Film bergenre melodrama keluarga dengan dibalut sedikit unsur komedi ini diproduksi oleh rumah produksi film Falcon Pictures.
“Kami tertarik untuk me-remake film Miracle in Cell No. 7 karena ini film bagus,” ungkap Frederica, selaku produser film Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia.
Baca: Berperan di Miracle In Cell No 7, Mawar De Jongh Mengaku Siap Dibandingkan dengan Park Shin Hye
Baca: Hanung Bramantyo Ungkap Bedanya Miracle In Cell No.7 Versi Indonesia dan Korea Selatan
Sebelumnya, kata Frederica, Miracle in Cell No. 7 sudah dibuat ulang oleh negara-negara lain, seperti Turki, Filipina, dan India.
“Falcon Pictures mendapat kesempatan me-remake film ini tentunya senang ya,” tutur Frederica.
Dalam proses pembuatan film penuh haru ini, produser, sutradara dan para pemain memiliki cerita tersendiri.
Sutradara film Hanung Bramantyo didapuk untuk mengerjakan film ini.
Menurutnya, bebannya sebelas duabelas seperti saat menggarap film Bumi Manusia.
“Beban kedua setelah film Bumi Manusia.”
“Kalau film Bumi Manusia novelnya sudah besar, dan film Miracle in Cell No. 7 ini juga sudah besar,” kata Hanung.
Sebagai film yang sudah terkenal, Miracle in Cell No. 7 telah ditonton oleh jutaan orang dan memiliki penggemar tersendiri.
Baca: CEO Disney Konfirmasi Tanggal Rilis Film Mulan untuk di Bioskop
Baca: Netflix Merilis Teaser Film The Old Guard, Dibintangi oleh Charlize Theron
“Banyak orang sudah menontonnya, ceritanya seperti apa, cast-nya seperti apa, sekarang kita dituntut untuk berbeda, tapi tidak keluar jalur.”
“Ini berat banget dan sulit, tidak ada pelajarannya di kuliah,” aku sutradara asal Yogya tersebut.
Hanung mengatakan, perlu penyesuaian dengan kondisi di Indonesia untuk film buatan Korea Selatan tersebut.
Salah satunya adalah proses hukum yang terjadi di versi aslinya.
“Kita membuat ini berada di dalam negara sendiri, kota sendiri bahkan nama penjaranya penjara yang fiktif di sini.”
“Jadi aspek dan tata cara sistem hukumnya di sini tidak plek (sama seperti) sistem di Indonesia,” jelas Hanung.
Vino mengaku senang bisa menjadi bagian dari film favoritnya ini.
Ayah satu anak ini mengaku menangis saat menonton film aslinya karena teringat sang anak.
“Ketika gue nonton itu memang yang nangisnya itu benar-benar kejer banget karena gue punya anak yang umurnya hampir sama kayak di karakter film itu,” aku Vino.
Pemeran utama film Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia ini juga menjelaskan karakternya di film Miracle in Cell No. 7.
Baca: FILM – Miracle in Cell No 7 (2013)
Baca: Miracle in Cell No 7 Dibuat Versi Indonesia Dibintangi Vino G Bastian, Tora Sudiro, dan Indro Warkop
“Saya berperan sebagai Dodo Rojak, tukang balon dan memiliki disabilitas.”
“Saya sudah nonton film versi Korea sudah lama,” ungkap Vino.
Film Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia mengangkat kisah yang sama dengan film dari negara aslinya, Korea Selatan.
Kartika yang diperankan oleh Graciella Abigail adalah seorang anak yang dibesarkan oleh sang ayah, Dodo Rojak yang diperankan oleh Vino G. Bastian, seorang penyandang disabilitas.
Dodo Rojak bekerja sebagai penjual balon.
Mereka termasuk dalam keluarga yang kurang mampu dan tinggal di lingkungan yang agak kumuh dan dekat dengan rel kereta.
Karena suatu kejadian, Dodo Rojak dituduh membunuh dan memperkosa anak seorang petinggi kepolisian demi sebuah tas Sailor Moon yang diinginkan oleh Kartika.
Meski sang ayah berkata jujur, tak ada yang percaya, sehingga akhirnya dijebloskan ke penjara di sel nomor 7.
Selain Vino G. Bastian, aktor lain juga turut membintangi film ini, yaitu Mawar Eva de Jongh, Indro Warkop, Tora Sudiro hingga Denny Sumargo.
Film ini juga menggaet dua stand-up komedian, yaitu Indra Jegel dan Rizki ‘Rigen’ Rakelna.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sutradarai Miracle in Cell No. 7, Hanung Bramantyo: Beban Berat Kedua setelah Bumi Manusia"