AS Berikan Sanksi kepada XPCC, Organisasi Paramiliter di China, terkait Etnis Uighur

Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Foto yang diambil pada 31 Mei 2019 ini memperlihatkan sebuah menara kawal di fasilitas berkeamanan tinggi dekat tempat yang dipercaya sebagai kamp re-edukasi yang menahan minoritas Uighur. Fasilitas ini berada di pinggiran Hotan, Xinjiang barat laut, China. Amerika Serikat pada 31 Juli 2020 menjatuhkan sanksi kepada organisasi paramiliter Xinjiang Production and Construction Corps (XPCC) karena diduga memiliki kaitan dengan pelanggaran HAM terhadap muslim Uighur.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Amerika Serikat (AS) memperkuat tekanan ekonominya terhadap Provinsi Xinjiang di China pada Jumat (31/7/2020).

AS mengenakan sanksi kepada Xinjiang Production and Construction Corps (XPCC), organisasi ekonomi dan paramiliter di China, dan dua pejabat atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur dan etnis minoritas lainnya.

Dilansir dari Reuters, (1/8/2020), Departemen Keuangan AS menyatakan telah memasukkan XPCC bersama Sun Jinlong, mantan sekretaris partai XPCC, dan Peng Jiarui, wakil sekretaris partai dan komandan XPCC, ke dalam daftar hitam.

Mereka dimasukkkan ke daftar itu karena diduga memiliki kaitan dengan pelanggaran HAM serius terhadap etnis minoritas di Xinjiang.

"Pelanggaran HAM yang dilakukan Partai Komunis China di Xinjiang, China, terhadap Uighur dan minoritas Muslim lainnya, menodai abad ini," kata Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dalam sebuah pernyataan, dikutp dari Reuters.

Namun, China membantah adanya penganiayaan terhadap kelompok minoritas tersebut.

Baca: China Ikutkan Pesawat Pengebom Jarak Jauhnya dalam Latihan Udara di Laut China Selatan

 

Ilustrasi perseteruan antara Amerika Serikat dan China. (Kompas.com)

China mengatakan kamp-kamp yang menampung penduduk dari etnis Uighur memberikan pelatihan kejuruan dan hal itu dibutuhkan untuk memerangi ekstremisme.

Langkah yang diambil Washington ini membekukan semua aset perusahaan dan pejabat tersebut yang berada di AS.

Tindakan ini juga mencegah warga AS berurusan dengan mereka dan menghalangi Sun Jinlong dan Peng Jiarui pergi ke AS.

Baca: Ahli Sebut China Sengaja Reklarifikasi Area Navigasi untuk Tingkatkan Kontrol di Laut China Selatan

Seorang pejabat pemerintahan senior, secara anonim, menggambarkan perusahaan itu sebagai "organisasi paramiliter rahasia yang menjalankan berbagai fungsi di bawah kendali langsung" Partai Komunis China (CCP).

"Mereka terkait langsung dengan pelaksanaan pengawasan, penahanan, dan indoktrinasi komprehensif yang dilakukan CCP ... yang kami tahu menargetkan Uighur dan anggota etnis minoritas lainnya di Xinjiang," kata dia.

Washington baru-baru ini juga mengenakan sanksi terhadap Sekretaris Partai Komunis, Chen Quanguo, .

Anggota Politburo China dan sekretaris pertama XPCC itu, bersama pejabat lain dan Biro Keamanan Public Xinjiang masuk ke dalam daftar hitam.

Baca: Tuding Amerika Serikat Punya Niat Picu Perang Dingin, China: Kami Tak Tertarik

Peter Harrell, mantan pejabat dan ahli sanksi di Center for New American Security, mengatakan bahwa dari sudut pandang ekonomi, langkah yang diputuskan pada Jumat lalu merupakan "eskalasi penting" dari tekanan AS dan mengirim peringatan kepada perusahaan dan organisasi paramiliter itu atas aktivitasnya di China.

"Pemerintahan Trump akhirnya mengambil sanksi yang berpengaruh," kata Peter

Dilansir dari Foreignpolicy.com, XPCC atau dikenal sebagai Bingtuan di China, dibentuk oleh Ketua Partai Komunis, Mao Zedong, pada tahun 1954.

XPCC ditugaskan untuk menstabilkan wilayah Xinjiang yang bergejolak.

Misi lain dari XPCC adalah kemandirian.

Baca: Peneliti Sebut Hubungan China dan AS Tak Akan Pernah Dekat jika Tiongkok Semakin Maju

Warga China yang berada di sana tidak hanya ingin membuat pos-pos terdepan, tetapi juga pertanian dan kota-kota di wilayah yang pada tahun 1955 resmi bernama Wilayah Otonom Uighur Xinjiang.

Mereka membangun rumah sakit, sekolah, penjara, dan teater, dan pada dasarnya menjadi negara di dalam negara dengan struktur organisasi bergaya militer.

Media negara mengatakan pemerintahan pusat menginginkan XPCC untuk membangun lebih banyak kota sebagai bagian dari kampanye antiteror.

Beijing percaya bahwa urbanisasi dan pembangunan yang lebih banyak akan membantu menghilangkan konflik antara etnis muslim Uighur dan Han yang ada wilayah itu.

Baca: Ketegangan Diplomatik Meninggi, China dan Rusia Kompak Sebut AS sebagai Biang Kisruh di Negara Lain

Ekspansi XPXX, kata Pemerintah China, bertujuan untuk menenangkan etnis Uighur dengan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Ketika didirikan, XPCC mempunyai kekuatan sekitar 175.000 orang, terdiri dari mantan tentara nasionalis yang dipaksa bekerja oleh pemerintah komunis, atau parap pemuda di area pesisir yang diyakinkan untuk pergi ke barat sebagai bagian dari kewajiban revolusioner mereka.

Pada tahun 1998, XPCC diberikan status birokrasi yang setara dengan pemerintah regional Xinjiang.

Baca: Terapkan Kerja Paksa Terhadap Muslim Uighur, 11 Perusahaan China Masuk Daftar Hitam Amerika Serikat

XPCC juga sebuah milisi meskipuan tidak menggantikan Tentara Pembebasan Rakyat atau polisi lokal, keduanya masih aktif di sana,

Pemerintah China menyatakan XPCC "memainkan peran penting dalam melawan terorisme dan menjaga kestabilan".

Namun, XPCC secara bertahap telah berkembang menjadi perusahaan komersial utama.

Baca: China Bantah Laporan Investigasi Adanya Pemaksaan Aborsi dan Kontrasepsi Etnis Uighur di Xinjiang

XPCC saat ini adalah bisnis miliaran dolar dengan banyak anak perusahaan yang terdaftar dan mempunyai banyak sekali tenaga kerja.

Mayoritas tenaga kerjanya adalah etnis Han.

Produk domestik bruto (PDB) XPCC pada tahun 2013 mencapai $24 miliar, menyumbang lebih dari 17 persen total PDB Xinjiang.

Baca: China Paksa Muslim Uighur Aborsi dan Sterilisasi, Peneliti: Beijing Penuhi Satu Kriteria Genosida

(Tribunnewswiki/Tyo)



Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: haerahr
BERITA TERKAIT

Berita Populer