Khawatirkan Keamanan Nasional, Amerika Serikat Secara Perlahan Hillangkan Status Istimewa Hong Kong

Penulis: Haris Chaebar
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Hong Kong di malam hari.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Konflik kepentingan antara China dan Amerika Serikat (AS) tak kunjung padam.

Hong Kong yang sebelumnya menjadi kawasan krusial untuk kepentingan-kepentingan Amerika Serikat di Asia mulai ditinggalkan.

Amerika Serikat mulai menghapus status istimewa Hong Kong di bawah undang-undang AS pada hari Senin (29/6/2020),

Penghapusan status istimewa tersebut salah satunya dengan menghentikan ekspor pertahanan dan membatasi akses wilayah itu ke produk-produk teknologi tinggi ketika China menyiapkan undang-undang keamanan baru bagi Hong Kong.

Melansir pemberitaan Reuters, langkah Amerika Serikat diterapkan saat badan pembuat keputusan utama parlemen China membahas rancangan undang-undang keamanan nasional untuk Hong Kong yang dinilai akan digunakan untuk menghilangkan perbedaan pendapat dan memperketat kontrol Beijing terhadap Hong Kong.

"Keputusan Partai Komunis Tiongkok untuk mengeluarkan undang-undang keamanan nasional Hong Kong telah memaksa pemerintahan Trump untuk mengevaluasi kembali kebijakannya terhadap wilayah itu," kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

Orang-orang yang memakai topeng mengunjungi pasar makanan segar di Hong Kong pada 29 Januari 2020, sebagai langkah pencegahan setelah wabah virus yang dimulai di kota Wuhan di Cina. Virus yang sebelumnya tidak dikenal telah menyebabkan alarm karena kemiripannya dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), yang menewaskan ratusan di seluruh daratan Cina dan Hong Kong pada 2002-2003. (DALE DE LA REY / AFP)

Saat Reuters mengkonfirmasi mengenai masalah ini, Kedutaan China di Washington tidak segera menanggapinya.

Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump menanggapi rencana China dengan mengatakan ia akan memulai proses untuk menghapus perlakuan ekonomi khusus yang memungkinkan Hong Kong tetap menjadi pusat keuangan global sejak penyerahannya oleh Inggris pada tahun 1997.

Baca: Jadi Korban Konflik Politik Amerika Serikat vs China, Kini Banyak Warga Hong Kong Ingin Bermigrasi

Baca: Amerika Serikat Cabut Status Istimewa Hong Kong: Bukan Lagi Daerah Otonom dan China Kena Getahnya

Baca: Potret Beratnya Hidup di Hong Kong, Warga Hidup di Apartemen Kumuh, Dapur dan Toilet Jadi Satu Area

Trump akhirnya tak lagi menyerukan untuk segera mengakhiri hak istimewa, tetapi mengatakan langkah itu akan memengaruhi seluruh perjanjian AS dengan Hong Kong, dari perjanjian ekstradisi hingga kontrol ekspor pada teknologi penggunaan ganda dan lebih banyak lagi "dengan sedikit pengecualian."

Departemen Perdagangan AS mengatakan pihaknya menunda perlakuan istimewa ke Hong Kong atas China, termasuk ketersediaan pengecualian lisensi ekspor.

Dijelaskan pula bahwa tindakan lebih lanjut untuk menghilangkan status Hong Kong sedang dievaluasi.

Pada tahun 2018, barang senilai US$ 432,7 juta dikirim ke Hong Kong dengan pengecualian, ketika sebagian besar berkaitan dengan enkripsi, perangkat lunak, dan teknologi.

Pompeo mengatakan Amerika Serikat, mulai Senin kemarin secara efektif mengakhiri ekspor peralatan pertahanan ke Hong Kong dan akan mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri ekspor teknologi penggunaan ganda ke wilayah tersebut.

Menlu AS, Mike Pompeo. (AFP)

Teknologi penggunaan ganda memiliki penggunaan komersial dan militer.

Tahun lalu, menurut data, Departemen Luar Negeri AS menyetujui pengiriman barang dan jasa pertahanan terkendali senilai US$ 2,4 juta kepada otoritas pemerintah Hong Kong, yang mana sekitar US$ 1,4 juta sudah dikirimkan.

"Amerika Serikat terpaksa mengambil tindakan ini untuk melindungi keamanan nasional AS."

"Kita tidak bisa lagi membedakan antara ekspor barang-barang yang dikendalikan ke Hong Kong atau ke daratan China," kata Pompeo.

Pengumuman itu datang pada saat retorika Amerika Serikat yang semakin intensif terhadap Beijing ketika Presiden Donald Trump berkampanye untuk pemilihan presiden.

Jajak pendapat menunjukkan, pemilih semakin tidak menyukai China, terutama karena virus corona dimulai dari sana.

Atas hal ini pula, tak bisa dipungkiri pemerintahan Donald Trump akan semakin intensif dalam menggelar "drama" terutama yang terkait dengan China.

Trump mencoba amankan situasi nasional

Amerika Serikat (AS) saat ini masih menghadapi situasi demonstrasi massal di beberapa wilayah.

Kematian warga kulit hitam, George Floyd ditangan seorang polisi kulit putih, Derek Chauvin adalah pemantik utama arus demonstrasi di Amerika Serikat tak kunjung berhenti hingga kini.

Penentangan terhadap rasisme yang terjadi di negeri Paman Sam semakin luas.

Situasi tersebut bahkan sanggup menimbulkan solidaritas internasional dengan diikuti aksi serupa di berbagai negara untuk menentang bentuk-bentuk penindasan rasial atau rasisme yang terjadi.

Atas situasi di negaranya dan dalam upaya untuk menarik simpati jelang pilpres, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berjanji pada hari Senin (29/6/2020) untuk mengembalikan ketertiban di Amerika dengan menggunakan kekuatan militer jika kekerasan terus meluas.  

Melansir Reuters, pihak kepolisian tampak menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan demonstran damai di dekat Gedung Putih pada hari Senin.

Orang-orang berlarian dengan membawa barang-barang yang dijarah di sebuah toko pakaian di pusat kota Long Beach, California, Amerika Serikat pada (31/5/2020) dalam aksi protes menentang kematian George Floyd. George Floyd seorang pria kulit hitam tak bersenjata yang meninggal ketika ditangkap dan lehernya dijepit ke tanah menggunakan lutut oleh seorang petugas kepolisian Minneapolis, Minnesota. (AFP/Apu GOMES)

Para penegak hukum, termasuk petugas yang menunggang kuda, mengamankan demonstran di Lafayette Park, yang terletak di seberang jalan Gedung Putih ketika Trump membuat pernyataannya dari Rose Garden.

Presiden berjanji untuk mengakhiri enam malam penjarahan dan kekerasan di kota-kota besar di seluruh negara dengan segera.

Baca: Pengamat: Kim Jong Un Memprovokasi Korsel agar Korut Bisa Menarik Perhatian Amerika Serikat

Baca: Krisis Baru Amerika Serikat, Sejumlah Petugas Polisi Mengundurkan Diri Setelah Kematian George Floyd

Baca: Izinkan Perusahaan di Negaranya Kembali Berbisnis dengan Huawei, Amerika Serikat Melunak ke China?

Dia mengatakan bahwa ia akan mengerahkan militer AS jika gubernur negara bagian menolak memanggil Garda Nasional. 

"Walikota dan gubernur harus membangun kehadiran penegakan hukum yang luar biasa sampai kekerasan berhasil diatasi," kata Trump seperti yang dilansir Reuters. 

Dia menambahkan, "Jika sebuah kota atau negara bagian menolak untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan dan properti penduduk mereka, maka saya akan mengerahkan militer Amerika Serikat dan dengan cepat menyelesaikan masalah bagi mereka."

Ketika tindakan polisi terhadap para pengunjuk rasa memberinya jalan yang aman, Trump berjalan dari Gedung Putih ke Gereja Episkopal St. John di dekatnya bersama dengan pejabat lain termasuk Jaksa Agung AS William Barr. Trump berpose untuk foto sambil memegang Alkitab.

Presiden AS Donald Trump berbicara tentang COVID-19, yang dikenal sebagai coronavirus, setelah menandatangani Proklamasi untuk menghormati Hari Perawat Nasional di Kantor Oval Gedung Putih di Washington, DC, 6 Mei 2020. (SAUL LOEB / AFP)

Pasukan keamanan yang bergerak melawan demonstran di Gedung Putih termasuk polisi militer Garda Nasional, Dinas Rahasia, polisi Departemen Keamanan Dalam Negeri serta polisi Distrik Columbia.

Aksi demonstrasi brutal anti-polisi, yang telah berubah menjadi kekerasan setiap malam selama minggu lalu, meletus atas kematian George Floyd, seorang warga Amerika keturunan Afrika berusia 46 tahun yang meninggal di tahanan polisi Minneapolis setelah dijepit di selama hampir 9 menit oleh seorang petugas kepolisian kulit putih.

Otopsi kedua yang diperintahkan oleh keluarga Floyd dan dirilis pada hari Senin menemukan bahwa kematiannya adalah pembunuhan akibat "sesak napas mekanik," yang berarti bahwa kekuatan fisik mengganggu pasokan oksigennya.

Laporan itu mengatakan, tiga petugas kepolisian berkontribusi pada kematian Floyd.

Hasil pemeriksaan medis wilayah Hennepin kemudian juga merilis rincian temuan otopsi yang juga mengatakan kematian Floyd adalah pembunuhan yang disebabkan oleh sesak napas.

Laporan county menambahkan bahwa Floyd menderita kardiopulmoner ketika ditahan oleh polisi dan bahwa ia menderita penyakit jantung arteriosklerotik dan hipertensi, keracunan fentanil dan penggunaan metamfetamin baru-baru ini.

Derek Chauvin, perwira polisi Minneapolis berusia 44 tahun yang berlutut di Floyd, ditangkap atas tuduhan pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan berencana tingkat dua.

(Tribunnewswiki.com/Ris)

Sebagian artikel tayang di Kontan berjudul Amerika mulai melucuti status istimewa Hong Kong.



Penulis: Haris Chaebar
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
BERITA TERKAIT

Berita Populer