Banyak masyarakat memilih telur untuk memenuhi kebutuhan protein dalam kesehariannya.
Bahkan kebutuhan akan stock telur setiap harinya pun tinggi.
Tingginya minat masyarakat akan telur dalam sehari menyebabkan beberapa oknum tak bertanggung jawab berbuat curang.
Salah satunya dengan memalsukan telur konsumsi dengan telur infertil.
Tidak sedikit pedagang yang juga mencapur telur konsumsi dengan telur infertil agar mendapat untung yang lebih.
Pasalnya, telur infertil ini biasanya dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan telur konsumsi biasa.
Padahal, menurut Peraturan Kementerian Pertanian atau Permentan Nomor 32 tahun 2017, telur infertil dan telur tertunas dilarang diperjualbelikan sebagai telur konsumsi.
Baca: 6 Jenis Makanan yang Tak Boleh Dipanaskan Ulang karena Hasilkan Zat Racun, dari Nasi hingga Telur
Baca: Tidak Baik untuk Dikonsumsi, Begini Ciri-ciri dan Perbedaan Telur Infertil dengan Telur Biasa
Baca: Waspada Telur Infertil Murah tetapi Mudah Busuk Beredar di Pasaran, Perhatikan Ciri-ciri Berikut Ini
Sebelum sebutir telur bisa menetas menjadi anak ayam, tentu saja ayam betina perlu dibuahi terlebih dahulu oleh ayam jantan.
Sehingga saat ia bertelur, telur yang keluar adalah telur fertil atau telur yang subur.
Perlu diingat, bahwa selama asupan makanannya cukup, ayam betina tetap bisa bertelur tanpa dibuahi oleh ayam jantan terlebih dahulu.
Telur yang keluar dari ayam betina yang tidak dibuahi inilah yang dinamakan sebagai telur infertil.
Telur infertil tidak bisa menetas menjadi anak ayam.
Telur infertil yang memang diternakkan dari ayam petelur boleh dikonsumsi dan diperjualbelikan.
Karena memang dari awal, telur ayam tersebut diproduksi bukan untuk ditetaskan.
Sementara itu, terlur infertil yang tidak oleh diperjualbelikan adalah telur yang masuk dalam kelompok hatching eggs (HE).
Hatching eggs secara harafiah bisa diartikan sebagai telur yang menetas.
Sebab, memang inilah tujuan awal telur HE itu ada.
Telur HE sendiri adalah telur yang memang diproduksi agar bisa menetas dan menghasilkan ayam pedaging.
Jadi, telur HE tersebut terdiri dari telur fertil dan infertil.
Telur fertil nantinya akan jadi ayam pedaging, sedangkan telur infertil adalah telur yang gagal dibuahi untuk bisa menetas.
Secara umum, telur HE, baik yang fertil maupun infertil sebenarnya tidak memiliki kandungan gizi yang berbeda dari telur ayam yang biasa dikonsumsi.
Hanya saja, telur HE lebih mudah busuk karena setelah keluar dari tubuh ayam, telur tersebut langsung melalui berbagai proses produksi peternakan.
Telur HE hanya bisa bertahan selama sekitar tujuh hari di suhu ruangan.
Sementara di Indonesia sendiri, proses distribusi telur bisa memakan waktu berhari-hari sebelum telur tersebut akhirnya sampai ke tangan konsumen.
Karena alasan itulah telur HE sudah dilarang diperjualbelikan.
Idealnya, telur HE yang gagal lolos seleksi untuk dipelihara hingga menetas, langsung dimusnahkan.
Baca: Ayam Ini Punya Telur Langka dan Unik, Kuning Telur Berwarna Hijau, Ternyata Ini Penyebabnya
Baca: Harga Telur Terus Menurun Drastis, Peternak Ayam Dilanda Kerugian
Baca: Sering Simpan Telur di Dalam Kulkas? Ternyata Kebiasaan Ini Bisa Bahayakan Kesehatan Kita
Namun, telur HE yang tersisa dari peternakan masih boleh diberikan ke masyarakat sekitar peternakan yang kurang mampu sebagai bentuk bantuan, secara gratis.
Dengan catatan, kondisi telur masih bagus dan masyarakat diberi informasi mengenai rentang waktu kelayakan telur tersebut.
Telur infertil yang beredar di masyarakat mungkin saja menjadi telur busuk karena lamanya pengiriman dari distributor.
Hal tersebut disebabkan karena telur tersebut diniatkan untuk menjadi telur tetas bukan telur konsumsi.
Karena berpotensi mudah busuk dan mengandung gizi yang berbeda dengan telur konsumsi biasa, pemerintah sudah menetapkan aturan untuk melaran jual beli telur infertil.
Namun hingga kini masih banyak oknum yang mencampur telur infertil dengan telur biasa.
Lalu, bagaimana cara membedakannya secara benar?
Telur yang sudah busuk memiliki beberapa ciri tertentu yang bisa dibedakan dari telur yang masih baik.
Berikut ini cara melihatnya:
Telur yang sudah busuk memiliki aroma tidak sedap, baik saat masih mentah ataupun setelah dimasak.
Jika tidak yakin akan aroma telur saat masih utuh, maka coba pecahkan telurnya di atas wadah dan cium aroma telur yang keluar.
Selain bau, kita juga bisa membedakan telur busuk dan tidak dari penampakannya.
Apabila cangkang telur terlihat ada retakan, licin atau berlendir, serta banyak bubuk-bubuk putih di atasnya, maka sebaiknya telur tersebut tidak lagi dikonsumsi.
Selain melihat dari penampakan cangkangnya, kita juga perlu memperhatikan kondisi telur mentah setelah dipecahkan.
Jadi, sebelum langsung memasukkannya ke panci, pecahkan terlebih dahulu telur tersebut ke atas piring terpisah.
Apabila pada putih atau kuning telurnya terdapat warna biru, hijau, merah muda, atau bahkan hitam, segera buang telur tersebut.
Sebab, perubahan warna bisa menandakan pertumbuhan bakteri di telur.
Terakhir, cara yang paling sederhana adalah dengan merendam telur di dalam air.
Jika tenggelam saat direndam, maka telur tersebut masih segar.
Sementara jika mengambang, maka sudah hampir bisa dipastikan bahwa telur tersebut sudah lama atau sudah tidak segar.
Dengan beredarnya telur infertil HE di beberapa penjual yang tidak bertanggung jawab, bukan berarti kita harus berhenti mengonsumsi telur.
Sebab telur tetaplah salah satu sumber makanan paling padat nutrisi.
Kita hanya perlu lebih berhati-hati dan memastikan bahwa telur tersebut tidaklah busuk.
Selain itu, perhatikan juga cara mengolah telur agar nilai gizinya tidak banyak berkurang.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Alasan Telur Infertil Tidak Boleh Dijual, Tapi Banyak Beredar"