"Kami salut kepada kepemimpinan Turki - terutama dukungan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk perjuangan Palestina," kata Mandela, dalam diskusi panel webinar 'Demokrasi, Kebebasan, dan Pentingnya Kepemimpinan: Pelajaran untuk Dunia yang Lebih Baik', dilansir Anadolu Agency, Jumat (10/7/2020).
Dalam Webinar yang diselenggarakan di Turki tersebut, Mandela menyampaikan materi 'Demokratisasi: Pengalaman Afrika Selatan' dan mempostingnya di laman Instagramnya.
Ia menyebut bahwa dukungan Turki terhadap Palestina adalah contoh yang layak ditiru para pemimpin Muslim lainnya.
Menurutnya, banyak pemimpin negara telah menyerah dan hanya melakukan kompromi terhadap unilateralisme (agenda yang mendukung tindakan sepihak) dari Amerika Serikat yang ingin membangun Zionisme Israel.
"Seperti halnya Palestina saat ini, sejarah kolonialisme di Afrika Selatan berkaitan dengan perampasan, pemimdahan, dan pengasingan sebagian besar orang Afrika Selatan dari tanahnya," kata Mandela yang juga anggota parlemen partai Kongres Nasional Afrika (ANC) ini.
Baca: Ratusan Orang Hadiri Pemakaman Ibrahim Abou Yacoub, Pria Palestina yang Ditembak Mati Tentara Israel
Baginya, Warisan Mandela yang ia pegang saat ini menegaskan dukungan moral dan prinsip bagi Palestina.
Ia menuturkan bahwa kelaparan, restitusi, dan reformasi tanah selalu menjadi hal pokok yang sensitif dalam perjalanan menuju demokrasi.
"Keterasingan (atas tanah) ini berjalan seiring dengan perebutan kekayaan sumber daya alam kita," kata Mandela, yang dikenal sering membela hak-hak kaum tertindas.
"Kami menghargai pengorbanan para pemberani baik pria dan wanita dalam perjuangan untuk demokrasi dan tidak menyerah dalam menghadapi upaya kudeta militer di Turki.
Ratusan orang berkumpul mengikuti upacara pemakaman seorang pria Palestina yang ditembak tentara Israel sehari sebelumnya.
Tentara Israel menyebut pasukannya melepaskan tembakan setelah pria Palestina dan lainnya mulai melemparkan bom peledak ke pos penjagaan di dekat kota Nablus.
Namun, pejabat Palestina menolak pernyataan tersebut dan mengklaim bahwa pria tersebut sedang berjalan dengan teman-temannya lalu ditembak mati di tempat.
Pemakaman pria yang diketahui bernama Ibrahim Abou Yacoub ini dilaksanakan di desa Kifl Hares, selatan kota Nablus, dilansir Reuters, Jumat (10/7/2020).
Kementerian kesehatan Palestina menyebut Abou Yacoub tertembak di leher, tetapi tidak memberikan rincian situasi pembunuhan, diwartakan AFP, Jumat (10/7).
Pantauan Reuters, mereka yang datang ke pemakaman ini terlihat membawa bendera Palestina sambil meneriakkan sejumlah seruan.
Baca: Meski Ditentang Ayah, Perempuan Yahudi-Israel Tetap Menikah dengan Pria Palestina di Tengah Konflik
Ketegangan di Tepi Barat / West Bank antara Israel dan Palestina memanas beberapa pekan terakhir.
Israel diketahui sedang mempertimbangkan rencana aneksasi di wilayah Palestina di Tepi Barat.
Menteri Luar Negeri Mesir, Yordania, Prancis, dan Jerman sempat memperingatkan bahwa setiap perubahan di perbatasan timur Israel akan berdampak pada hubungan mereka dengan Israel, diwartakan Aljazeera, Selasa (7/7/2020).
Peringatan keempat negara ini dilakukan dalam sebuah pernyataan bersama melalui konferensi video.
Mereka bersepakat tidak akan mengakui perpanjangan hukum Israel di Tepi Barat kecuali Palestina menyetujuinya.
"Kami percaya bahwa aneksasi wilayah Palestina yang diduduki pada tahun 1967 akan melanggar hukum internasional dan membahayakan fondasi proses perdamaian,"
"Kami tidak akan mengakui apapun perubahan di perbatasan tahun 1967 yang tidak disetujui oleh kedua belah pihak dalam konflik ini.
"Kami juga sepakat bahwa langkah aneksasi akan punya konsekuensi serius bagi keamanan dan stabilitas kawasan, serta akan jadi penghalang utama dalam mencapai perdamaian yang komprehensif dan adil.
"Itu juga ada konsekuensinya terkait hubungan (kami) dengan Israel," tulis pernyataan tersebut, menggarisbawahi komitmen mereka terhadap solusi dua negara berdasarkan hukum internasional.
Baca: Wakil Israel di PBB, Danny Danon Sebut Presiden Mahmud Abbas Halangi Upaya Damai Israel-Palestina
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) menyebut adanya penundaan rencana aneksasi Israel di Tepi Barat Palestina.
Melalui Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri (Kemenlu RI), Febrian A. Ruddyard, Israel tengah disibukkan menangani Covid-19.
Febrian juga menyebut belum ada kesepakatan penuh untuk melakukan aneksasi tersebut.
"Rencana tersebut ini tertunda, yang menurut informasi karena ada desakan untuk penanganan pandemi Covid-19. Dan saya rasa belum ada kesepatan yang penuh di Israel sendiri dan adanya pro kontra juga," kata Febrian dalam diskusi 'Melawan Aneksasi Israel atas Wilayah Palestina', dilansir Kompas.com, Jumat (10/7/2020).
Febrian menambahkan bahwa penundaan aneksasi tersebut perlu diwaspadai.
Ia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia sejak awal mengecam keras rencana aneksasi Tepi Barat Palestina.