Ia bingung melihat prestasi Timnas Senior yang selalu jeblok, padahal Timnas level usia selalu memiliki prestasi yang mentereng.
"Saya enggak tahu ya kenapa di level usia muda kita sanggup melawan siapa saja," tutur Fakhri dilansir Bolasport dari Youtube Hanif & Rendy Show.
"Ketika saya diberikan tugas di U-16 dan U-19, ketika kita melawan Jepang pun saya tidak melihat sedikit keraguan ketakutan di mata pemain timnas U-16 kita waktu itu," imbuhnya.
Fakhri tak menampik para pemain mengalami perubahan ketika masuk Timnas Senior.
Baca: PSSI dan Shin Tae-yong Memanas, Tommy Welly: Pilihan Pelatih Timnas Hanya Dua, Dipecat atau Mundur
"Tapi kenapa ketika pindah ke tim senior (jadi jelek), tentu faktor-faktor kesulitannya akan berbeda," tutur Fakhri.
"Kompetisi kita meriah karena pendukungnya banyak tapi apakah kemeriahan itu juga diimbangi dengan kualitas pertandingan. Ini yang perlu kita evaluasi bersama," tutupnya.
Setidaknya, prestasi Timnas Senior sudah menurun selama 10 tahun terakhir.
Diberitakan Kompas.com, kejeblokan yang paling mencolok adalah ketika di bawah asuhan Simon McMenemy.
Kala itu timnas mengalami kekalahan lima kali beruntun dalam kualifikasi Piala Dunia 2022.
Akibatnya, peringkat FIFA Indonesia anjlok ke peringkat 173.
Timnas senior seakan-akan kalah dari para juniornya, Garuda Muda.
Timnas kelompok usia selalu tampil gemilang.
Timnas U-16 sukses memboyong Piala AFF U-16 2018.
Skuad Garuda Asia juga menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara yang melaju ke putaran final Piala Asia U-16 2020.
Tak hanya itu, Timnas Indonesia U-19 juga tengah bersiap untuk berlaga di Piala Asia.
Bukan Hanya Tanggung Jawab PSSI
Baca: Jalani Debut di Eropa, Bintang Muda Timnas Witan Sulaiman Lampaui Catatan Egy Maulana Vikri
Fakhri Husaini, menilai bahwa prestasi buruk sepak bola nasional tidak menjadi tanggung jawab PSSI sepenuhnya.
Menurutnya, wajah sepak bola Indonesia kini dibentuk juga oleh stakeholder yang terlibat di seluruh lini sepak bola Tanah Air.
"Sepak bola itu tidak sepenuhnya jadi bebannya PSSI," ucapnya dilansir Bolasport.com dari Youtube Hanif & Rendy Show.
"Kalau bicara sepak bola, seluruh stakeholder itu harus ikut bertanggung jawab terhadap prestasi sepak bola nasional."
"Stakeholder sepak bola itu siapa saja, ya pemerintah, wasit, termasuk suporter juga," ujarnya lagi.
Fakhri berpendapat bahwa dalam pelaksanaan sepak bola di Indonesia, hasil pertandingan tidak pernah ditentukan hanya dengan pertarungan 11 versus 11 pemain di tengah lapangan.
"Pertanyaan saya apakah liga kita sudah mampu melahirkan kompetisi yang hasil pertandingannya tidak ditentukan oleh faktor lain selain 11 pemain yang bertanding," tanyanya.
Karyawan PT Pupuk Kaltim itu menyebutkan satu kasus yang kerap terjadi di Indonesia, yakni banyak tim di Indonesia yang hanya jago kandang.
Baca: Jika Shin Tae-yong Didepak PSSI, Ini Daftar Nama yang Mungkin Jadi Pelatih Timnas Indonesia
Sebagian besar tim seakan selalu mendapat jaminan kemenangan ketika berlaga di markasnya sendiri, tetapi tak bisa menunjukkan taji ketika sedang berkunjung ke kandang musuh.
Kehadiran suporter tentu menjadi faktor penentu utama dalam kasus-kasus demikian.
Akibatnya, para pemain tersebut tidak pernah merasakan atmosfer pertandingan sesungguhnya yang tidak dipengaruhi faktor-faktor lain di luar lapangan.
"Artinya ketika pemain-pemain dari klub ini digabung untuk membentuk sebuah tim nasional yang tangguh, mereka kan tidak terbiasa dengan pertandingan sesungguhnya di klub," tutur Fakhri.
"Saya nggak bisa menyalahkan siapapun, tapi ada peran stakeholder lain yang tanpa disadari ikut membentuk sepak bola kita seperti ini," tandasnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di BolaSport dengan judul Fakhri Husaini: Buruknya Timnas Indonesia Bukan Salah PSSI Sepenuhnya