Di Tengah Tekanan dari Amerika Serikat, China Dongkrak Anggaran Militer sebesar 2.645 Triliun

Penulis: Haris Chaebar
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Parade kekuatan militer China.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - China dan Amerika Serikat saat ini semakin berseteru terkait beberapa hal.

Setelah perang dagang, hubungan kedua negara semakin runcing berkat saling lempar tudingan terkait dalang di balik merebaknya pandemi Covid-19 dan tudingan Amerika Serikat bahwa China telah "berselingkuh" dengan organisasi kesehatan dunia (WHO).

Situasi tersebut diperparah dengan merebaknya dinamika protes di Hong Kong terkait kemerdekaan dari China daratan dan dalam hal ini Washington mengambil posisi mendukung keinginan rakyat Hong Kong merdeka, ketika Beijing meminta untuk tidak ada intevensi dari manapun terkait konflik ini.

Setelah Amerika Serikat memutuskan untuk meminta para sekutunya meninjau ulang proyek besar yang melibatkan China, saat ini pemerintahan negeri tirai bambu itu sedang bersiap dengan eskalasi terbesar, termasuk dari gertakan Amerika Serikat dari berbagai langkah diplomatik mereka yang agresif.

China mulai berancang-ancang menghadapi tensi yang semakin memanas di sejumlah wilayah.

Tahun ini, China telah menaikkan anggaran militer sebesar 6,6% menjadi 179 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 2.645 triliun (kurs Rp 14.774 per dollar AS).

Otoritas Tiongkok menyatakan kenaikan anggaran militer lantaran tantangan yang mereka hadapi semakin besar di dunia.

Tahun lalu, China mengalokasikan anggaran militer senilai 177,61 miliar dollar Amerika Serikat.

Baca: Klaim Miliki Lembah Sungai Galwan, China Serbu Garis Pertahanan India dengan 10.000 Pasukan Militer

Baca: Semakin Panas, Amerika Serikat Kini Minta Para Sekutunya Batalkan Proyek Besar dengan China

Baca: Amerika Serikat Putuskan Blacklist Puluhan Perusahaan China Pasca Terlibat Diskriminasi Etnis Uighur

Dengan demikian, anggaran militer tahun ini naik 6,6% year-on-year (yoy), menurut rancangan yang diajukan ke sesi tahunan Kongres Rakyat Nasional (NPC), Jumat (22/5) pekan lalu, seperti dikutip The Economic Times.

China terus menghadapi risiko dan tantangan baru dalam sistem pertahanan nasional dalam beberapa waktu terakhir, terutama merujuk pada ketegangan dengan Taiwan.

Parade militer China. (defensnews/AFP)

Hal tersebut diungkapkan Juru Bicara Pertahanan Wu Qian, dalam sesi pertemuan dengan NPC.

Berdasarkan skala dan alokasi, belanja pertahanan akan mengacu pada perkembangan ekonomi China dan persyaratan pertahanan nasional, ungkap Wu kepada para delegasi di sesi pertemuan.

Dari sudut pandang domestik, ada risiko keamanan multidimensi dan rumit karena mengemban misi anti-pemisahan yang lebih serius.

China berhadapan dengan otoritas Partai Progresif Demokratik yang berkuasa di Taiwan dan dinilai mengandalkan kekuatan dan dukungan asing.

Keamanan tanah air Tiongkok dan kepentingan luar negeri juga menghadapi beberapa ancaman nyata, misalnya di perbatasan India-China dan konflik Laut China Selatan, belum lagi menghadapi gertakan Amerika Serikat yang agresif dari Donald Trump.

Menurut Wu, Tiongkok harus mengedepankan pikiran yang jernih dalam pertahanan nasional dan bersiap untuk menghadapi bahaya di masa damai.

Keputusan meningkatkan anggaran pertahanan juga penting agar militer Tiongkok dapat memenuhi lebih banyak tanggung jawab internasional.

Wu mengklaim, ketika militer Tiongkok tumbuh kuat, masyarakat internasional mengharapkan mereka untuk berkontribusi lebih banyak terhadap keamanan publik.

Klaim Lembah Galwan India

Ketegangan antara China dan Amerika Serikat sudah terjadi semenjak naiknya Donald Trump sebagai Presiden negeri paman Sam.

Hubungan antara dua negara adidaya tersebut semakin memburuk.

Ketegangan itu pun melebar ke berbagai persoalan.

China saat ini semakin intensif dengan menunjukkan gestur siap "meladeni" Amerika Serikat.

Setelah menempatkan banyak pasukan di Laut Cina Selatan, China secara tegas juga meminta Amerika Serikat agar ikut campur persoalan kemerdekaan Hong Kong dan menyatakan siap melakukan langkah strategis jika Trump tetap gegabah.

Donald Trump dan Narendra Modi. (AFP)

Seperti diketahui, garis afiliasi politik India di bawah pimpinan Perdana Menteri, Narendra Modi yakni afirmatif ke Amerika Serikat.

Modi pun menyambut hangat kunjungan Trump ke India beberapa waktu lalu sebelum Pandemi Covid-19 dan pertemuan itu disebut banyak pihak sebagai sinyal penguatan hubungan diplomatik kedua negara.

Baca: Amankan Harta di Masa Pandemi, Orang-orang Kaya asal China Berburu Rumah Mewah di Asia Tenggara

Baca: Berlakukan Lockdown, Kasus Positif Covid-19 di India Lampaui China: Tembus 85 Ribu Kasus

Baca: Trump Berikan Ultimatum ke WHO dan Mengancam Akan Hentikan Pendanaan secara Permanen

Terkini, ada hampir 10.000 tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) yang menerobos masuk ke wilayah India.

China juga dikabarkan menolak permintaan India untuk melakukan pertemuan untuk menyelesaikan situasi tersebut.

Surat kabar lokal melaporkan, situasi yang paling mengkhawatirkan adalah di lembah Galwan, dimana pasukan PLA telah melintasi garis klaim China sendiri dan menerobos masuk 3-4 kilometer ke wilayah India.

"Pasukan PLA sedang menggali pertahanan untuk memperlengkapi diri menghadapi serangan India," tulis laporan tersebut seperti dilansir Thekashmirwalla, Selasa (26/05/2020).

Sebuah situs pertahanan China mengklaim bahwa seluruh lembah Sungai Galwan adalah bagian dari China.

Parade militer China. (tribune.com/AFP)

"Lembah Galwan adalah wilayah China dan situasi kontrol lokal sangat jelas," tulis web tersebut.

Menurut laporan ini, Tiongkok secara sistematis telah mengikis status Galwan mulai tahun 1965, diikuti klaim resmi pada 1960 dan kemudian olek aksi militer selama perang 1962.

Sebelumnya, surat kabar itu melaporkan bahwa pada 5 Mei, sekitar 5.000 tentara China menyeberang ke lembah Sungai Galwan, diikuti dengan serangan lain dalam jumlah yang sama ke sektor Danau Pangong pada 12 Mei.

Secara bersamaan ada serangan kecil di dekat Demchok, di Ladakh Selatan dan di Naku La di Sikkim Utara.

Sebelumnya surat kabar itu melaporkan bahwa pada 5 Mei, sekitar 5.000 tentara Tiongkok menyeberang ke lembah Sungai Galwan, diikuti dengan serangan lain dalam jumlah yang sama DI Danau Pangong pada 12 Mei.

Presiden China, Xi Jinping. (AFP)

Secara bersamaan, ada serangan kecil di dekat Demchok, di Ladakh Selatan dan di Naku La di Sikkim Utara.

Empat hari setelah intrusi Galwan, intrusi kedua China dimulai pada 9 Mei di Naku La, di Sikkim utara, juga melintasi perbatasan Sikkim-Tibet yang sudah mapan.

Sekitar 200 tentara China  menduduki wilayah India, tetapi sekarang telah mundur ke wilayah China dan telah mendirikan tenda.

Dalam intrusi ketiga, yang terjadi di dekat Danau Pangong pada 12/13 Mei, ribuan tentara China menduduki wilayah yang disengketakan antara Finger 8 dan Finger 4. Pada 18 Mei, China telah mengambil alih apa yang disebut Finger Heights.

Baca: Rutin Dikonsumsi Donald Trump, Hidroksiklorokuin Disebut Tingkatkan Risiko Kematian Pasien Covid-19

Baca: Meski Uji Coba Belum Selesai, China Berencana Gunakan Vaksin Virus Corona Akhir Tahun Ini

Baca: Langgar Aturan Lockdown, 10 Turis di India Dapat Hukuman Tak Biasa: Menulis ‘Saya Menyesal’ 500 Kali

“Walaupun gangguan ini tidak masuk ke wilayah yang sebelumnya diakui Beijing sebagai India, sekarang ada - untuk pertama kalinya - bendera Tiongkok yang berkibar di atas bukit menampilkan fitur yang menghadap ke danau.

Apa yang disebut Dhan Singh Post di India, yang dibangun setelah perang 1962, adalah pos India terakhir yang berdiri di sektor itu, ”kata laporan itu.

Tentara India dikabarkan lambat bereaksi.

Pasukan India telah dikerahkan di sekitar serangan PLA, tetapi tidak ada upaya untuk mengungguli posisi China.

Selain itu, satu atau dua brigade tentara India telah mulai bergerak ke daerah itu selama 2-3 hari terakhir.

(Tribunnewswiki.com/Ris)

Sebagian artikel tayang di Kontan dengan judul Jawab ancaman, China kerek anggaran militer menjadi US$ 179 miliar (Rp 2.645 triliun)



Penulis: Haris Chaebar
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
BERITA TERKAIT

Berita Populer