Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kota Surakarta, juga disebut Solo, adalah wilayah otonom dengan status Kota di bawah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dengan penduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan 13.636/km2.
Kota dengan luas 44 km2, ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.
Kota ini juga merupakan kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian selatan setelah Bandung dan Malang menurut jumlah penduduk.
Kota Surakarta terletak di antara 110 45` 15" - 110 45` 35" Bujur Timur dan 70` 36" - 70` 56" Lintang Selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.
Etimologi
"Sala" adalah satu dari tiga dusun yang dipilih oleh Sunan Pakubuwana II atas saran dari Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, ketika akan mendirikan istana baru, setelah perang suksesi Mataram terjadi di Kartasura.
Pada masa sekarang, nama Surakarta digunakan dalam situasi formal-pemerintahan.
Sedangkan nama Sala/Solo lebih merujuk kepada penyebutan umum yang dilatarbelakangi oleh aspek kultural.
Kata sura dalam Bahasa Jawa berarti "keberanian" dan karta berarti "makmur".
Dengan harapan bahwa Surakarta menjadi tempat dimana penghuninya adalah orang-orang yang selalu berani berjuang untuk kebaikan serta kemakmuran negara dan bangsa.
Dapat pula dikatakan bahwa nama Surakarta merupakan permainan kata dari Kartasura.
Kata sala, nama yang dipakai untuk desa tempat istana baru dibangun, adalah nama pohon suci asal India, yaitu pohon sala Shorea robusta.
Ketika Indonesia masih menganut Ejaan van Ophuysen, nama kota ini dieja Soerakarta.
Namun, sejumlah catatan lama menyebut, bentuk antara "Salakarta". (1) (2)
Sejarah
Sejarah kuno Solo dimulai ketika ditemukannya manusia purba Homo erectus di Sangiran, Kabupaten Sragen.
Selain itu sebuah penelitian menyebutkan bahwa nama Solo ada karena Kota Surakarta didirikan di sebuah desa bernama Desa Sala, di tepi Sungai Solo.
Sampai tahun 1744, Solo dikenal sebagai desa terpencil dan tenang, berjarak 10 km ke timur dari Kartusura, pusat Kerajaan Mataram pada waktu itu.
Tetapi pada masa kepemimpinan Susuhan Mataram Pakubuwono II, Kerajaan Mataram didukung China melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Sebagai akibatnya Kartusura akhirnya diduduki oleh Belanda.
Kondisi ini menghatuskan Pakubuwono II mencari tempat yang lebih menguntungkan untuk membangun kembali kerajaannya dan pada tahun 1745 kerajaan di Kartusura dibongkar dan diangkut dalam sebuah prosesi ke Surakarta, di tepi Sungai Solo.
Namun kejayaan kerajaan terus menurun, pada tahun 1757 sebuah kerajaan saingan dari Mangkunegoro didirikan tepat di pusat Solo.
Namun bangsawan dengan bijak menghindari pertempuran dan mencurahkan energinya untuk mengembangkan seni dan budaya kerajaan yang anggun dan menawan.
Paviliun gamelan menjadi arena baru persaingan, masing-masing kerajaan berkompetisi menghasilkan budaya kerajaan yang lebih halus dan kondisi ini masih berlanjut sampai sekarang. (3)
Geografi
Surakarta terletak di dataran rendah di ketinggian 105 m dpl dan di pusat kota 95 m dpl, dengan luas 44,1 km2 (0,14 % luas Jawa Tengah).
Tanah di sekitar kota ini subur karena dikelilingi oleh Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa, serta dilewati oleh Kali Anyar, Kali Pepe, dan Kali Jenes.
Mata air bersumber dari lereng gunung Merapi, yang keseluruhannya berjumlah 19 lokasi, dengan kapasitas 3.404 l/detik.
Ketinggian rata-rata mata air adalah 800-1.200 m dpl.
Pada tahun 1890 – 1827 hanya ada 12 sumur di Surakarta.
Saat ini pengambilan air bawah tanah berkisar sekitar 45 l/detik yang berlokasi di 23 titik.
Pengambilan air tanah dilakukan oleh industri dan masyarakat, umumnya ilegal dan tidak terkontrol.
Menurut klasifikasi iklim Koppen, Surakarta memiliki iklim muson tropis.
Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, musim hujan di Solo dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September.
Rata-rata curah hujan di Solo adalah 2.200 mm, dan bulan paling tinggi curah hujannya adalah Desember, Januari, dan Februari. (2)
Kecamatan
Kota Surakarta memiliki 5 kecamatan dan 54 kelurahan dengan kode pos 57110 hingga 57157.
Kelurahan paling barat adalah Karangasem, Laweyan, paling utara Kadipiro, Banjarsari, paling timur Jebres, Jebres, paling selatan Joyotakan, Serengan.
Kota Surakarta dan kabupaten di sekelilingnya seperti, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, secara kolektif masih sering disebut sebagai eks-Karesidenan Surakarta. (2)
Pendidikan, Ekonomi dan Layanan Publik
Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 68.153 siswa dan 869 sekolah di Surakarta, dengan perincian: 308 TK/RA, 292 SD/MI, 97 SMP/MTs, 56 SMA/MA, 46 SMK, 54 PT, dan 16 sekolah lain.
Di bidang pendidikan ini pula, selain terdapat sekolah-sekolah formal, juga terdapat lembaga penyelenggara pendidikan non formal, yaitu Lembaga Pendidikan Belarina Privat yang membuka kursus bimbingan belajar.
Di Surakarta terdapat dua universitas besar, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),keduanya memiliki lebih dari 0 mahasiswa aktif dan termasuk katagori 50 universitas terbaik di Indonesia.
Demikian pula terdapat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Selain itu terdapat 52 universitas swasta lainnya seperti Unisri ( Universitas Slamet Riyadi ), Universitas Tunas Pembangunan, Universitas Setia Budi, STIKES Muhammadiyah, Universitas Islam Batik, dll. Surakarta juga kini menjadi tempat tujuan studi para lulusan SMA dari seluruh Indonesia.
Industri batik menjadi salah satu industri khas Surakarta.
Sentra kerajinan batik dan perdagangan batik antara lain di Laweyan dan Kauman.
Pasar Klewer serta beberapa pasar batik tradisional lain menjadi salah satu pusat perdagangan batik di Indonesia.
Perdagangan di Surakarta berada di bawah naungan Dinas Industri dan Perdagangan
Selain Pasar Klewer, Surakarta juga memiliki banyak pasar tradisional, di antaranya Pasar Gedhe (Pasar Besar), Pasar Legi, dan Pasar Kembang.
Pusat bisnis kota Surakarta terletak di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.
Beberapa bank, hotel, pusat perbelanjaan, restoran internasional, hingga tujuan wisata dan hiburan terletak di sepanjang jalan protokol ini.
Beberapa rumah sakit bersejarah antara lain RS Kadipolo dan Rumah Sakit Panti Kosala (Kandang Sapi).
Sementara rumah sakit lain dengan fasilitas UGD 24 jam antara lain RSUD Moewardi, RS PKU Muhammadiyah, RS Islam Surakarta (Yarsis), RS Kustati, RS Kasih Ibu, RS Panti Waluyo, RS Brayat Minulyo, dan RS Dr. Oen Solo Baru.
RS Ortopedi Dr. Soeharso adalah salah satu pusat ortopedi terkemuka di Indonesia yang pernah menjadi pusat rujukan tulang nasional. (2)
Pariwisata
Surakarta juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang biasa didatangi oleh wisatawan dari kota-kota besar.
Biasanya wisatawan yang berlibur ke Yogyakarta juga akan singgah di Surakarta, atau sebaliknya.
Tujuan wisata utama kota Surakarta adalah Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan kampung-kampung batik serta pasar-pasar tradisionalnya.
Wisata-wisata alam di sekitar Surakarta antara lain Kawasan Wisata Tawangmangu (berada di Kabupaten Karanganyar), Kawasan Wisata Selo (berada di Kabupaten Boyolali), Umbul Ponggok di Kabupaten Klaten dan juga Umbul Manten, Agrowisata Kebun Teh Kemuning, Air Terjun Jumog, Air Terjun Parang Ijo, Air Terjun Segoro Gunung, Grojogan Sewu, dan lain-lain.
Selain itu di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di lereng Gunung Lawu, terdapat beberapa candi peninggalan kebudayaan Hindu-Buddha, seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Monyet.
Selain itu ada juga Candi Plaosan, Candi Sewu yang berada di Kabupaten Klaten, dan lain-lain. (3)