Inggris, AS, dan Kanada Tuduh Rusia Berusaha Mencuri Data Vaksin Covid-19

Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada menuding pemerintah Rusia terlibat dalam serangan-serangan para hacker yang berusaha mencuri data vaksin Covid-19. Foto: Tenaga medis (kanan) mengambil sampel darah Profesor Francois Venter (kiri) sebelum pria itu menerima vaksin Covid-19 eksperimental di Unit Penelitian Patogen Meningeal dan Pernapasan (RMPRU) di RS Chris Hani Baragwanath Hospital, Soweto, Afrika Selatan, Selasa (14/7/2020).

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) pada Kamis (16/7/2020) mengatakan para hacker yang didukung pemerintah Rusia berusaha mencuri data vaksin Covid-19.

Tidak hanya itu, kata NCSC, mereka juga mencuri hasil riset pengobatan Covid-19 dari institusi farmasi dan akademik di seluruh dunia.

Dilansir dari Reuters (17/7/2020), Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada menyatakan serangan siber itu berasal dari kelompok APT29 yang dikenal sebagai "Cozy Bear".

Ketiganya meyakini operasi kelompok itu merupakan bagian dari aktivitas intelejen Rusia.

Direktur Operasi NCSC, Paul Chichester, mengutuk serangan para hacker tersebut.

"Kami mengutuk serangan keji ini, serangan kepada mereka yang melakukan pekerjaan penting untuk melawan pandemi virus," kata Chichester seperti dikutip dari Reuters.

Baca: Ujicoba Vaksin Covid-19 di Maryland, AS Bereaksi Positif setelah Disuntikkan ke Seorang Pria

Baca: Calon Vaksin Covid-19 Buatan CanSino dari China Direncanakan Diuji Coba Fase Ketiga di Luar Negeri

Hasil studi awal para ilmuwan Kings's College di Inggris menunjukkan kekebalan yang dimiliki pasien sembuh dari Covid-19 hanya bertahan beberapa bulan. Foto: Perusahaan farmasi Zydus Cadila pada 3 Juli 2020 merilis foto seorang pekerja farmasi yang memperlihatkan vaksin yang dikembangkan perusahaan itu untuk mencegah infeksi virus corona. (HANDOUT / ZYDUS CADILA / AFP)

Kantor berita Rusia, RIA, mengabarkan bahwa Rusia, melalui juru bicara Dmitry Peskov, menolak tudingan Inggris itu.

Tudingan itu, kata Peskov, tidak didukung oleh bukti yang layak.

Rusia dituduh egois

Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, mengatakan aksi intelejen Rusia yang menggunakan hasil kerja penanganan pandemi sebagai targetnya "benar-benar tidak dapat diterima"

"Saat yang lain mengejar kepentingan pribadinya dengan perilaku sembrono, Inggris dan sekutunya meneruskan kerja kerasnya menemukan vaksin dan melindungi kesehatan global," kata Raab.

Baca: Berada di Lift Hanya Selama 30 Detik, Wanita di China Tularkan Virus Corona ke 71 Orang

NCSC mengatakan serangan APT29 masih berlanjut dan menggunakan berbagai peralatan dan teknik, termasuk spear-phising dan custom malware.

Selain itu, NCSC menyatakan APT29 terus menargetkan organisasi yang terlibat dalam pengembangan dan riset vaksin Covid-19.

Sementara itu, pihak berwenang Kanada mengatakan serangan-serangan tersebut menghalangi upaya tanggap dan dengan demikian risiko dalam organisasi kesehatan meningkat.

Baca: Calon Vaksin Virus Corona Buatan Moderna Asal AS Memasuki Fase Uji Coba Ketiga pada Juli Ini

Sebelumnya, pada bulan Mei, Inggris dan Amerika Serikat mengatakan bahwa jaringan peretas menargetkan organisasi nasional dan internasional yang merespons pandemi virus corona.

Namun, serangan-serangan seperti itu belum secara tegas dihubungkan ke pemerintah Rusia.

Calon Vaksin Covid-19 Buatan CanSino Akan Diuji Coba Fase Ketiga di Luar Negeri

Salah satu pendiri perusahaan vaksin CanSino Biologics asal China mengatakan pada Sabtu (11/7/2020) bahwa perusahaannya berniat melakukan uji coba fase ketiga dari calon vaksin Covid-19 buatannya di luar negeri.

CanSino saat ini sedang membicarakan uji coba tersebut dengan Rusia, Brasil, Chile, dan Arab Saudi.

Baca: Demi Cegah Covid-19, Pekerja Seks Komersial di Bolivia Pakai Jas Hujan Transparan saat Bekerja

Dilansir dari Reuters (11/7/2020), kesuksesan China menangani Covid-19 justru menimbulkan kesusahan dalam hal pengujian vaksin virus corona berskala besar.

Sampai saat ini juga hanya ada beberapa negara yang setuju bekerja sama dalam proses pengujian itu.

"Kita sedang menghubungi Rusia, Brasil, Chile, dan Arab Saudi (untuk fase uji coba ketiga) dan masih dalam pembicaraan," kata Quu Dongxu, direktur eksekutif dan salah satu pendiri CanSino, dalam konferensi di Suzhou, China bagian timur, dikutip dari Reuters.

Dia mengatakan fase uji coba ketiga kemungkinan besar akan segera dimulai.

Baca: Virus Corona Bisa Bertahan 8 Jam di Udara, Masyarakat Diimbau Tak Berbicara Terlalu Keras

Ilustrasi vaksin virus corona (Fresh Daily)

Untuk proses itu, CanSino akan merekrut 40.000 peserta yang bakal dites.

Calon vaksin buatan CanSino, Ad5-nCov, menjadi vaksin pertama di China yang diuji coba ke manusia, yakni pada Maret lalu.

Namun, Ad5-nCov tertinggal dari calon vaksin buatan perusahaan lainnya dalam hal perkembangan.

Dua vaksin percobaan yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech dan Sinopharm telah mengantongi izin untuk dilakukan uji coba fase ketiga.

Baca: Virus Corona Bisa Menular di Ruangan AC, Bioskop Disarankan Tak Dibuka Kembali pada 29 Juli 2020

Sementara itu, pada fase uji coba kedua, Qiu mengatakan melibatkan 508 orang.

Hasilnya uji coba fase kedua jauh lebih baik daripada fase pertama dalam hal keamanan vaksin dan kemampuannya merangsang kekebalan.

Namun, dia belum memperlihatkan bukti spesifik.

Qiu mengatakan bahwa pabrik barunya, yang masih dibangun, mampu memproduksi 100-200 juta dosis vaksin corona per tahun mulai 2021.

(TribunnewsWiki/Tyo)



Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: haerahr
BERITA TERKAIT

Berita Populer