Seorang dari mereka mengatakan tidak ada virus corona atau orang yang terkena Covid-19 di tempat itu.
Selain itu, mereka berujar akan menguburkan sendiri orang yang meninggal karena virus corona, jika ada.
"Mending bapak pergi saja. Tidak ada corona di sini. Kalaupun ada dan orangnya sudah meninggal, akan kami kuburkan sendiri tidak perlu bapak-bapak datang ke sini lagi," kata seorang warga.
Camat Batang-Batang Joko Suwarno membenarkan pengusiran tenaga medis oleh sejumlah warganya.
Sedianya satgas Covid-19 hendak melakukan tracing serta rapid test pada anggota keluarga pasien positif yang melarikan diri, Jumat (3/7/2020).
Namun, keluarga dan warga menolak dan mereka mengusir tenaga medis yang datang mengenakan APD.
"Ada resistensi dari keluarga pasien. Padahal, kami sudah berusaha dan komunikasi baik-baik, tapi mereka tetap menolak untuk diperiksa kesehatannya," ujar Joko Suwarno.
Baca: Jepang Sukses Redam Covid-19, Meski Enggan Patuhi Semua Saran WHO dan Tidak Lakukan Lockdown
Satgas serta Forkopimda Batang-Batang mengalah dan memilih pergi lantaran ditolak.
Kepada keluarga pasien, satgas berpesan agar mereka mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.
Kejadian pengusiran yang direkam itu viral di media sosial.
Dalam video itu, Satgas tampak melakukan negosiasi. Namun warga mendesak mereka meninggalkan rumah pasien.
Bahkan, petugas diminta tak lagi kembali sekalipun pasien telah meninggal dunia.
Satgas dan petugas medis pun akhirnya meninggalkan lokasi tersebut.
Sejumlah orang di Desa Setih, Kecamatan Teluk Kayeli, Kabupaten Buru, Maluku, menolak rapid test yang dilakukan tim medis dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
Tim medis melakukan rapid test karena seorang warga desa itu terkonfirmasi positif Covid-19 setelah kembali dari Ambon.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Buru, Nani Rahim, mengatakan awalnya rapid test sudah dilakukan terhadap 29 orang dari 57 orang yang di-tracing.
Namun, saat rapid test kedua akan dilakukan, 26 warga lainnya termasuk keluarga inti pasien melakukan penolakan terhadap tim gugus tugas dan tenaga medis.
Baca: Kronologi Ratusan Warga di Banten Pergi Kabur dan Mengungsi Karena Takut di Rapid Test
Baca: Hasil Rapid Test Pria Asal NTT Reaktif Hamil, Keluarga Marah dan Geruduk Lokasi Karantina
“Kejadiannya itu Sabtu pekan kemarin, kami ditolak saat mau melakukan rapid test yang kedua terhadap puluhan warga yang berkontak dengan pasien,” kata Nani, Jumat (19/6/2020).
Warga dan keluarga paisen positif di desa tersebut menolak rapid test dengan alasan mereka tidak percaya dengan virus corona.
Mereka juga mengaku sangat sehat sehingga tidak tertular virus tersebut.
“Jadi, warga mengaku tidak percaya dengan virus corona, mereka bilang virus corona itu penyakit parlente (bohong),” kata Nani.
Dia mangatakan pada Kamis (18/6/2020) kemarin pihaknya berencana melakukan rapid test ulang ke puluhan warga tersebut.
Namun, karena alat rapid test yang dipesan dari Ambon belum tiba, maka pihaknya akan melanjutkan rapid test pada Sabtu (20/6/2020).
“Alat rapid test-nya sudah datang dari Ambon, dan rencananya besok itu kami akan kembali ke desa itu untuk melakukan rapid test kepada puluhan warga dan keluarga pasien. Kami sudah minta bantu polisi dan juga sudah berkoordinasi dengan Pak Camat nanti beliau akan beritahukan ke keluarga dan warga yang mau di-rapid,” ungkap dia.
Nani berharap warga dan keluarga pasien di desa itu dapat mendukung upaya tim gugus tugas dalam mencegah penyebaran Covid-19 di wilayah tersebut.
“Harapan kami ada kesadaran dan kerja sama dari warga desa, jangan lagi berpikir virus ini tidak ada atau menanggap enteng karena apa yang mau kami lakukan ini demi keselamatan banyak orang,” kata dia.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bapak Pergi Saja, Tak Ada Corona di Sini, Kalau Ada akan Kami Kubur Sendiri"