Khawatir Monopoli oleh Negara Besar, WHO Minta Tidak Ada 'Nasionalisme' Penemuan Vaksin Covid-19

Penulis: Haris Chaebar
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom. WHO meminta negara-negara besar untuk tidak memonopoli vaksin Covid-19 agar penularan di dunia bisa dibendung.

Namun, "tidak akan jaminan salah satu dari keenam (calon vaksin) ini akan memberi kami jawabannya - dan kami mungkin akan membutuhkan lebih dari satu vaksin dalam pekerjaan ini," lanjutnya dikutip dari AFP.

Tantangan kedepan

Gambar selebaran yang dikeluarkan oleh kantor pers Pemerintah Negara Bagian Sao Paulo memperlihatkan Gubernur Negara Bagian Sao Paulo Joao Doria memegang vaksin COVID-19 selama tahap uji coba vaksin yang diproduksi oleh perusahaan China Sinovac Biotech di Rumah Sakit das Clinicas (HC) di negara bagian Sao Paulo , Brasil, pada 21 Juli 2020. Uji coba vaksin akan dilakukan di Brasil dalam kemitraan dengan Brasil Research Institute Butanta. Handout / Pemerintah Negara Bagian Sao Paulo / AFP (AFP)

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebutkan, 300.000 orang di Amerika bisa meninggal pada Desember jika para pemimpin kota besar gagal mempromosikan tindakan lebih lanjut seperti mengenakan masker.

Selain itu, sebuah tim di Universitas Washington mengatakan 70.000 nyawa bisa diselamatkan jika lebih banyak orang memakai masker selama pandemi.

"Kami melihat rollercoaster di AS."

"Tampaknya orang-orang memakai masker dan menjaga jarak secara sosial lebih sering saat infeksi meningkat, kemudian setelah beberapa saat ketika infeksi menurun, orang-orang menjadi lengah," ujar Direktur Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan (IHME), Dr Christopher J.L Murray.

Baca: WHO Sebut Vaksinasi Covid-19 Belum Bisa Dilakukan Awal 2021

Baca: Ini Alasan Vaksin Covid-19 Buatan Sinovac dari China Diuji Klinis Fase 3 di Indonesia

Sejauh ini, lebih dari 159.000 orang dilaporkan meninggal di AS akibat Covid-19, tetapi kasus harian baru telah menurun dalam beberapa pekan terakhir.

IHME menyampaikan, infeksi jatuh di bekas pusat gempa seperti Arizona, California, Florida, dan Texas, meskipun ada peningkatan di Colorado, Idaho, Kansas, Kentucky, Mississippi, Missouri, Ohio, Oklahoma, Oregon, dan Virginia.

Tak hanya itu, lebih dari 1 juta orang Afrika telah terinfeksi dengan jutaan virus yang terus menyebar ke seluruh benua. Di Afrika Selatan, infeksi yang dilaporkan telah melebihi 529.000 kasus.

(Tribunnewswiki.com/Ris)

Sebagian artikel tayang di Kompas.com berjudul Saat WHO Peringatkan tentang Bahaya "Nasionalisme Vaksin"....



Penulis: Haris Chaebar
Editor: Melia Istighfaroh

Berita Populer