Kasus-kasus tersebut, tentu saja, menimbulkan berbagai macam dugaan terkait apakah ada hubungannya dengan Covid-19.
Apalagi, beberapa korban dalam kasus-kasus tersebut menunjukkan adanya gejala-gejala Covid-19 seperti sesak napas.
Namun, berbagai kasus tersebut belum dapat dipastikan secara nyata bahwa mereka meninggal karena terpapar Covid-19 atau bukan.
Untuk melakukan perawat atas para korban dalam kasus tersebut, seluruh tenaga medis yang menangani diwajibkan mengenakan alat pelindung diri (APD).
Meninggal saat masih memegang setir
Kejadian mengejutkan dialami oleh Sutiyo (54) warga Desa Rejoso, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang saat menjemput kedua anaknya di Pondok Pesantren Temboro, Magetan.
Sutiyo berangkat bersama seorang sopir, Sumadi (60), warga Desa Sentul, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Sabtu (25/4/2020).
Sesampainya di Temboro pukul 13.30 WIB, sang sopir Sumadi merasakan sesak napas dan minta istirahat.
Sesaat kemudian, mereka pulang ke Jombang.
Baca: 2 Tenaga Medis Covid-19 Ditembak KKB Papua Saat Antarkan Obat-obatan, Satu Ditemukan Meninggal
Baca: HOAKS, Pesan Whatsapp 7 Pasien Meninggal Dunia di RSUD Dr Moewardi, Solo Jawa Tengah
Tiba di lampu merah Dumpil, Desa Bagi, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, pukul 14.36 WIB, Sumadi mendadak tak sadarkan diri.
Dia meninggal dalam posisi duduk dan masih memegang setir. Sutiyo dan dua anaknya langsung keluar dari mobil dan meminta bantuan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Madiun, Muhammad Zahrowi mengatakan, tim BPBD bersama tim RSUD Caruban sudah membawa jenazah sopir itu ke rumah sakit.
"Kami membawa jenazah korban dengan APD lengkap dan standar penanganan jenazah Covid-19," kata Zahrowi dikutip dari Kompas.com, Sabtu (25/4/2020).
Pemudik dari Tangerang meninggal mendadak
Seorang warga Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Sugiono (48) meninggal secara mendadak.
Diketahui Sugiono baru saja beberapa hari kembali (mudik) dari Tangerang ke tempat asalnya di Grobogan.
Dari Tangerang, Sugiono sampai di kampung pada Kamis (23/4/2020) dan memeriksakan kondisinya yang sakit.
Kemudian, Sugiono kembali memeriksakan kondisinya ke bidan desa karena belum merasa sehat pada Sabtu (25/4/2020).
Namun, saat antre, Sugiono mendadak mengalami kejang-kejang hingga meninggal di tempat.
"Korban periksa dibocengkan anaknya naik motor.
Sampai di tempat bidan desa korban sempat kejang-kejang dan ditidurkan di kursi," kata Kepala Desa Tambakselo Sareh Joko Prasetyo.
Baca: Sudah Ajukan Cuti Tapi Ditolak Atasan, Seorang Dokter Hamil 8 Bulan Meninggal Akibat Terpapar Corona
Baca: Pasien Gejala Sakit Ginjal yang Meninggal Positif Covid-19, Pelayat dan Tim Medis Jalani Rapid Test
Namun, nyawanya tak dapat diselamatkan.
"Setelah diperiksa nyawanya sudah tak tertolong.
Kejadian pukul delapan pagi ini," kata dia.
Petugas Puskesmas Wirosari I dan kepolisian mengevakuasi jenazah menggunakan APD lengkap untuk dibawa ke RSUD dr Soedjati Soemodiardjo Purwodadi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, dr Slamet Widodo masih belum mengetahui penyebab kematiannya.
"Dugaannya jantung. Namun, kami akan tetap melakukan tracing mengingat korban ada riwayat ke luar kota," jelasnya.
Yuli (43), warga Kota Serang, Banten, meninggal dunia secara mendadak saat menuju Puskesmas Sindangdaru, Kota Serang, Senin (20/4/2020).
Kejadian itu membuat heboh karena beberapa hari sebelumnya, video curhat Yuli yang mengaku tidak makan dua hari sempat viral.
Dia bersama suami dan anaknya tidak makan karena tak punya uang sehingga terpaksa hanya minum air galon.
Namun, belum diketahui apakah kematiannya yang mendadak itu berhubungan dengan pengakuannya tidak makan dua hari.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Serang Hari Pamungkas, mengatakan, hasil visum tidak bisa dikeluarkan tanpa ada permintaan dari pihak keluarga atau penegak hukum.
"Untuk penyebab kematian tidak bisa diketahui, namun berdasarkan wawancara dengan keluarga, riwayat pasien dan kondisi jenazah sifat kematian sudden death atau kematian mendadak bisa disebabkan oleh serangan jantung," kata Hari.
Pegawai kantor Kelurahan Mandala, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, meninggal dunia mendadak, Rabu (22/4/2020) siang.
Kasubag Pemberitaan Humas Pemkot Makassar Hamzah Bakrie Muhammad mengatakan korban sempat ikut membersihkan halaman kantor.
Lokasi tersebut akan digunakan untuk Posko Covid-19.
Pria berusia 31 tahun itu tiba-tiba muntah dan mulutnya mengeluarkan darah saat masuk lobi kantor.
Kemudian korban dilarikan ke RS Labuang Baji, Makassar, namun nyawanya sudah tidak tertolong.
Baca: Idul Fitri di Tengah Pandemi, Prabowo Beri Pesan untuk Garda Terdepan Penanganan Covid-19
Baca: Berteriak dan Ancam Bunuh Diri, Pasien Positif dan PDP Covid-19 Minta Pulang Untuk Rayakan Lebaran
"Sampai di rumah sakit korban dinyatakan sudah meninggal.
Keluarga korban pun menyerahkan pihak RS Labuang Baji untuk proses pemakaman yang dilakukan sesuai protap Covid-19,” jelasnya.
Menurut keterangan dokter, korban tidak mengalami gejala Covid-19.
Namun, untuk prosedur kesehatan, petugas tetap memakamkan jenazah menggunakan APD lengkap.