Presiden Prancis Tiba di Beirut, Emmanuel Macron: 'Lebanon Tidak Sendiri'

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

FOTO: Sebuah tangkapan layar rekaman video menunjukkan Presiden Prancis Emmmanuel Macron (tengah) sedang memeriksa kerusakan di pelabuhan ibu kota Lebanon, Beirut, pada 6 Agustus 2020, di mana ledakan besar menewaskan lebih dari 100 orang dan menghancurkan kota.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Prancis Emmanuel Macron telah tiba di Beirut, Lebanon, Kamis (6/8/2020).

Macron merupakan pemimpin dunia pertama yang berada di Beirut setelah terjadinya ledakan di pelabuhan Lebanon.

Kedatangan Presiden berumur 42 tahun ini mendapat sorotan dari sejumlah media.

Anak fisikawan Françoise Macron ini tiba menggunakan pesawat kenegaraan dan disambut Presiden Lebanon, Michel Aoun.

Ia kemudian langsung menuju ke pelabuhan tempat terjadinya ledakan.

Di sana, alumnus jurusan filsafat di Paris Nanterre University ini mengecek kerusakan dan regu penyelamat kerjasama Lebanon dan Prancis.

Baca: Prancis Beri Bantuan, Presiden Emmanuel Macron Dijadwalkan Tiba di Beirut Lebanon

FOTO: Sebuah tangkapan layar dari rekaman video menunjukkan Presiden Prancis Emmmanuel Macron (kiri) berbicara dengan anggota tim penyelamat Prancis untuk mendukung upaya bantuan di pelabuhan ibu kota Lebanon, Beirut, pada 6 Agustus 2020, di mana ledakan besar menewaskan lebih dari 100 orang dan menghancurkan bangunan kota. (POOL / AFP) Berbicara kepada media setelah kedatangannya, Macron mengatakan berharap bisa membawa pesan dukungan dan persahabatan kepada rakyat Lebanon.

"Lebanon sedang menghadapi krisis politik dan ekonomi dan perlu respons segera," katanya.

Lebih jauh lagi, Macron menyatakan akan membantu koordinasi bantuan negara-negara Eropa dan Internasional untuk Lebanon dalam beberapa hari ke depan.

Pria yang menikahi guru SMAnya, Brigitte Trogneux ini menyerukan elit politik Lebanon segera mereformasi negara bekas koloninya ini.

"Jika reformasi tidak dilakukan, Lebanon akan terus menderita," katanya.

Baca: Lebanon Berduka, Update Ledakan di Pelabuhan: 137 Tewas, 5000 Lebih Terluka

FOTO: Diambil pada 16 Juni 2020, Presiden Prancis Emmanuel Macron, mengenakan masker, mengunjungi laboratorium pengembangan industri di pabrik vaksin pembuat obat Sanofi Pasteur di Marcy-l'Etoile, dekat Lyon, pada 16 Juni 2020. (GONZALO FUENTES / POOL / AFP)

Kunjungan Macron ke Lebanon dijadwalkan akan bertemu dengan sejumlah pimpinan politik, termasuk PM Hassan Diab.

Lebih jauh lagi, Macron akan bertemu dengan anggota dari sejumlah fraksi politik dan beberapa warga lokal Lebanon.

Pantauan Tribunnewswiki.com, Kamis (6/8/2020), Macron mengeluarkan pernyataan di Twitter menggunakan bahasa Arab.

Melalui akun @EmmanuelMacron, tertulis, "Lebanon Tidak Sendiri".

Kepopuleran Prancis di Lebanon

Sebagai informasi, Lebanon merupakan negara bekas koloni Prancis.

Baca: Presiden Prancis Emmanuel Macron Minta PM Israel Benjamin Netanyahu Tahan Aneksasi Tepi Barat

Emmanuel Macron (Kolase foto (Wikimedia dan Twitter: @emmanuelmacron))

Diketahui sejumlah warga diaspora Lebanon-Prancis berkumpul di sejumlah sudut tempat untuk menggelar duka cita bersama.

"Prancis begitu populer di sini di Lebanon. Ada sejarah panjang tentang hubungan keduanya," lapor Reporter France 24, Leila Molana-Allen.

Baca: Aksi Pencopotan Foto Presiden Prancis Emmanuel Macron Dibawa ke Pengadilan. Sejauh Mana Hukumnya?

Lebanon Berduka 

Lebanon sedang dirundung duka setelah ledakan kuat menghantam negaranya yang sedang krisis ekonomi.

Ledakan yang meratakan sebagian pelabuhan Beirut ini juga ikut merusak tatanan kotanya.

Para petugas berwajib beserta regu penyelamat masih terus melanjutkan pencarian korban.

Setidaknya 137 orang tewas dan melukai lebih dari 5000 jiwa lainnya.

Banyak warga Lebanon kehilangan pekerjaan.

Mereka menyalahkan para politisi yang dianggap mendapat manfaat dari korupsi selama beberapa dekade dalam pemerintahan.

Baca: Viral Video Pengantin Lakukan Foto Nikah saat Ledakan di Beirut Lebanon, Berlarian Selamatkan Diri

Kumpulan pria yang sedang menandu korban akibat Ledakan di Beirut, Lebanon, Selasa (4/8/2020). (ANWAR AMRO / AFP)

"Mereka akan mengkambinghitamkan siapa saja untuk bertanggung jawab atas insiden ini," kata Rabee Azar (33), seorang pekerja konstruksi yang datang ke pelabuhan Kamis pagi, dilansir Reuters, Kamis (/8/2020).

"Ledakan ini merupakan peluru terakhir bagi negara," tambahnya.

"Tidak mungkin ada hasil investigasi, toh tak ada yang mempercayai mereka (otoritas Lebanon), "terang Azar dengan nada pesimis yang sedang berbicara di dekat sisa gudang hancur tempat berton-ton gandum berserakan di tanah.

Berkabung

PM Lebanon, Hassan Diab menyebut negaranya akan berkabung selama tiga hari, sejak Kamis (6/8).

Baca: Viral Video Pengantin Lakukan Foto Nikah saat Ledakan di Beirut Lebanon, Berlarian Selamatkan Diri

Sebuah gambar memperlihatkan tempat ledakan di dekat pelabuhan di ibukota Lebanon, Beirut, pada 4 Agustus 2020. Dua ledakan besar mengguncang ibukota Lebanon, Beirut, melukai puluhan orang, mengguncang gedung-gedung, dan mengirim asap besar mengepul ke langit. Media Libanon membawa gambar-gambar orang yang terperangkap di bawah puing-puing, beberapa berlumuran darah, setelah ledakan besar, yang penyebabnya tidak segera diketahui. (STR / AFP)

Otoritas setempat menyalahkan insiden ini terjadi akibat adanya timbunan besar bahan kimia yang disimpan dalam kondisi tidak layak selama bertahun-tahun di pelabuhan.

Menurut sumber dari internal kementerian, pemerintah meminta agar para petugas pelabuhan ditangkap.

Baca: Presiden Lebanon Tugaskan Komite Khusus untuk Selidiki Ledakan di Beirut, Siapkan Hukuman Maksimal

Orang-orang yang terluka digambarkan di luar sebuah rumah sakit setelah sebuah ledakan di ibukota Lebanon, Beirut pada 4 Agustus 2020. Dua ledakan besar mengguncang ibukota Lebanon, Beirut, melukai puluhan orang, mengguncang gedung-gedung dan mengirimkan asap besar mengepul ke langit. Media Libanon membawa gambar-gambar orang yang terperangkap di bawah puing-puing, beberapa berlumuran darah, setelah ledakan besar, yang penyebabnya tidak segera diketahui. (IBRAHIM AMRO / AFP)

Perkembangan terbaru ledakan di Lebanon, banyak korban yang belum ditemukan setelah insiden ini.

Seperempat juta orang tidak memiliki rumah yang layak ditinggali setelah gelombang ledakan menghancurkan bangunan, merusak bagian depan rumah, memecahkan jendela bermil-mil jauhnya.

Para pejabat setempat memperkirakan adanya peningkatan jumlah korban tewas, yang sampai saat ini masih dilakukan pencarian.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Melia Istighfaroh
BERITA TERKAIT

Berita Populer