Ris)



Penulis: Haris Chaebar
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
BERITA TERKAIT

Berita Populer