Hantaman masalah dari berbagai lini menerjang Amerika Serikat.
Mulai dari Covid-19, isu rasialisme aparat, hingga persoalan ekonomi membelenggu Amerika Serikat sepanjang tahun 2020.
Selain itu Amerika Serikat juga berseteru dengan China semenjak era Presiden Donald Trump, terkait perang dagang.
Rupanya, kondisi yang demikian di negeri Paman Sam tersebut membuat beberapa warganya mengundurkan diri status kewarganegaraan.
Menurut survei data pemerintah baru-baru ini, 5.816 orang Amerika mencabut kewarganegaraan mereka dalam enam bulan pertama tahun 2020.
Baca: Rutin Jadi Korban Bully Kebijakan Presiden Donald Trump, TikTok Mulai Serang Balik Amerika Serikat
Angka itu meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dari enam bulan terakhir tahun 2019, ketika 444 warga negara menyerahkan paspor mereka.
Fortune memberitakan, lonjakan pengunduran diri kewarganegaraan selama paruh pertama tahun 2020 juga memecahkan rekor yang terjadi pada tahun 2016 ketika 5.409 orang Amerika menyerahkan kewarganegaraan mereka selama tahun itu.
Angka itu juga sudah melampaui rekor tingkat pembatalan yang terjadi pada tahun 2016 ketika 5.409 orang di Amerika Serikat menyerahkan paspor mereka.
Data baru yang dihimpun oleh Bambridge Accountants dan diambil dari Federal Register menunjukkan, tidak ada alasan mengapa mantan warga negara AS menyerahkan paspornya.
Baca: Satu Perwira Positif Covid-19, Latihan Militer Gabungan Korsel dan Amerika Serikat Ditunda Sementara
Namun berdasarkan tahun-tahun sebelumnya, aturan pajak federal kemungkinan besar menjadi alasan mengapa banyak terjadi pelepasan kewarganegaraan.
Tidak seperti negara lain, AS memungut pajak berdasarkan kewarganegaraan, bukan tempat tinggal.
Ini berarti banyak orang Amerika di luar negeri terpaksa mengajukan ke IRS (dan dalam beberapa kasus membayar pajak) bahkan jika mereka tidak tinggal di Amerika Serikat selama bertahun-tahun.
Namun, beban tersebut tidak berbeda dengan apa yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Fortune melansir, hal ini menunjukkan bahwa lonjakan jumlah warga yang melepas kewarganegaraan AS baru-baru ini disebabkan oleh alasan lain, seperti pandemi atau kekacauan politik.
Baca: Ikuti Langkah Amerika Serikat, Negara Uni Eropa Mulai Investigasi Data TikTok
Bagi mereka yang menyerahkan kewarganegaraan AS mereka demi paspor negara lain, prosesnya tidak sederhana atau murah.
Untuk memutuskan hubungan kewarganegaraan dengan Amerika serikat, calon ekspatriat harus membayar biaya seharga US$ 2.350 atau sekitar 34 juta rupiah untuk kurs saat ini.
Dan seperti yang dilaporkan Fortune sebelumnya, warga Amerika juga harus membayar kembali pajak yang harus mereka bayar kepada IRS sebelum mereka dapat melepaskan kewarganegaraan mereka.
Memasuki tahapan jelang Pemilu Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS), petahana Donald Trump disibukkan dengan berbagai masalah.
Baca: Siap Diblokir Donald Trump di Amerika Serikat, Ini Pernyataan TikTok
Selain digempur persoalan Covid-19 yang merupakan pandemi dunia hingga menginfeksi jutaan warganya, Trump juga disandung beberapa masalah lain.
Kondisi ekonomi yang tak baik dan tentuu gejolak konflik sosial sedang panas-panasnya di Amerika Serikat.
Saat ini, demonstrasi menentang rasisme dan solidaritas untuk George Floyd masih berlangsung di negeri Paman Sam tersebut.
Padahal, Pemilu Presiden Amerika Serikat akan digelar pada 19 September 2020. Kurang lebih dua bulan lagi.
Namun,menurut beberapa amatan dari jajak publik terkait elektabilitas, tanda-tanda kekalahan Presiden Donald Trump sudah mulai terlihat.
Dengan adanya hal ini, Donald Trump mau tak mau semakin gencar dan masif menjalankan berbagai upaya dan kampanye demi menjaga elektabilitasnya untuk Pilpres didepan mata.
Baca: Dikenal Keras Kepala, Donald Trump Akhirnya Luluh: Saya Akan Pakai Masker dengan Senang Hati
Donald Trump diketahui saat ini sudah habiskan dana kampanye lebih dari 50 juta dollar AS (Rp 736,3 miliar) pada Juni.
Trump gelontorkan dana kampanye lebih dari 41 juta dollar AS (Rp 604,1 miliar) yang dihabiskan untuk iklan di jaringan televisi, digital, dan lainnya.
Baca: Meski Terlibat Ketegangan Militer, Donald Trump Mau Bekerja Sama dengan China Demi Vaksin Covid-19
Namun, dana kampanye itu tidak menghasilkan perolehan suara yang sepadan bagi Donald Trump, setidaknya dari survei.
Jumlah pengeluaran dana kampanye Donald Trump pada Juni tersebut 2 kali lipat dari jumlah pengeluaran yang dihabiskan pada bulan-bulan sebelumnya.
Jumlah pengeluaran dana kampanye Trump juga lebih besar dari pesaingnya.
Melansir dari pemberitaan Reuters pada Selasa (21/7/2020), lawan Trump dari Partai Demokrat dalam pilpres nanti, Joe Biden, disebut menghabiskan dana kampanye lebih rendah, hanya sekitar 37 juta dollar AS (Rp 545,6 miliar).
Pengeluaran kampanye Biden secara dramatis meningkatkan untuk iklan digital pada Juni menjadi hampir 17 juta dollar AS (Rp 250,4 miliar) dari sebelumnya sekitar 175.000 dollar AS (Rp 2,6 miliar) pada bulan sebelumnya.
Namun, Biden bisa mendapat suara dan dukungan lebih besar.
Dalam kampanye penggalangan dana pada Juni, Biden dapat mengumpulkan dana sebesar 63,4 juta dollar AS (Rp 934,9 miliar), lebih besar dari Trump yang hanya sebesar 55,2 juta dollar AS (Rp 813,4 miliar).
Dalam jajak pendapat publik menunjukkan Biden secara signifikan memimpin suara pemilih.
Biden unggul dengan perolehan suara dari pemilih yang menyatakan kecewa atas penanganan Trump terhadap pandemi virus corona serta pemilih yang protes atas ketidakadilan rasial.
Materi muatan iklan kampanye Trump tak hanya soal janji politiknya, namun juga menyerang personal Joe Biden yang dianggap capres lebih tua dari usianya, yaitu 77 tahun, dan isu hubungan Biden dengan China.
Namun, iklan kampanye Trump tersebut ternyata tidak mengurangi suara pemilih untuk Biden.
Bahkan ketika Trump meningkatkan dana kampanyenya, Biden unggul dari Trump di antara suara pemilih yang terdaftar dengan 10 poin persentase dalam jajak pendapat yang diadakan Reuters/Ipsos pada 14-15 Juli.
Baca: Linkin Park Angkat Bicara soal Lagunya yang Dipakai di Video Kampanye Trump: Kami Tidak Mendukungnya
Baca: Di Tengah Lonjakan Jumlah Pasien, Donald Trump Dikabarkan Berupaya Memblok Dana Tes Covid-19
Juru bicara kampanye presiden 2012 Mitt Romney dari Partai Republik, Kevin Madden, mengatakan iklan raksasa Trump mengalami kesulitan menerobos suara pemilih.
"Iklan TV memiliki efek minim pada kompetisi pemilihan presiden sekarang," kata Madden.
Madden melanjutkan bahwa tidak banyak iklan yang akan mengubah persepsi pemilih ketika calon presiden petahana mengalami krisis ekonomi yang terikat pada krisis kesehatan yang berdampak pada kehidupan orang setiap hari.
Sebagian artikel tayang di Kontan.co.id berjudul Rekor! 5.816 Warga AS cabut kewarganegaran di paruh pertama 2020, ada apa?