Tanggalkan Atributnya, Sheriff Ini Bergabung dalam Demo Kematian George Floyd: Ayo Berjalan Bersama!

Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sheriff Genesee County Michigan, Chris Swanson berbaris dengan pengunjuk rasa ketika mereka berbicara menentang kematian George Floyd. Sumber: Twitter 'rightfromjumps1'

TRIBUNNEWSWIKI.COM – Seorang sheriff Genesee County, Christopher Swanson ikut bergabung dalam aksi demonstrasi kematian George Floyd.

Video yang memperlihatkan aksi Sherif Swanson tersebut tersebar luas di media sosial.

Dalam video itu, Swanson tampak telah melepaskan peralatan anti huru-hara yang dipakainya, dan meyakinkan pengunjuk rasa dia bersama mereka.

"Kami benar-benar ingin bersama kalian semua, jadi saya menanggalkan helm dan meletakkan tongkat saya. Saya ingin menjadikan ini parade, bukan protes," kata Swanson seperti dikutip dari SBS.com.au.

Swanson mengatakan, mereka bisa melihat massa bergerak menuju ke kantor ketika mereka tengah mengenakan perlengkapan anti huru-hara.

Merasa tidak yakin bisa menghadapi demonstran, Swanson melihat ada salah satu penegak hukum tos dengan seseorang dalam barisan massa.

Di saat itulah, Swanson langsung mengetahui bahwa masih ada jalur komunikasi yang bisa diusahakan antara penegak hukum dan pendemo.

Karena itulah, dia kemudian memutuskan untuk menanggalkan pakaian pelindung, mengabaikan persiapan yang dilakukan, dan mendekati pemimpin massa.

"Dan saya bertanya, 'Apa yang harus saya lakukan?' Mereka menjawab 'berjalanlah bersama kami'. Momen terbaik karier saya adalah ketika berujar 'ayo berjalan'," kata dia.

Baca: John Cusack Dilaporkan Diserang oleh Polisi saat Demo Terkait Kematian George Floyd di Chicago

Baca: Buntut Tewasnya George Floyd di Tangan Polisi, Gelombang Protes Muncul di 20 Kota di AS

Setelah itu Swanson dan massa berjalan sejauh satu kilometer, di mana dia mengaku seketika mendapatkan rasa damai di kedua pihak.

"Ini tidak akan terjadi jika mereka tak mendengarkan apa yang perlu saya katakan. Kesepakatan terjadi ketika saya mendengarkan keinginan mereka," jelasnya.

Ratusan pengunjuk rasa, baik dalam mobil maupun berjalan kaki, bergerak dari Miller Road di Flint Township, pada Sabtu (30/5/2020).

Mereka menjadi bagian dari aksi besar pergerakan menyikapi kematian George Floyd, yang tewas ketika dibekuk di Minneapolis Senin (25/5/2020).

Swanson mengatakan, aksi polisi yang menindih leher Floyd, Derek Chauvin, selama hampir sembilan menit merusak kinerja polisi.

Dia kemudian menekankan apa yang diperbuat Chauvin bukanlah cara mereka.

"Saya yakinkan, karena dia bukan bagian kami, jadi perilakunya tak dibenarkan," ucapnya.

Lebih lanjut, Swanson menyerukan kepada seluruh penegak hukum agar mengambil langkah berbeda dalam menenangkan demonstran.

"Masyarakat yang ingin mengatakan sesuatu akan terus berbuat kerusuhan jika tidak ada yang mendengarkan mereka," ucap sang Sheriff.

"Para pemimpin polisi, turunlah dari podium konferensi pers kalian maupun dari ruang komando, dan bicaralah dengan rakyat," tukasnya.

Baca: Deretan Selebriti Hollywood yang Turun ke Jalan untuk Ikut Demo Terkait Kematian George Floyd

Kisah serupa

Kisah lain yang menggambarkan aksi solidaritas aparat penegak hukum dalam demonstrasi kematian Floyd juga ditunjukkan oleh seorang petugas polisi di new Jersey.

Dilansir oleh New York Times, Kepala Kepolisian Wilayah Camden, Joe Wysocki, yang telah bekerja di kota itu selama beberapa dekade, bergabung dengan garis depan pawai di Camden pada Sabtu sore, mengenakan seragamnya, topeng pelindung wajah dan tanda perdamaian.

"Kemarin adalah contoh lain dari keterlibatan kami yang berkelanjutan, dan dialog yang sangat nyata, yang kami lakukan dengan penduduk di seluruh Camden yang telah menjadikan agensi kami bagian dari jalinan kota ini," kata Wysocki dalam pernyataan melalui email kepada The Associated Press.

Sejak kepolisian Camden dibubarkan dan direformasi pada 2013 sebagai agen daerah, petugas di sana sangat fokus pada pemolisian masyarakat.

Tidak aneh melihat mereka berjalan-jalan atau menghadiri pesta-pesta blok lingkungan seperti pada Sabtu malam di mana dua petugas membakar hamburger dan hot dog.

"Kami tahu bahwa bersama-sama kami lebih kuat, kami tahu bahwa bersama-sama, di kota Camden, kami dapat menciptakan ruang di mana kepolisian difokuskan pada deeskalasi dan dialog," kata Wysocki.

Baca: Barack Obama Menangis Lihat Video George Floyd, Minta Penegakan Hukum dan Usut Tuntas Kasus

Baca: Ini 4 Nama Polisi yang Diduga Terlibat atas Tewasnya George Floyd, Warga Kulit Hitam di Minnesota AS

Kemudian di California, petugas dari Departemen Kepolisian Santa Cruz berlutut di samping ratusan pengunjuk rasa yang berbaris di jalan pusat kota.

Kepala mereka Andy Mills ada di antara mereka, dengan Walikota Santa Cruz Justin Cummings juga bergabung dalam kerumunan.

Sementara itu, ada juga gambar menunjukkan petugas polisi tengah berlutut untuk George Floyd di New York dan Florida.

Aksi protes atas kematian seorang pria kulit hitam George Floyd telah meletus hampir di seluruh wilayah Amerika Serikat.

Dilansir oleh CNN, demonstrasi telah meletus setidaknya di 20 kota di Amerika Serikat  atas kematian pria kulit hitam tak bersenjata George Floyd, yang lehernya ditindih lutut oleh seorang perwira polisi di Minneapolis, Minnesota.

Dikutip dari AFP, peristiwa tersebut diketahui melalui sebuah video yang viral.

Di dalam video tersebut tampak polisi menahan seorang pria berkulit hitam yang kemudian diketahui adalah George Floyd, dan seorang polisi lainnya menekan lututnya ke leher Floyd.

Tak lama, Floyd diam dan tak bergerak.

 Dia bahkan tak bergerak ketika petugas memintanya untuk bangun dan masuk ke dalam mobil.

Dia kemudian dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia.

Penangkapan Floyd sendiri diketahui karena ia dituduh menggunakan uang kertas palsu ketika berbelanja di sebuah toko swalayan.

(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Viral, Video Sheriff Ini Bergabung dengan Demonstran Kematian George Floyd"



Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
BERITA TERKAIT

Berita Populer