Pakar Virus China Bongkar Kebobrokan WHO Saat Tangani Corona Hingga Menjadi Pandemi Global

Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dr Yan Limeng, seorang pakar virologi dan imunologi asal Universitas Hong Kong. Dia mengaku kabur ke AS setelah menuduh China sengaja menutupi wabah virus corona.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Dr Yan Limeng, seorang virolog yang juga pakar imunologi di Universitas Hong Kong, mengaku Beijing tahu tentang virus corona jenis baru ini.

Dia menuding pemerintah China sengaja menutupi wabah virus corona.

Dr Yan dalam wawancaranya dengan Fox News mengatakan, supervisornya yang terdiri dari sejumlah pakar terkemuka, mengabaikan penelitiannya.

Yan Limeng sudah memulai penelitian begitu Covid-19 menyebar dan sebelum jadi pandemi.

Dikutip Tribunnewswiki dari Daily Mail, Dr Yan percaya jika penelitiannya soal virus corona bisa menyelamatkan banyak nyawa, Sabtu (11/7).

Baca: Respon Pedas Warga China Saat Aparat Kepolisian Minta Maaf Atas Hukuman pada Mendiang Dr Li Wenliang

Baca: Virus Baru yang Mematikan Kembali Muncul di China, 5 Warga Tewas, Virus Menyebar Lewat Gigitan Kutu

Dr Yan Limeng dan Tedros Adhanom Ghebreyesus, Dirjen WHO (istimewa)

Disebabkan hal tersebut dia sampai membuat keputusan penting dengan kabur ke AS untuk membagi kisahnya.

Saat melakukan hal tersebut dia sadar tidak akan bisa kembali lagi ke Hong Kong.

Dia mengklaim harus memberi tahu dunia terkait penelitiannya, sebagai laboratorium rujukan Badan Kesehatan Dunia ( WHO) di bidang virus influenza dan virus.

Dalam mengawali klaimnya, Dr Yan mengatakan, dia adalah satu dari segelintir pakar yang mempelajari virus corona.

Dia menjelaskan supervisornya, Dr Le Poon, memintanya untuk mengawasi sebuah klaster aneh di mana kasusnya mirip Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) di China.

"Pemerintah China menolak menerima pakar dari luar negaranya, termasuk Hong Kong. Jadi saya meminta mencari informasi," ujar dia.

Baca: Calon Vaksin Virus Corona Buatan Moderna Asal AS Memasuki Fase Uji Coba Ketiga pada Juli Ini

Baca: WHO Konfirmasi Virus Corona Menyebar Lewat Udara, Berikut Cara Pencegahannya

Dia menghubungi teman yang bekerja di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), yang pertama kali tahu soal virus yang menyebar di Wuhan.

Teman Yan memberitahunya mengenai kemungkinan transmisi antar-manusia pada 31 Desember 2019, jauh sebelum WHO dan Beijing mengakuinya.

Yan segera memberitahukannya kepada si supervisor.

Namun, Yan mengingat, dia "hanya menggangguk", dan memintanya untuk terus bekerja.

Pada 9 Januari, WHO merilis pernyataan yang menuturkan berdasarkan otoritas China, virus ini menyebabkan gejala sangat parah di sejumlah pasien.

Akan tetapi, WHO menyatakan virusnya belum menular antar-manusia.

"Sedikit sekali informasi yang diterima untuk menentukan risiko klaster," papar WHO.

Mendengar pernyataan badan kesehatan di bawah PBB tersebut, Yan mengatakan temannya yang biasanya terbuka soal penyakit mendadak diam.

Bahkan, lainnya memperingatkannya supaya tak bertanya secara detil.

Pengawas Yan hanya memintanya untuk "diam dan berhati-hati",  walau sumbernya mengungkap transmisi antar-manusia terus meningkat.

"Dia memperingatkan saya sebelumnya 'jangan injak garis merah. Kita bisa terlibat masalah dan hilang nantinya'," kata Yan mengingat ucapan supervisornya.

Baca: Setelah Mengakui Virus Corona Bisa Menular lewat Udara, WHO Kini Merilis Pedoman Baru

China resmi mengonfirmasi bertambahnya jumlah penyakit yang disebabkan karena virus corona mencapai 830 kasus dan 25 orang dilaporkan meninggal dunia (Wikimedia)

Pakar virologi ini lalu mengklaim Dr Malik Peiris, seorang direktur laboratorium, tahu soal penyebaran wabah ini namun juga tidak bergeming.

Yan menuturkan, dia sangat frustrasi dengan kondisi ini.

Namun Yan hanya bisa pasrah mengingat relasi antara WHO dengan pemerintah China.

"Jadi pada dasarnya, saya menerima. Tetapi saya tidak ingin informasi yang menyesatkan ini bakal tersebar ke seluruh dunia," ujar dia.

Dia lalu memutuskan pergi dari Hong Kong karena melihat hal tersebut.

"Sebab saya tahu bagaimana cara mereka memperlakukan whistleblower," papar Yan.

Dia juga membawa nama mendiang Li Wenliang, dokter yang sempat memperingatkan adanya Covid-19 sebelum ditangkap polisi karena dianggap meresahkan masyarakat.

Akibatnya, Universitas Hong Kong diketahui menghapus namanya dari situs.

Bahkan menyatakan Yan Limeng "tidak lagi berstatus pegawai mereka".

WHO juga menyangkal mereka bekerja dengan Yan, Poon, dan Peiris.

Badan kesehatan dunia ini memang menyebut Peiris adalah seorang pakar, namun membantah dia bagian dari staf mereka.

Sedangkan Kedutaan Besar China di AS mengklaim tidak tahu menahu tentang Yan, dan bersikeras menangani virus corona dengan tepat.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pakar Virologi Ini Tuding China Sengaja Menutupi Wabah Virus Corona"



Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Archieva Prisyta
BERITA TERKAIT

Berita Populer