Pandemi Virus Corona Berdampak pada Perekonomian Global, Kerugian Capai Rp 168.000 Triliun

Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Logo Dana Moneter Internasional (IMF). IMF memprediksi dampak perekonomian global akibat pandemi corona.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pandemi virus corona telah membuat perubahan signifikan pada tatanan dunia.

Bahkan perekonomian dunia pun ikut compang-camping olehnya.

Dana Moneter Internasional ( IMF) menggambarkan kerugian perekonomian global yang menjadi akibat dari pandemi virus corona dapat mencapai 12 triliun dollar AS atau sekitar Rp 168.000 triliun (kurs Rp 14.000).

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menerangkan, pandemi covid sudah membawa perekonomian global jatuh ke dalam jurang krisis.

Hal ini karena, 95 persen negara-negara di dunia diproyeksi akan mengalami kontraksi ataupertumbuhan ekonomi di zona negatif.

"Pasar dan perekonomian berkembang diproyeksi bakal menghadapi pertumbuhan pendapatan per kapita negatif pada 2020. Pasar dan negara berkembang, kecuali China, diproyeksi bakal mengalami pukulan lebih besar dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) ketimbang negara maju pada tahun 2020 hingga 2021," kata Georgieva dalam keterangannya, Kamis (25/6/2020).

Baca: IMF Rilis Daftar 10 Negara yang Bisa Pulih Lebih Cepat Dari Krisis Akibat Pandemi Corona, Mana Saja?

Baca: Di Ambang Kebangkrutan karena Wabah Covid-19, Presiden Iran Terpaksa Pinjam Uang IMF Rp 81 Triliun

Ilustrasi International Monetary Fund (IMF). IMF memprediksi perekonomian global terdampak cukup parah akibat pandemi corona.(Tribun Bali)

Georgieva sembar menerangkan, hal ini berisiko pada usaha negara-negara di dunia dalam mengurangi angka kemiskinan.

Nyatanya dalam beberapa tahun terakhir, dunia sedang menikmati jumlah kemiskinan yang terus menurun.

Ditamba dengan berkurangnya kesenjangan antara negara berkembang dan negara maju.

"Terdapat beberapa tanda pemulihan, namun hanya akan terjadi di beberapa tempat dan tidak seimbang di seluruh sektor, negara maupun wilayah," kata Georgieva.

Baca: Sempat Menolak Bantuan Asing, Gerakan Hizbullah di Lebanon Akhirnya Sepakat Pinjam Dana ke IMF

Ilustrasi (boganinews)

Georgieva menerangkan, walaupun saat ini 75 persen negara yang sempat menutup akses masuk, perekonomian dunia belum bisa menemukan titik terang.

"Kita terus belajar bagaimana untuk melakukan pemulihan, dan secara bersamaan terus mencari solusi, yaitu kemunculan vaksin yang sangat diharapkan," kata dia.

IMF juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 4,9 persen tahun 2020.

Angka ini lebih rendah 1,9 poin persentase apabila dibandingkan dengan proyeksi pada bulan April lalu yang memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global mengalami kontraksi 3 persen.

Kemudian juga kembali dijelaskan, pertumbuhan ekonomi untuk kelompok negara maju diproyeksi bakal kontraksi 8 persen pada tahun 2020.

Angka ini lebih rendah 1,9 poin persentase apabila dibandingkan dengan prediksi April 2020 lalu.

IMF menilai, ada hantaman yang lebih hebat dari ekspektasi pada perekonomian kelompok negara maju di semester I tahun ini.

Proses pemulihan ini juga bakal membutuhkan waktu secara bertahap karena kekhawatiran terkait peningkatan kasus penularan virus corona yang belum berhenti.

IMF secara berurutan memproyeksi pertumbuhan ekonomi kelompok negara maju sebagai berikut; Amerika Serikat -8 persen, Jepang -5,8 persen, Inggris -10,2 persen, Jerman -7,8 persen, Prancis, -12,5 persen, sementara Italia dan Spanyol tumbuh -12,8 persen.

IMF pun juga memproyeksi, Indonesia akan menghadapi kontraksi atau tumbuh negatif 0,3 persen pada tahun 2020 ini.

Ramalan terhadap ekonomi Indonesia tersebut memburuk dibandingkan WEO pada April 2020.

Kala itu,, IMF masih memproyeksikan pertumbuhan positif pada tahun 2020, yaitu di level 0,5 persen.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka)



Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: haerahr

Berita Populer