Korea Utara rupanya sedang berencana membuat Korsel menderita.
Korut sudah mengancam akan menutup kantor penghubung antara Korea Utara- Korea Selatan di perbatasan.
Negara pimpinan Kim Jong Un ini juga membatalkan perjanjian militer serta proyek lainnya.
Sebelumnya, Korut lewat pernyataan Kim Yo Jong, adik dari supreme leader Korut, Kim Jong Un, mengirim ancaman kepada Korsel.
Baca: Korut Ancam Batalkan Perjanjian karena Pamflet Propaganda, Korsel: Kami Diam saat Mereka Uji Nuklir
Baca: Korea Utara Akan Tembak Warga China yang Langgar Perbatasan, demi Cegah Penyebaran Corona
Dia menyatakan jika mereka akan mengancam membatalkan perjanjian militer dan menutup kantor penghubung di perbatasan jika Korsel gagal membatasi aktivitas para pembelot Korut yang menyebar pesan propaganda anti-Pyongyang di perbatasan.
Pihak Korsel pasca-ancaman tersebut langsung memberikan tanggapan jika mereka akan membuat undang-undang yang akan membatasi pergerakan aktivis dan pembelot Korut di perbatasan.
Akan tetapi, UU itu tampaknya justru menimbulkan perdebatan mengenai potensi pelanggaran kebebasan berekspresi di Korsel.
Dilansir Triunnewswiki dari AFP, Juru bicara Departemen Unifikasi Korea Utara pada Jumat (5/6/2020) menjelaskan, "Pertama-tama, kami tentu akan menarik kantor penghubung Utara-Selatan." Pernyataan itu dilansir oleh Kantor Berita Pusat Korea.
Juru bicara tersebut mengatakan, penutupan kantor penghubung tersebut menyusul beberapa tindakan untuk menghukum Seoul.
Baca: Pentagon Sebut Pasukan Nuklir AS Siap dan Kuat Hadapi Semua Musuh Termasuk Korea Utara
"Kami sedang memulai sesuatu yang akan melukai sisi Selatan, sesegera mungkin kami akan membuat mereka menderita."
Seorang pejabat dari kantor kepresidenan Korea Selatan menyebutkan, kampanye selebaran yang dilakukan pembelot dan aktivis itu "lebih punya sisi berbahaya daripada baiknya".
Sampai saat ini, operasi di kantor penghubung Utara-Selatan telah ditangguhkan akibat wabah virus corona.