Berdasarkan rilis dari KJRI Chicago, acara itu dihadiri oleh para keluarga Floyd, kerabat, beberapa tokoh dan pejabat seperti Gubernur Minnesota Tim Walz, Wali kota Minneapolis Jacob Frey, dan tokoh pegiat hak sipil Jesse Jackson, Pendeta Al Sharpton, Senator Amy Klobuchar, Anggota Dewan Ilhan Omar dan Martin Luther King III, juga kalangan selebritas seperti aktris Tiffany Haddish, komedian Kevin Hart dan rapper Ludacris.
Di dalam rangkaian acara memorial itu, Pendeta Al Sharpton menyampaikan bahwa selama lebih dari 400 tahun kaum kulit hitam telah termarjinalkan.
Dia mengecam aksi rasisme yang kerap terjadi, terutama di bidang layanan kesehatan dan pendidikan.
Dia juga menuntut adanya perbaikan akuntabilitas dalam sistem penegakan hukum di AS.
Baca: Artis Film Dewasa Elle Knox Diturunkan Paksa dari Pesawat karena Ceramah tentang George Floyd
Setelah berpidato, Pendeta Sharpton mengajak hadirin untuk mengheningkan cipta selama 8 menit 46 detik, durasi saat polisi Derek Chauvin menindih leher George Floyd dan menewaskan pria itu.
Sementara itu, pengacara keluarga Floyd, Benjamin Crump atau akrab dipanggil Ben Crump menekankan bahwa warga AS tidak menginginkan adanya 2 sistem keadilan di AS, yaitu sistem untuk warga kulit putih dan kulit hitam yang terpisah.
Crump juga menuntut kesetaraan dalam proses hukum bagi warga kulit hitam.
Dia dalam sambutannya menambahkan, "George Floyd tidak dibunuh oleh Covid-19 melainkan oleh pandemi yang sangat familiar bagi kita; rasisme dan diskriminasi."
Sementara itu, adik dari George Floyd, Philonese turut menyatakan bahwa Floyd telah menyentuh hati semua orang.
Dia mengharapkan adanya keadilan bagi mendiang kakaknya itu.
Upacara memorial itu juga dihadiri ratusan massa yang berkumpul di tengah kota Minneapolis, yakni tempat terbunuhnya George Floyd.
Mereka meletakkan karangan bunga dan mengheningkan cipta.
Tempat itu kini menjadi tempat sakral dengan pengunjung yang datang dari berbagai etnis.
Mereka yang datang ke tempat itu tidak hanya mengenang George Floyd, tapi juga saling berdialog, berduka, mengasihi mau pun membahas tentang harapan mereka di masa mendatang.
Baca: Hasil Autopsi Nyatakan George Floyd Positif Covid-19, tetapi Disebut Bukan Faktor Kematiannya
Menurut kepala rektor NCU yang juga berkesempatan menyampaikan sambutan, kampusnya akan mendirikan sebuah program beasiswa bagi kaum muda dalam rangka mengenang George Floyd.
Program itu diberi nama George Floyd Scholarship dan berhasil menggalang dana sebanyak 53.000 dollar AS (sekitar Rp 736 juta ).
Ada pun anggota dewan kota Minneapolis diberitakan tengah mempertimbangkan tuntutan masyarakat untuk membubarkan kepolisian di Minneapolis akibat maraknya kasus kekerasan selama ini.
Warga meminta mereka menggantinya dengan badan baru yang lebih berorientasi pada komunitas, keamanan publik tanpa unsur kekerasan serta punya kemampuan untuk menjangkau lebih luas.
Anggaran kepolisian dalam hal ini diminta untuk dialihkan ke program-program pencegahan kriminalitas seperti program kepemilikan rumah terjangkau, konseling dan program pencegahan kekerasan.
Sementara itu, Asosiasi Jaksa Penuntut di Minnesota dalam pernyataan mereka menyampaikan dukungan agar Kantor Jaksa Agung Minnesota diperbolehkan menangani kasus kematian yang disebabkan oleh tindak kekerasan oleh aparat.
Asosiasi ini juga meminta pada dewan untuk menyediakan dana serta pengacara terbaik untuk menangani kasus-kasus penting, selain menyampaikan dukungan dan simpati mereka terhadap keluarga Floyd.
Ada pun KJRI Chicago terus menjalin komunikasi dengan WNI di AS dan memastikan kondisi mereka aman. KJRI juga mengimbau WNI agar terus waspada dalam menyikapi unjuk rasa.
“Hingga pukul 12 malam hari kesepuluh berlangsungnya aksi unjuk rasa, warga Indonesia di Midwest AS sesuai pendataan KJRI dalam keadaan baik dan aman”, ujar Konsul Jenderal RI Chicago, Meri Binsar Simorangkir.
Baca: Apple Store Dijarah Oknum Demonstran Kasus George Floyd, Apple Lakukan Balas Dendam Cerdik
Penahanan tiga anggota polisi Minneapolis selain Derek Chauvin atas kematian George Floyd dan pendakwaan meningkat yang dialami Chauvin hanyalah permulaan bagi keluarga Floyd.
Keadilan, bagi keluarga Floyd, tak hanya dakwaan terhadap petugas polisi itu namun juga pernyataan bahwa mereka bersalah.
"Kita harus memiliki keadilan.
Mereka membunuhnya (Floyd) di siang bolong di hadapan banyak orang," ujar kakak Floyd, Philonise kepada CBS News.
Dakwaan terhadap Chauvin yang menindih leher Floyd dengan lututnya, dinaikkan menjadi pembunuhan tingkat kedua, sementara tiga polisi lainnya didakwa dengan tuduhan membantu dan bersekongkol dalam pembunuhan.
Namun, Philonise yakin kalau pembunuhan itu berencana dan menginginkan Chauvin untuk menghadapi dakwaan lebih serius, yakni pasal pembunuhan tingkat pertama.
"Jika Anda lihat pria itu (Chauvin) ketika menindih dengan lutut, dan orang-orang memohon agar dia melepaskannya (Floyd), namun dia (Chauvin) hanya memandang mereka seperti mereka berada dalam sangkar atau sesuatu, seakan-akan mereka (orang-orang yang menonton) tidak bisa berbuat apa pun terhadapnya," ujar Philonise.
Dalam putusan dakwaan Rabu kemarin, Jaksa Agung Minnesota, Keith Ellison mengatakan dakwaan itu baru tahap pertama.
Dia meminta kepercayaan publik terhadapnya meski sejarah telah menunjukkan adanya tantangan dalam penuntutan terhadap petugas polisi.
"Setiap mata rantai tunggal dalam rantai tuntutan haruslah kuat. Harus kuat karena mengadili kasus ini tidak akan mudah. Memenangkan hukuman akan sulit," kata Ellison. Namun pengacara Benjamin Crump atau dikenal Ben Crump yang mewakili keluarga Floyd mengatakan dia yakin video itu akan menjelaskan kepada siapa pun jurinya.
"Kami punya harapan akan keadilan. Kami tidak akan pernah berhenti percaya bahwa kami akan mendapatkan keadilan yang sama," kata Crump.
Dia menambahkan, "Saya yakin kami akan memenangkan kasus ini, saya benar-benar yakin. Video ini sangat mengerikan."
Keluhan awal terhadap Chauvin menjelaskan apa yang terjadi pada hari ketika George Floyd terbunuh.
Berdasarkan keluhan yang ada, Petugas Thomas Lane bertanya pada Chauvin apakah mereka perlu mengubah posisi Floyd karena Floyd berulang kali mengatakan tidak bisa bernapas.
Chauvin menjawab, "Tidak, tetap di posisi awal kita menjatuhkannya."
Satu menit setelah Floyd menjadi tidak responsif, Lane berkata lagi, "...ingin ubah posisinya sekarang?" Petugas yang bernama J Alexander Kueng kemudian memeriksa denyut nadi Floyd dan berkata, "Denyutnya sudah tidak ada."
Sementara itu, hasil otopsi lengkap dirilis pada Senin kemarin atas izin keluarga Floyd dan menunjukkan bahwa pria Afrika-Amerika itu pernah mengidap Covid-19 tanpa gejala (asimptomatik). Namun, virus itu bukan sebab kematiannya.
Floyd tidak menunjukkan gejala ketika empat polisi Minneapolis membekuknya pada Senin (25/5/2020).
Hal tersebut diungkap oleh Dr Andrew Baker, kepala pemeriksa medis di Hennepin County.
Selain itu, keluarga Floyd telah melakukan otopsi independen yang dirilis minggu ini dan menunjukkan hasil berbeda.
Dalam otopsi tersebut, kematian Floyd disebabkan oleh asphyxia akibat tekanan di leher yang dilakukan Chauvin dan tekanan di punggung karena beban saat polisi Thomas Lane menindih perutnya.
Baca: Viral Foto Pria Bertato Peta Indonesia Ikut Rusuh Demo Kematian George Floyd, Begini Klarifikasinya
Baca: Demo Kematian George Floyd, Kelompok Antifa akan Dikategorikan Sebagai Teroris oleh Donald Trump
Baca: Tak Mau Dijarah Oknum Pendemo Kematian George Floyd, Pemilik Toko Senjatai Diri dengan Senapan AR-15
-
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kompas.com)