Langkah tersebut diambil oleh Korea Utara di tengah menegangnya hubungan kedua negara, seperti diberitakan Independent, Minggu (21/6/2020).
Langkah itu diambil Korea Utara sebagai aksi balas dendam atas paket yang masuk ke Korsel, yang berisi selebaran propaganda, makanan, uang, hingga USB berisi Drakor.
Kantor Berita Korea Utara menyebut, warga telah siap mendukung distribusi selebaran propaganda anti-Korsel ke perbatasan.
Kantor berita tersebut mengklaim selebaran yang akan dikirim ke Korea Utara bahkan 'setinggi gunung.'
"Setiap tindakan harus ditanggapi dengan reaksi yang tepat dan hanya ketika seseorang mengalaminya sendiri, seseorang dapat merasakan betapa menyinggungnya," katanya.
Baca: Viral Driver Ojol Disebut Mirip Aktor Korea Ji Chang Wook, Kini Banjir Endorse setelah Main TikTok
Sebelumnya, pembelot Korea Utara disebut lebih dulu menyebarkan propaganda anti-Korut.
Selanjutnya, Pyongyang meledakkan kantor penghubung antar-Korea.
Hal itu sebagai bentuk ketidaksenangan Korut atas Korea Selatan karena membiarkan selebaran propaganda anti-Korut.
Kementerian unifikasi Korea Selatan, yang bertanggung jawab untuk dialog antar-Korea, mengatakan pada hari Sabtu bahwa serangan terencana Korea Utara "sangat disesalkan."
Mereka mendesak untuk segera mengesampingkan gagasan itu.
Baca: Bertanggung Jawab Atas Buruknya Hubungan dengan Korea Utara, Menteri Korea Selatan Mundur
Sebelumnya, satu kelompok pembelot Korea Utara mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka telah membatalkan rencana untuk membuang ratusan botol plastik.
Botol yang diisi dengan beras, obat-obatan, dan masker itu rencananya akan dilarung ke laut dekat perbatasan pada hari Minggu.
Nantinya, botol itu diharapkan hanyut melewati perbatasan dan sampai ke Korea Utara.
Sementara pembelot lain telah mengirimkan paket makanan, uang dolar, radio mini, dan USB yang berisi drama Korea serta siaran berita terbaru.
Paket itu biasanya biasanya dikirim dengan balon udara atau dalam botol yang dilarung di sungai.
Kedua negara memang masih saling perang informasi.
Awalnya Korea Selatan memang memiliki program resmi untuk menjatuhkan selebaran propaganda di zona demiliterisasi.
Meski harusnya sudah berakhir pada 2010, selebaran serupa kembali mencuat akhir-akhir ini.