Di antara mereka adalah tenaga kesehatan yang bekerja menangani dan merawat pasien corona atau covid-19.
Karena tugasnya berat, apakah tenaga kesehatan diperbolehkan tidak berpuasa dalam menjalankan tugasnya selama pandemi corona?
Dilansir dari Kompas.com, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, sempat memberikan penjelasan mengenai hal ini.
Haedar mengatakan bahwa ibadah puasa tetap wajib dilakukan setiap Muslim yang memenuhi syarat.
Namun, ada imbauan khusus bagi tenaga kesehatan yang sedang bertugas.
Jika tenaga kesehatan tersebut memang memerlukan stamina kuat dan apabila berpuasa justru terjadi masalah, maka diperbolehkan mengganti lain waktu.
Selain itu, Haedar meminta umat Muslim melakukan cara-cara khusus agar covid-19 juga tidak menyebar.
Hal ini dilakukan mengingat kondisi darurat sedang terjadi.
"Semuanya dilakukan karena situasi darurat, semoga kita dapat keluar dari musibah berat ini," kata Haedar dikuti dari Kompas.com.
Baca: Ramadan di Tengah Pandemi Virus Corona, MUI Imbau Aktivitas Buka Bersama Diganti Sedekah Saja
Baca: Jokowi Resmi Larang Mudik Lebaran, Menko Luhut Ungkap Sanksi Bagi yang Nekat Berlaku Mulai 7 Mei
Ketum PP Muhammadiyah ini juga mengimbau untuk tidak memaksakan salat tarawih di masjid.
Disarankan melaksanakan tarawih di rumah, bisa sendiri maupin berjamaah dengan anggota keluarga.
"Demikian pula tidak perlu beriktikaf di masjid, bisa di rumah dengan tetap khusyuk," ujar Haedar.
Kegiatan di masjid juga dikurangi, misal tidak berbuka puasa di masjid, tetapi di rumah.
Haedar meminta tidak ada kegiatan ceramah atau yang lainnya di masjid.
Sebagai gantinya, ceramah dapat dilakukan secara daring atau online.
Namun, azan dan iqamah dapat dilakukan di masjid, hanya sebagai penanda waktu salat lima waktu.
Umat Islam disarankan melakukan salat wajib di rumah.
Selain itu, Haedar menyarankan agar masyarakat tidak mudik Lebaran agar wabah covid-19 tidak semakin meluas.
"Demi cegah kedaruratan dan untuk kemaslahatan semua, tidak perlu mudik Lebaran. Mudik dapat diganti dengan komunikasi daring yang hangat dan penuh persaudaraan," kata Haedar.
Haedar juga mengatakan bahwa ikhtiar dan doa harus terus dilakukan dan semuanya memerlukan kesadaran bersama.
Baca: Ramadan Saat Pandemi Corona atau Covid-19, Umat Muslim di Dunia Belajar Jadi Lebih Sederhana
Baca: 5 Kegiatan yang Bisa Kamu Lakukan Selama Berpuasa Ramadan Ditengah Pandemi Virus Corona
Masyarakat di sejumlah daerah terpaksa meniadakan tradisi menyambut Ramadan karena situasi masih darurat akibat wabah corona atau covid-19.
Selain meniadakan, ada juga penyesuaian tradisi yang sebelumnya rutin dilaksanakan selama Ramadan.
Hal ini terpaksa dilakukan agar mencegah perluasan wabah corona.
Dilansir dari Kompas.com, berikut beberapa tradisi dan ibadah Ramadan yang terpaksa ditiadakan atau disesuaikan.
Umat muslim di Sumedang, Jawa Barat, memiliki banyak tradisi menyambut Ramadan.
Namun, tradisi-tradisi tersebut terpaksa ditiadakan demi keselamatan.
Salah satu tradisi yang terkenal adalah munggahan gembrong liwet.
Dalam tradisi gembrong liwet, warga Desa Citali berkumpul di lapangan kemudian memasak nasi liwet dan menyantapnya bersama.
"Gembrong liwet merupakan tradisi menyambut bulan suci Ramadan atau seminggu sebelum memasuki bulan suci," kata Kepala Desa Citali Pamulihan Nana Nuryana dikuti dari Kompas.com
Namun, kerumunan dapat memperluas penyebaran virus corona sehingga tradisi itu terpaksa ditiadakan tahun ini.
"Iya, demi keselamatan dan keamanan bersama," katanya.
Sementara itu di Tasikmalaya, Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman melarang berbagai acara munggahan warga.
Munggahan adalah tradisi berkumpul bersama sebelum memasuki hari pertama puasa.
"Tahun ini, tidak perlu ada munggahan, berkumpul dan sebagainya. Munggahan atau tradisi berkumpul jelang Ramadan dilarang tahun ini karena kita sedang di masa pandemi corona," kata dia.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak ngabuburit atau kumpul warga saat menunggu buka puasa.
Demi keselamatan, masyarakat diminta tetap beribadah di rumah masing-masing.
Baca: Ramadan dan Corona, Ini Aneka Menu Tahan Lama untuk Pilihan Sahur Buka Puasa Anak Kos
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, meminta masyarakat melaksanakan tarawih di rumah selama masa pandemi corona agar sesuai dengan anjuran Kementerian Agama.
"Sesuai dengan arahan dari Kemenag, kami mengajak warga untuk melaksanakan kegiatan peribadahan selama Ramadhan di rumah, termasuk shalat tarawih," ujar Dony
Apalagi, pada Rabu (22/4/2020), Sumedang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama 14 hari.
Melalui para ulama, Pemkab Sumedang mengajak seluruh warga untuk menjadikan rumah sebagai pusat kegiatan keagamaan selama Ramadan.
Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, mengeluarkan Maklumat Nomor 443.1/1/2020 mengenai Ketentuan Pelaksanaan Ibadah.
Ibadah di bulan suci Ramadan akab dilaksanakan sesuai ketentuan fiqih dengan memperhatikan sejumlah hal.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan meminta warga menjalankan salat tarawih di rumah.
Acara pengumpulan massa seperti sahur on the road atau buka bersama tidak diperlukan.
Ada tradisi pasar bedug selama Ramadan di Jambi dan sejumlah pedagang biasanya meramaikan tradisi ini.
Namun, pemerintah daerah melakukan penyesuaian dan pasar bedug pun diubah menjadi pasar bedug online.
Disperindag akan mendata pedagang makanan atau kuliner dan nomor telepon dan jejaring mereka akan digunakan dalam sistem pasar bedug online.
Hal ini dilakukan agar mencegah penularan covid-19.
(Tribunnewswiki.com/Febri/Kompas.com/Fitria Chusna Farisa/Aam Aminullah, Irwan Nugraha)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ramadhan di Tengah Pandemi Corona, Sederet Penyesuaian Tradisi dan Ibadah di Sejumlah Daerah" dan "Muhammadiyah Mulai Ramadhan Jumat Ini, Berikut Imbauan Terkait Covid-19"