Yaitu Bulan Perigee atau posisi dimana Bumi dan Bulan berada di titik terdekatnya.
Seperti yang kita ketahui, orbit Bulan dan Bumi berbentuk elips atau lonjong.
Sehingga akan ada saat dimana Bulan dan Bumi berada di titik dekat, yang disebut perigee dan di titik terjauh yaitu apogee.
Baca: Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG)
Baca: Hujan Meteor
Baca: Hujan Meteor hingga Matahari di Atas Kabah, Berikut Fenomena Langit Bulan Mei 2020, Catat Tanggalnya
Seperti yang dikutip dari Kompas.com, fenomena Bulan perigee terjadi pagi ini pukul 10.47 WIB.
Informasi tersebut telah dikonfirmasu benar adanya oleh Kepala Bidang Diseminasi Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Emanuel Sungging.
Emanuel mengatakan bahwa pada fenomena Perigee ini, jarak terdekat Bulan akan berada sekitar 364.390 kilometer dari pusat Bumi.
"Bulan akan nampak lebih besar jika diamati dari Bumi," kata Emanuel kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2020).
Bulan yang akan nampak lebih besar itu memiliki lebar sudut yang terlihat dari Bumi yaitu 32,8 menit busur.
Perigee ini bisa terjadi, karena dalam peredaran Bulan mengelilingi Bumi, lintasannya tidak lingkaran sempurna tetapi sedikit elips atau lonjong.
"Ada kalanya (Bulan) agak jauh dari Bumi disebut apogee, dan saat dekat disebut sebagai perigee," jelas Emanuel.
Mengenai pengaruh fenomena ini terhadap kondisi di Bumi, Emanuel menyebutkan bahwa paling utama adalah peningkatan air pasang karena adanya gravitasi Bulan.
"Tapi itu juga ditentukan oleh faktor lain," ujarnya
Fenomena Perigee ini bisa disaksikan di wilayah mana pun di Indonesia, asalkan cuaca baik.
Dampak fenomena Bulan perigee untuk Bumi
Dikutip dari Time and Date, Bulan perigee berbeda dengan fenomena Supermoon.
Supermoon adalah fenomena langka dimana Bulan Purnama atau Bulan Baru berada di titik perigee atau dekat dengan bumi.
Sehingga Bulan akan nampak lebih besar daripada saat satelit Bumi tersebut berada dalam kondisi purnama.
Perlu diketahui, Bulan berada pada kondisi perigee dan apogee bisa terjadi setiap dua kali dalam satu bulan.
Periode waktu dari perigee menuju apogee adalah sekitar 27,554555 hari yang disebut dengan anomalistic monntg.
Fenomena yang melibatkan Bulan biasanya dikaitkan dengan adanya pasang surut air laut.
Ketika Bulan Purnama atau Bulan Baru, pasang surut air laut juga terjadi.
Ketika Bulan perigee terjadi, terdapat peningkatan aktivitas pasang surut air laut sekitar 5 cm lebih besar.
Sebaliknya, ketika Bulan Apogee, pasang surut air laut akan berkurang sekitar 5 cm.
Sudah menjadi rahasia umum jika fenomena alam kerap dijadikan sebagai pertanda bencana.
Fenomena yang berkaitan dengan Matahari dan Bulan memang bisa mempengaruhi aktivitas tektonik.
Namun Bulan perigee tidak memiliki dampak besar bagi aktivitas tektonik.
Banyak penelitian yang dilakukan, dan hingga saat ini belum terdapat kesimpulan pasti jika fenomena yang berkaitan dengan Bulan bisa memicu bencana alam.
Baca: 4 Zodiak Ini Wajib Waspada di Bulan Juni 2020, Akan Tersesat dan Tertimpa Banyak Kesialan
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Gerhana Matahari Total Mengonfirmasi Teori Relativitas Umum Albert Einstein
Baca: Rentetan Fenomena Alam yang Akan Terjadi Minggu Ini: Dari Konjungsi Planet sampai Purnama Strawberry
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pagi Ini, Masyarakat Bisa Saksikan Perigee Bulan Tampak Lebih Besar"