AS Mendakwa 2 Warga China Setelah Meretas Data Perusahaan Militer dan Penelitian Covid-19 Dunia

Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi perseteruan antara Amerika Serikat dan China. Ketegangan hubungan kini tajam setelah AS mendakwa 2 warga China yang dituding telah meretas data covid-19 dan data militer.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hubungan diplomatik antara dua negara besar, Amerika Serikat (AS) dan China, semakin memburuk.

Saling tuduh terkait dalang penyebaran pandemi Covid-19 dan perang dagang membuat hubungan dua negara ini selalu panas sepanjang berjalannya tahun 2020 ini.

Memburuknya relasi antara Amerika Serikat dan China kini semakin menjadi-jadi.

Kini diketahui Amerika Serikat memerintahkan China untuk segera menutup konsulatnya di Houston.

Peringatan itu diberikan di tengah tuduhan aksi mata-mata yang dilakukan China.

Ini menandakan kemunduran sangat dramatis dalam hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut

Baca: AS Tuding China Jadi Mata-Mata dan Curi Kekayaan Intelektual, Minta Tutup Konsulat di Houston

Baca: Terapkan Kerja Paksa Terhadap Muslim Uighur, 11 Perusahaan China Masuk Daftar Hitam Amerika Serikat

Ilustrasi hacker. (Pixabay)

Sebelumnya, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mendakwa dua warga negara China karena meretas kontraktor pertahanan, peneliti virus corona baru, dan perusahaan lain di seluruh dunia.

Dalam gugatan pengadilan pada Selasa (21/7/2020), otoritas AS mengatakan dua warga negara China yakni Li Xiaoyu dan Dong Jiazhi, berpartisipasi dalam kampanye cyberespionage multiyear yang mencuri desain senjata, informasi obat, kode sumber perangkat lunak, dan banyak lagi.

Mengutip pemberitaan Reuters, surat dakwaan tersebut menuduh, dua peretas asal China itu beroperasi sejak 2014 hingga 2020, dan yang terbaru mencoba mencuri penelitian kanker.

Kedutaan Besar China di Washington tidak segera menjawab pertanyaan dari Reuters.

Baca: AS Tuding China Jadi Mata-Mata dan Curi Kekayaan Intelektual, Minta Tutup Konsulat di Houston

Dakwaan itu tidak menyebutkan nama perusahaan tertentu, tetapi mengatakan Li dan Dong mencuri terabyte data dari komputer di seluruh dunia, termasuk AS, Inggris, Jerman, Australia dan Belgia.

Dokumen tersebut menuduh Li dan Dong bertindak sebagai kontraktor untuk Kementerian Keamanan China atau MSS, agen yang sebanding dengan Badan Intelijen Pusat AS (CIA). 

MSS, kata jaksa penuntut, memberikan informasi kepada para peretas ke dalam kerentanan perangkat lunak penting untuk menembus target dan mengumpulkan informasi intelijen. Di antara mereka yang menjadi sasaran adalah demonstran Hong Kong, kantor Dalai Lama, dan seorang Kristen non-profit China.

Asisten Jaksa Agung Keamanan Nasional John Demers mengatakan dalam konferensi pers virtual, para peretas kadang-kadang bekerja dengan akun mereka sendiri. Termasuk, sebuah kasus di mana Li diduga mencoba memeras US$ 15.000 dalam cryptocurrency dari seorang korban.

Baca: Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa Jegal Huawei, China Balas Dendam ke Nokia dan Sony Ericsson

Reuters melansir, Demers menyatakan, China telah bergabung dengan "klub memalukan bangsa-bangsa yang menyediakan tempat yang aman bagi penjahat siber", dengan imbalan layanan mereka mencuri kekayaan intelektual.

Perintah menutup Konsulat China di Houston

Situasi terkini, hubungan diplomatik antara Washington dan Beijing semakin memburuk,

Diketahui Washington memerintahkan Beijing untuk menutup konsulat mereka yang berada di Houston, paling lambat Jumat (24/7/2020).

Titah dari negeri Paman Sam tersebut disebut sebagai bentuk "provokasi politik" oleh Beijing.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan keputusan itu diambil karena China dituduh telah "mencuri" kekayaan intelektual dengan melakukan peretasan.

Kemenlu China mengecam langkah tersebut di Twitter, dengan menyebutkan kedutaan mereka di Washington DC telah menerima ancaman kematian.

Baca: Ini Alasan Vaksin Covid-19 Buatan Sinovac dari China Diuji Klinis Fase 3 di Indonesia

Baca: Jelang Pilpres dan Demi Perbaiki Citra Politik, Donald Trump Kini Wajibkan Masker untuk Warga AS

Sebelumnya, melalui rekaman video, beberapa individu tak dikenal tampak membakar kertas di keranjang sampah yang terletak lahan gedung konsulat China di Houston.

Ketegangan antara AS dan China sangat meningkat akhir-akhir ini.

Presiden AS Donald Trump duduk dengan tangan bersilang saat diskusi meja bundar tentang Pembukaan Kembali Sekolah-Sekolah Amerika yang Aman selama pandemi coronavirus, di Ruang Timur Gedung Putih pada 7 Juli 2020, di Washington, DC. (JIM WATSON / AFP)

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump berulang kali berseteru dengan Beijing mengenai masalah perdagangan dan pandemi virus corona, serta penerapan UU Keamanan Nasional di Hong Kong.

Kemudian, pada Selasa (21/7/2020), Departemen Kehakiman AS menuduh China mensponsori para peretas yang mengincar sejumlah laboratorium yang sedang mengembangkan vaksin Covid-19.

Dua warga negara China, yang dituduh memata-matai perusahaan riset AS dan dibantu agen pemerintah China, telah didakwa.

Menlu AS, Mike Pompeo mengatakan Partai Komunis China mencuri "tak hanya kekayaan intelektual Amerika, tetapi juga kekayaan intelektual Eropa yang menyebabkan ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan".

Baca: Dikenal Keras Kepala, Donald Trump Akhirnya Luluh: Saya Akan Pakai Masker dengan Senang Hati

Baca: Meski Terlibat Ketegangan Militer, Donald Trump Mau Bekerja Sama dengan China Demi Vaksin Covid-19

"Kami menggariskan ekspektasi bagaimana Partai Komunis China akan bersikap," kata Pompeo.

"Jika mereka tidak memenuhi [ekspektasi tersebut], kami akan mengambil tindakan untuk melindungi rakyat Amerika, melindungi keamanan kami, keamanan nasional kami, dan juga melindungi ekonomi serta pekerjaan kami," tambahnya.

Di seluruh AS, terdapat lima konsulat China dan satu kedutaan besar di Washington DC.

Belum jelas mengapa konsulat China di Houston yang diminta untuk tutup.

Dalam pernyataan terpisah, Deplu AS menuduh China melakukan "kegiatan mata-mata secara ilegal dan operasi pengaruh" yang mencampuri "politik domestik" serta "memaksa para pemimpin bisnis kami, mengancam keluarga-keluarga Amerika keturunan China yang bermukim di China, dan lainnya".

Respons China

Dalam serangkaian cuitan, juru bicara Kemenlu China, Hua Chunying, memaparkan bahwa alasan-alasan yang disampaikan AS terkait penutupan konsulat di Houston "luar biasa mengada-ada".

Dia mendesak AS mengubah "keputusan salah" tersebut, atau China akan "bertindak dengan balasan yang tegas".

"Ketika para diplomat China mengusung pemahaman antar dua belah pihak serta persahabatan, kedutaan AS di China menyerang sistem politik China di depan umum," ujarnya.

"Akibat penodaan dan kebencian yang ditiupkan pemerintah AS, kedutaan China telah menerima ancaman bom dan kematian."

Para pejabat China mengatakan AS mempunyai lebih banyak staf pada perwakilannya di China, ketimbang staf perwakilan China di AS.

Kemenlu China telah mengunggah peringatan kepada segenap mahasiswanya di AS, meminta mereka untuk "waspada" selagi "badan-badan penegak hukum AS meningkatkan interogasi secara acak, perundungan, penyitaan barang-barang pribadi, dan penahanan yang mengincar mahasiswa China di AS".

Presiden China, Xi Jinping. (AFP)

Media pemerintah China, Global Times, membuat jajak pendapat konsulat AS mana yang sebaiknya ditutup sebagai balasan atas tindakan Washington.

Tanda-tanda awal ada sesuatu yang tidak biasa di konsulat China di Houston mengemuka pada Selasa (21/7/2020), ketika orang-orang di seberang konsulat melihat api di sejumlah keranjang sampah.

Tayangan rekaman video memperlihatkan beberapa orang melemparkan yang terlihat seperti kertas ke dalam keranjang sampah.

Tidak diketahui siapa mereka.

Orang-orang tersebut kemudian terlihat menuang air ke dalam keranjang sampah itu. Layanan darurat kemudian dipanggil ke gedung konsulat pada Selasa (21/7/2020) malam.

Namun, kepolisian Houston mengatakan di Twitter bahwa anggota mereka "tidak diberi akses memasuki gedung" namun mereka melihat asap. Juru bicara pemerintah China, Wang Wenbin, tidak secara langsung menanggapi api di lahan konsulat.

Dia hanya mengatakan konsulat di Houston beroperasi secara normal.

 

(Tribunnewswiki.com/Ris)

Artikel ini sebagian sudah tayang di Kontan.co.id dengan judul Retas kontraktor pertahanan dan peneliti corona, AS dakwa dua warga China.



Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr
BERITA TERKAIT

Berita Populer