Kunjungan ini merupakan perjalanan luar negeri pertamanya sejak menjabat pada Mei 2020.
Selain dijamu oleh Presiden Iran, Hassan Rouhani, mantan Menteri Luar Negeri Irak ini dilaporkan akan mengadakan pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebelumnya, agenda al-Kadhimi dijadwalkan ke Arab Saudi untuk bertemu Raja Salman bin Abdulaziz.
Namun, kondisi Raja Arab Saudi yang tidak begitu baik akibat penyakit radang kantung empedu, membuat perjalanan ditunda.
Sebelum kunjungan ini, Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif mengunjungi Baghdad, Minggu (19/7/2020).
Baca: Mengenal Mustafa al-Kadhimi, dari Seorang Jurnalis, Kepala Intelijen, hingga Perdana Menteri Irak
Javad Zarif sempat pergi ke lokasi tewasnya dua pimpinan militer Iran, Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis.
Tindakan Javad Zarif ini disorot sejumlah media semakin memperkeruh konflik AS-Iran.
Diwartakan Jerussalem Post, Selasa (21/7), Irak sedang berada dalam kondisi yang rumit di tengah konflik Iran dan Amerika Serikat.
Sebagian wilayah Irak diketahui ikut terdampak konflik antar-dua negara tersebut selama setahun terakhir.
Mustafa al-Kadhimi sendiri sedang banyak tekanan dari sebagian besar partai/kelompok yang berpihak pada Iran dan aliansi paramiliternya.
Baca: Iran Eksekusi Mati Seorang Terpidana karena Konsumsi Miras
Ia seringkali dianggap berpihak ke Amerika Serikat lantaran ada anggapan dirinya bakal mengekang kekuatan milisi dan kelompok politik yang mendukung Iran.
Dalam dua bulan pertamanya bekerja sebagai PM, pasukan keamanan Irak sempat menangkap milisi yang mendukung Iran.
Namun, sebagian besar dari mereka yang ditahan telah dibebaskan dengan cepat.
Baca: Pemimpin Hamas, Khaled Mashal: Malaysia Tegas dalam Konflik Palestina-Israel di Kancah Internasional
Amerika Serikat memuji langkah al-Kadhimi ini, termasuk diangkatnya kembali Kepala Layanan Anti-Terorisme Irak, Abdul Wahhab al-Saidi.
Sebagai informasi, pemecatan al-Saidi di bawah kekuasaan Irak sebelumnya sempat memicu kerusuhan anti-pemerintah.