Namun, saat rapid test kedua akan dilakukan, 26 warga lainnya termasuk keluarga inti pasien melakukan penolakan terhadap tim gugus tugas dan tenaga medis.
Baca: Kronologi Ratusan Warga di Banten Pergi Kabur dan Mengungsi Karena Takut di Rapid Test
Baca: Hasil Rapid Test Pria Asal NTT Reaktif Hamil, Keluarga Marah dan Geruduk Lokasi Karantina
“Kejadiannya itu Sabtu pekan kemarin, kami ditolak saat mau melakukan rapid test yang kedua terhadap puluhan warga yang berkontak dengan pasien,” kata Nani, Jumat (19/6/2020).
Warga dan keluarga paisen positif di desa tersebut menolak rapid test dengan alasan mereka tidak percaya dengan virus corona.
Mereka juga mengaku sangat sehat sehingga tidak tertular virus tersebut.
“Jadi, warga mengaku tidak percaya dengan virus corona, mereka bilang virus corona itu penyakit parlente (bohong),” kata Nani.
Dia mangatakan pada Kamis (18/6/2020) kemarin pihaknya berencana melakukan rapid test ulang ke puluhan warga tersebut.
Namun, karena alat rapid test yang dipesan dari Ambon belum tiba, maka pihaknya akan melanjutkan rapid test pada Sabtu (20/6/2020).
“Alat rapid test-nya sudah datang dari Ambon, dan rencananya besok itu kami akan kembali ke desa itu untuk melakukan rapid test kepada puluhan warga dan keluarga pasien. Kami sudah minta bantu polisi dan juga sudah berkoordinasi dengan Pak Camat nanti beliau akan beritahukan ke keluarga dan warga yang mau di-rapid,” ungkap dia.
Nani berharap warga dan keluarga pasien di desa itu dapat mendukung upaya tim gugus tugas dalam mencegah penyebaran Covid-19 di wilayah tersebut.
“Harapan kami ada kesadaran dan kerja sama dari warga desa, jangan lagi berpikir virus ini tidak ada atau menanggap enteng karena apa yang mau kami lakukan ini demi keselamatan banyak orang,” kata dia.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bapak Pergi Saja, Tak Ada Corona di Sini, Kalau Ada akan Kami Kubur Sendiri"