WHO: Waspadai Sindrom Misterius pada Anak-anak yang Mungkin Terkait dengan Covid-19

Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Anak-anak Cina sudah mulai kembali ke sekolah, namun dengan munculnya sindrom misterius akan mempengaruhi keputusan tersebut. Foto: Xinhua

TRIBUNNEWSWIKI.COM – Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyerukan upaya global untuk memahami sindrom peradangan langka yang memengaruhi anak-anak dan remaja yang mungkin terkait dengan Covid-19.

WHO pada Jumat (15/5/2020) mengatakan, ada "kebutuhan mendesak" untuk mengumpulkan lebih banyak data dari seluruh dunia guna lebih memahami sindrom yang menyerang anak-anak tersebut.

Sindrom tersebut dapat menyebabkan beberapa kegagalan organ, dan menyerupai sindrom syok toksik serta penyakit Kawasaki, peradangan langka pada pembuluh darah yang biasanya mempengaruhi anak-anak kecil.

Anak-anak belum dianggap sebagai kelompok berisiko tinggi untuk terinfeksi Covid-19, dimana jumlah kasus Covid-19 yang terjadi pada anak-anak hanya  sekitar 2 persen dari jumlah kasus yang dikonfirmasi di AS dan Cina.

ILUSTRASI - Para ilmuwan AS telah bekerja untuk memahami sindrom inflamasi langka yang terkait dengan paparan virus corona baru. Foto: AFP (AFP)

Namun, kekhawatiran datang ketika siswa mulai kembali ke sekolah di negara-negara seperti Denmark, Australia dan Cina, sementara negara lain mempertimbangkan risiko melakukan hal yang sama.

Dilansir oleh South China Morning Post, anak-anak yang terinfeksi Covid-19 umumnya menunjukkan gejala yang lebih ringan daripada orang dewasa dan tidak dianggap sebagai penular utama penyakit ini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, tetapi tidak ada konsensus ilmiah tentang bagaimana mudahnya anak-anak dapat terinfeksi.

Baca: Dihujani Kritik, Presiden Donald Trump Pertimbangkan untuk Danai WHO 10 Persen dari Jumlah Biasanya

Baca: WHO Sebut Covid-19 Tak Akan Pernah Hilang, Jokowi: Kita Harus Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Sementara hanya ada sejumlah kecil kasus sindrom inflamasi parah sejauh ini.

WHO juga telah menyerukan layanan kesehatan di seluruh dunia untuk berbagi data tentang kasus-kasus potensial dari apa yang disebutnya sindrom inflamasi multisistem.

"Saya meminta semua dokter di seluruh dunia untuk bekerja dengan otoritas nasional Anda dan WHO untuk waspada dan lebih memahami sindrom ini pada anak-anak," kata direktur jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Jumat kemarin.

Gejalanya meliputi demam, ruam dan tanda-tanda peradangan pada tangan, mulut, atau kaki; hipotensi atau syok; masalah pencernaan dan kelainan pada jantung atau pembuluh darah.

Laporan awal menunjukkan bahwa sindrom inflamasi langka ini mungkin terkait dengan Covid-19, tetapi ini belum dikonfirmasi.

Sebuah rumah sakit di provinsi Bergamo Italia - bagian dari negara yang paling terpukul oleh Covid-19 - melaporkan peningkatan 30 kali lipat dalam insiden bulanan penyakit mirip Kawasaki dibandingkan dengan lima tahun terakhir.

Dari 10 pasien yang didiagnosis antara 18 Februari dan 20 April, delapan juga dinyatakan positif untuk antibodi Covid-19.

Gambar mikroskop elektron pemindai ini menunjukkan virus corona Wuhan atau Covid-19 (kuning) di antara sel manusia (merah) (Kompas.com, Hai.Grid.id)

Baca: Tembus 4,7 Juta Jiwa, Simak Update Terbaru Pasien Covid-19 di Seluruh Dunia 18 Mei 2020

Baca: Sindrom Inflamasi Langka Serang Anak-anak di Eropa dan AS, Diduga Terkait dengan Covid-19

Sekelompok anak-anak lain dengan sindrom inflamasi parah tercatat pada bulan April oleh dokter di Inggris, termasuk satu kematian.

Semua delapan anak yang terinfeksi kemudian dites positif antibodi Covid-19, tulis para peneliti dalam surat yang diterbitkan di The Lancet bulan ini.

Kemungkinan kasus juga telah dilaporkan di Prancis dan Spanyol.

Di New York, yang merupakan negara bagian AS yang paling parah terkena Covid-19, pejabat kesehatan sedang menyelidiki 102 kasus di mana anak-anak yang mungkin telah terinfeksi virus tersebut menunjukkan gejala-gejala sindrom peradangan.

Pada hari Rabu, gubernur negara bagian Andrew Cuomo mengatakan bahwa tiga anak dengan sindroma itu telah meninggal.

Hari berikutnya, Pusat Pengendalian Penyakit AS mengeluarkan peringatan kepada dokter di seluruh negeri untuk mencari kemungkinan kasus.

WHO mengatakan spektrum penuh dari penyakit itu belum jelas, dan belum pasti apakah "distribusi geografis di Eropa dan Amerika Utara mencerminkan pola yang sebenarnya, atau apakah kondisinya belum diakui di tempat lain".

Halaman
12


Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Archieva Prisyta

Berita Populer