Sampai saat ini jumlah kasus virus cororna di seluruh dunia mencapai 4.014.475 kasus per Sabtu (9/5).
Dilansir Tribunnewswiki dari Worldmeters, jumlah pasien sembuh tertulis 1.387.251 orang dan 276.253 lainnya dinyatakan meninggal dunia.
Tidak sedikit pasien yang terjangkit corona mengalami gejala yang tidak dirasakan oleh pasien lainnya.
Mulai dari ruam kaki sampai kesemutan.
Pasien yang terjangkit virus corona umumnya akan mengalami gejala umum seperti demam, kelelahan hingga batuk kering.
Seperti yang dikabarkan Organisasi Kesehatan Dunia beberapa waktu silam.
Baca: Kabar Gembira Akhirnya Ilmuwan Indonesia untuk Pertama Kalinya Sukses Memetakan Covid-19
Baca: Ilmuwan Peringatkan Virus Corona Bisa Bermutasi Ciptakan Jenis yang Lebih Mematikan dari Lainnya
Ditambah dengan gejala lain seperti pilek, sakit tenggorokan, hidung tersummbat, sakit, diare, dan hilangnya indera perasa atau bau.
Akan tetapi, belum lama ini, peneliti menemukan beberapa gejala tak biasa yang dialami oleh pasien virus corona.
Melansir berita dari The Guardian pada Sabtu (9/5/2020), berikut ini gejalanya:
1. Ruam kaki
Pasien Covid-19 di beberapa negara melaporkan merasakan ruam di jari-jari kaki.
Gejala tersebut hampir sama dengan chilblains.
Childblains adalah lesi di tangan dan kaki yang umumnya dirasakan penderita Covid-19 dengan usia kanak-kanak.
Kondisi tersebut disebut dengan Covid toe.
Ruam bisa berbentuk lesi merah atau ungu dan ditemuan di sisi atau telapak kaki bahkan pada tangan dan jari.
The European Journal of Pediatric Dermatology melaporkan, kasus Covid-19 terjadi pada anak-anak dan remaja di Italia.
Ruam yang ditemukan tak seperti ruam lain terkait virus corona.
Sebelumnya gejala tersebut belum pernah diteliti.
2. Konjungtivitis atau mata merah
Konjungtivitas merupakan gejala yang jarang terjadi pada kasus virus corona, dengan adanya virus ditemukan dalam air mata.
Di Inggris, Royal College of Ophthalmologists dan College of Optometrists menemukan bukti jika infeksi saluran pernapasan atas dapat menyebabkan konjungtibitis sebagai komplikasi sekunder.
Hal itu pun terjadi pada kasus Covid-19.
Dalam penelitian juga telah dinyatakan jika tak mungkin seseorang akan mengalami konjungtivitis akibat virus corona tanpa adanya gejala demam atau batuk etrus menurus.
Berdasarkan data dari penelitian, konjungtivitis menjadi gejala yang lambat terjadi.
3. Nekrosis
Sebuah penelitian di Spanyol yang diterbitkan dalam British Journal of Dermatology menemukan bahwa 6 persen pasien dari 357 kasus virus corona mengalami nekrosis.
Nekrosis merupakan kematian jaringan tubuh sebab kurangnya suplai darah, atau livo, perubahan warna kuit.
Kulit akan berubah menjadi belang dan berwarna ungu atau merah.
Penelitian tersebut menjelaskan, gejala nekrosis ditemukan pada pasien lebih tua dengan kasus virus corona yang lebih parah.
Akan tetapi, ternyata nekrosis pun ditemukan pada beberapa pasien positif Covid-19 dan tidak perlu rawat inap.
Penelitian lain pada 214 pasien di China yang diterbitkan dalam Jama Neurology bulan lalu menyebut, lebih dari sepertiga atau sekira 36,4 persen pasien telah mengalami gejala neurologi seperti pusing atau sakit kepala.
Persentase ini naik menjadi 45,5 persen pada pasien dengan infeksi virus corona parah.
Profesor Virologi di University of Reading Prof Ian Jones yang memberikan pendapat tentang penelitian itu mengatakan, gejala tersebut terjadi namun umumnya bukan karena virus corona.
Pusing dan sakit kepala diakui sebagai konsekuensi dari keparahan penyakit Covid-19.
Beberapa pasien juga mengatakan kesemutan sampai terasa terbakar.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di RS Mount Sinai New York Dr Waleed Javaid mengatakan, kemungkinan respon kekebalan pasien terhadap virus corona yang menyebabkan sensasi demikian.
“Ada respon imun luas yang terjadi. Sel-sel kekebalan tubuh kita diaktifkan sehingga banyak bahan kimia dilepaskan ke seluruh tubuh kita dan itu dapat hadir atau terasa seperti ada beberapa desis."
"Ketika respons kekebalan tubuh kita meningkat, orang-orang dapat merasakan sensasi yang berbeda ... Saya telah mendengar pengalaman serupa di masa lalu dengan penyakit lain," jelasnya kepada Today.com.