Dari rakyat biasa hingga influencer ikut membantu meringankan beban para tenaga medis yang kekuarangan APD dan kebutuhan lainnya.
Hal ini sama seperti yang dilakuka oleh Steven Indra Wibowo.
Pria ini menjual seluruh hartanya guna membantu tenaga medis dalam menangani Covid-19.
Pria yang akrab disapa Koh Seteven ini merupakan mualaf dan berharap gerakannya ini mampu diikuti oleh orang kaya lainnya yang ada di Indonesia.
Koh Steven adalah pendiri serta Ketua Mualaf Centre Indonesia.
Baca: Krisis di Tengah Pandemi Corona, Kebun Binatang Bandung Dapat Bantuan dari Warga Sekitar
Baca: Pergoki Dugaan Korupsi Bantuan Sembako, Anggota DPRD Sumatera Utara Nyaris Berkelahi Dengan Petugas
Bagaimana ceritanya?
Selama membantu para medis dan warga terdampak corona, Koh Steven telah menjual dua rumah, tujuh mobil, dan tiga motor gede miliknya.
Kegiatannya menjual harta bendanya ini sudah sejak 2 bulan belakangan ini.
Waktu itu, saat di Yogyakarta, dia dan 11 orang dalam timnya merencanakan niat baik ini.
Dia hanya beranggapan jika segala harta yang dimilikinya hanyalah titipan Allah SWT.
Koh Steven pun juga menjelaskan, apapun yang dinamakan titipan semuanya pasti harus dikembalikan.
Pria mualaf ini hanya berusaha mencontoh apa yang telah Rasulullah SAW lakukan.
Dia mengatakan, Rasul pernah memperingatkan orang-orang jika ada dua hal yang tidak disukai manusia.
Pertama, kematian, padahal ini lebih baik daripada fitnah.
Kedua, kefakiran atau kemiskinan.
Padahal dengan sedikitnya harta, maka sedikit pula yang dihisab pada hari kiamat nanti.
"Saya memilih mengembalikan (harta) ini dengan cara yang baik. Momennya sekarang lagi bagus, karena cepat atau lambat (harta) itu akan kembali. Apalagi kelak Allah akan minta pertanggungjawaban," kata Steven ketika di Kota Bandung, Minggu (17/5).
Besaran uang yang terkumpul dari penjualan harta benda miliknya capai angka Rp 12 miliar.
Baca: Tagar #IndonesiaTerserah Trending di Media Sosial, Doni Monardo Beri Pesan ke Tenaga Medis
Seluruh uang tersebut digunakan untuk memproduksi 48 ribu pakaian hazmat yang dibagikan secara gratis ke 4.781 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia, 150 ribu masker.
Sebanyak 12 ribu di antara masker yang dibuat adalah masker N95 yang berlapis tujuh dan sisanya masker medis biasa yang tiga lapis.
"Kami juga sumbang hazmat ke tempat-tempat pemakaman umum, khususnya untuk para petugas yang turut memakamkan korban korona yang meninggal. Kami hanya memfasilitasi bantuan untuk fasilitas kesehatan, dokter, dan perawat yang resmi," tutur dia.
Koh Steven pun juga menjelaskan, dirinya paham betul dalam membuat hazmat ketika ia bekerja di salah satu perusahaan di Singapura.
Ketika itu, perusahaannya mendapatkan order untuk membuat pakaian hazmat dari WHO.
Akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk membuat pakaian hazmat pada Januari 2020.
Dirinya juga mengira pakaian hazmat itu untuk menangani virus seperti MERS.
Namun, baru setelah bertemu dengan pihak WHO, ditengakanlah bahwa pakaian tersebut untuk pakaian alat pelindung diri dari virus corona.
Koh Steven mengimpor bahan hazmat dari Jepang, sedangkan mesin pembuatnya diimpor dari China.
Pria ini selanjutnya belajar dari teman-teman di WHO mengenai caranya sanitizing, sterilisasi, dan bagaimana memasukkannya ke dalam bahan.
Kemudian dia belajar mengenai berbagai jenis UV.
Untuk sekarang ini, ada 70 lebih penjahit yang turut berkontribusi dalam memproduksi ribuan hazmat.
Mesin-mesin jahit yang diimpor tersebut diletakkan di rumah si penjahit supaya mudah dikerjakan.
Koh Steven juga menanggung biaya listrik rumah, termasuk juga membayar puluhan penjahit tersebut.
Para penjahit ini bekerja lebih dari 12 jam dan ongkos lemburnya tidak dibayar.
Bukan hanya memproduksi baju hazmat, dia juga memasang surgical gown untuk 43 ribu pakaian alat pelindung diri (APD) yang belum berstandar WHO.
“Para petugas medis meminta agar kami memasangkan surgical gown di bagian dalam hazmat agar virus corona tak bisa tembus,” ujarnya.
Kos Steven juga menyumbang 80 ribu liter hand sanitizer, ribuan paket sembako, dan makanan siap saji untuk orang-orang yang terdampak pandemi Covid-19.
Sampai sekarag ini, jumlah seluruh paket sembako yang sudah didistribusikan mencapai sebanyak 120 ribu paket.
Sementara, untuk makanan siap santap titalnya mencapai 560 ribu paket yang dibagikan gratis ke seluruh Indonesia.
"Kami berusaha untuk membantu warung-warung makan lokal agar tetap survive dengan cara order masakan dari mereka untuk dibagikan ke orang-orang yang membutuhkan. Makanan gratis siap saji tersebut kami peruntukkan bukan hanya untuk kaum muslim saja, tetapi semua orang yang membutuhkan uluran tangan kita,” kata dia menjelaskan.
Koh Steven berharap jalan yang dipilihnya ini bisa diikuti oleh masyarakat.
Dia memprediksi pandemi ini akan berlangsung lama dan akan semakin banyak warga terdampak sampai tidak mempunyai makanan.
"Aku berharap gerakan ini diduplikasi oleh orang lain, karena kapasitasku ini akan berakhir, pasti ada ujungnya dan ini akan menjadi panjang dan lama. Orang lapar pasti ada terus," tandasnya.
Artikel ini telah tayang di tribunlampung.co.id dengan judul "Koh Steven, Mualaf yang Sumbang APD dengan Jual 2 Rumah dan 7 Mobil Senilai Rp 12 Miliar"