Profil
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Akademi Angkatan Laut (AAL) adalah sekolah kedinasan yang diselenggarakan oleh TNI Angkatan Laut Republik Indonesia untuk mencetak Perwira Angkatan Laut.(1)
AAL didirikan pada tanggal 29 Juni 1951.
Taruna menjalani pendidikan di AAL selama 4 tahun.
Sebutan untuk Taruna AAL adalah Kadet.
Calon Kadet AAL adalah lulusan SMA atau sederajat.
Setelah itu, para taruna akan mendapat gelar S.ST.Han.
Pangkat taruna setelah lulus yaitu Letda (Letnan Dua).
AAL ini terletak di Krembangan, Surabaya, Jawa Timur.
Hree Dharma Shanty merupakan semboyan Akademi Angkatan Laut (AL) dalam menggladi para kadet semasa menempuh pendidikan.(2)
Dalam Bahasa Inggris, semboyan itu berarti embarrassed for doing the defects.
Sementara dalam Bahasa Indonesia, Hree Dharma Shanty memiliki arti malu berbuat cela.
Baca: Akademi Militer
Sejarah
Pada tahun 1951, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) membuka Institut Angkatan Laut (IAL) berdasarkan Surat Keputusan Mentri Pertahanan Nomor: D/MP/279/1951 tanggal 29 Juni 1951. Kemudian disusul dengan S.K. Nomor : D/MP/313/51 tanggal 28 Juli 1951 yang memuat program pendidikan ALRI yang dilaksanakan secara mandiri.
Pada Angkatan I, IAL membuka 3 jurusan atau korps yaitu korps Navigasi, korps Teknik Mesin, dan korps Administrasi.
Lama pendidikan ditentukan tiga tahun yang terbagi atas dua tahun teori dan satu tahun praktek.
Pada pelajaran teori, sebagian besar diberikan oleh anggota Misi Militer Belanda (MMB) dan banyak menggunakan bahasa Belanda.
Sedangkan, untuk penggemblengan watak dan fisik diberikan oleh pihak ALRI sendiri.
Satu tahun kemudian yaitu pada penerimaan Angkatan II, ditambah dua korps yaitu korps Komando (KKO) dan korps Elektronika.
Pada tanggal 13 Desember 1956, IAL berubah menjadi Akademi Angkatan Laut (AAL) dengan sistem pendidikan tetap tiga tahun.
Selanjutnya pada tahun 1961, karena sistem pendidikan tiga tahun dianggap terlalu singkat, maka diubah menjadi sistem pendidikan empat tahun.
Prosentase pelajaran yang diberikan menjadi 73% pelajaran praktek/latihan serta teori kemiliteran/keangkatan lautan (profesi), dan 27% pengetahuan akademik (Iptek).
Sedangkan sistem lima korps yang ada dilebur menjadi hanya tiga korps, yaitu korps Pelaut ( gabungan dari Pelaut, Teknik dan Elektro), Administrasi dan Komando/Marinir. Tiga korps ini disebut sebagai “sistem laut”.
Menjelang akhir dari periode ini sistem laut dengan tiga korps disempurnakan lagi menjadi sistem jurusan terbatas (Limited Line System) atau dinamakan “Sistem Cikar Kemudi”, yang hanya terdiri dari korps Pelaut dan Marinir.
Sistem ini hanya menghasilkan sebagian angkatan ke XI, dan seluruh angkatan ke XII dan XIII.
Pada angkatan XI V dan XV, kembali diubah menjadi empat korps (Pelaut, Teknik, Elektronika, dan Marinir).
Pada tanggal 16 Desember 1965, telah diputuskan oleh Presiden R.I selaku Panglima Tertinggi ABRI/Panglima Besar Komando Operasi Tertinggi, tentang peresmian berdirinya Lembaga Pendidikan AKADEMI BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA (AKABRI) berdasarkan Surat Keputusan No. 185/KOTI/1965.
Dengan demikian, lembaga-lembaga pendidikan militer sebelumnya, AMN, AAL, AAU, dan AAK dihapuskan.
Pada tanggal 5 Oktober 1966, dibentuklah markas Komando AKABRI di Jakarta yang merupakan badan pelaksana pusat dalam Departemen HANKAM.
Berdasarkan S.K. WAPERDAM BIDANG HANKAM No. KEP/E/61/66, diangkatlah Mayor Jenderal TNI Achmad Tahir, Gubernur AMN di Magelang sebagai Komandan Jenderal AKABRI yang pertama.
Pada tanggal 29 Januari 1967, diselenggarakan upacara pembukaan tahun akademi AKABRI Tingkat I atau AKABRI Bagian Umum yang bertempat di Magelang.
Berada satu atap dengan AKABRI Bagian Darat (perubahan dari AMN sebelum integrasi).
Selanjutnya, AAL menjelma menjadi AKABRI Bagian Laut, AAU menjelma menjadi AKABRI Bagian Udara, AAK menjelma menjadi AKABRI Kepolisian.
Dalam kaitannya dengan upaya integrasi, kegiatan-kegiatan pendidikan utama yang bersifat integrasi mendapatkan perhatian serius yang meliputi: Pendidikan Dasar Prajurit, Latihan Integrasi Kadet Weda, dan Kegiatan Pekan Olah Raga Bersama.
Periode ini menghasilkan lulusan angkatan ke XVI s/d angkatan ke XXXI.
Berdasarkan Keputusan Pangab No. Kep/29/X/1984, tanggal 10 Nopember 1984, AKABRI Bagian Laut berubah menjadi Akademi TNI Angkatan Laut disingkat AAL.
Dalam perkembangan lebih lanjut, AAL menetapkan pola kurikulum 5 bulan + 3 tahun + 7 bulan.
Beban studi dihitung dalam satuan kredit semester (SKS) yang dilaksanakan berdasarkan SKep. KASAL nomor: SKep/331/III/1999, tanggal 2 Maret 1999, tentang kurikulum pendidikan Mapwa TNI AL dan Dikpasis.
Dan Sejak tahun 2003, Korps Administrasi diubah menjadi Korps Suplai.
Mulai tahun 2008 AAL akan menyelenggarakan pendidikan dengan pola 1 tahun di Akmil dan 3 tahun di AAL.
Baca: Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN)
Visi & Misi
Tanggap.
Sebagai prajurit pejuang sapta marga dan memiliki profesi matra laut yang terampil dan mahir pada tugasnya serta mampu menjawab berbagai perubahan lingkungan yang terjadi di masa depan.
Tanggon.
Sebagai prajurit pejuang sapta marga yang memiliki profesi matra laut dengan mental dan moril tinggi senantiasa siap dalam setiap penugasan di TNI/TNI AL. Adapun kriteria kondisi prajurit yang tanggon adalah personel TNI AL yang memiliki mental, moril dan etika baik, selalu siap melaksanakan tugas tanpa mendahulukan kepentingan individu/kelompok.
Trengginas.
Sebagai prajurit pejuang sapta marga yang memiliki profesi matra laut dengan kondisi fisik kesamaptaan prajurit matra laut yang sehat dan senantiasa ditujukan pada terpenuhinya tuntutan penugasan di TNI/TNI AL.
1) Menyelenggarakan proses pendidikan yang terdiri dari pengajaran, pelatihan dan pengasuhan yang efektif dan efisien untuk menghasilkan lulusan Perwira TNI AL yang berjiwa juang, profesional, disiplin, kebanggaan, kerja keras dan kerja cerdas serta memiliki kesamaptaan jasmani yang tinggi, melalui upaya penerapan manajemen dan teknologi pendidikan secara tepat.
2) Menyelenggarakan evaluasi pendidikan yang berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan ke arah pengembangan yang lebih baik, inovatif dan bermanfaat.
3) Menumbuhkembangkan pendidikan karakter yang berdasarkan pada nilai-nilai moral dan etika akademik untuk membangun kehidupan lingkungan ketentaraan yang berbudaya dan beradab di kalangan civitas akademika.
Struktur Organisasi
Akademi Angkatan Laut dipimpin oleh Gubernur Akademi Angkatan Laut.
Sejak tahun 2019, Laksamana Muda TNI Edi Sucipto, S.E., M.M. menjabat sebagai Gubernur AAL.
Sedangkan Wakil Gubernur AAL dijabat oleh Brigadir Jenderal TNI (MAR) Endi Supardi, S.E.
Selain Gubernur dan Wakil Gubernur AAL, berikut ini struktur organisasi Akademi Angkatan Laut:
Baca: Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL)
Program Studi
Ada 4 Program Studi di Akademi Angkatan Laut, yaitu:
1. D-IV Manajemen Pertahanan (Manhan) Matra Laut
2. D-IV Manhan Matra Laut Aspek Darat
3. D-IV Teknik Mesin Kapal Perang
4. D-IV Teknik Elektronika Kapal Perang
5. D-IV Manajemen Logistik dan Keuangan Matra Laut
Fasilitas
1. Pemusatan Sarana Praktek, yang terdiri dari :
- Kemampuan Pengendalian Kapal
- Kemampuan Bidang Deteksi dan Navigasi
- Kemampuan Ilmu Dasar (Fisika, Kima dan Biologi)
- Kemampuan Bidang Kontrol
- Kemampuan Bidang Bahasa
2. Perpustakaan
3. Ruang Internet
4. Museum
5. Sarana Olah Raga (Lapangan Tennis, Kolam Renang, Panjat Tebing)
6. Lapangan Tembak
7 Sarana Ibadah (Masjid, Gereja)
8. Kesehatan
9. Salon Potong Rambut Kadet
10. Transportasi
11. Dermaga Halong