Munggahan

Penulis: Haris Chaebar
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Tradisi Munggahan masyarakat Sunda.


Daftar Isi


  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Munggahan adalah tradisi atau kebiasaan secara turun temurun yang banyak dilakukan oleh pemeluk agama Islam pada masyarakat Sunda dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Munggahan berasal dari Bahasa Sunda yang berarti unggah atau naik, yang berarti naik ke bulan suci yang tinggi derajat. (1)

Tradisi Munggahan umum dilakukan oleh masyarakat Sunda di berbagai daerah pada Provinsi Jawa Barat.

Baca: Ramadan

  • Arti


Secara etimologis Munggahan berasal dari kata unggah yang memiliki arti mancat atau memasuki tempat yang agak tinggi.

Kata unggah dalam Bahasa Sunda berarti kecap pagawean nincak ti han-dap ka nu leuwih luhur, naek ka tempat nu leuwih luhur yang artinya kata kerja beranjak dari bawah ke yang lebih atas, naik ke tempat yang lebih atas.

Di dalam Kamus Umum Bahasa Sunda tahun 1992, munggah berarti hari pertama puasa pada tanggal satu bulan ramadhan.

Dari sumber lain menyebutkan Munggahan berasal dari kata unggah yang berarti naik undakan untuk masuk, misalnya ke rumah atau ke masjid (dulu rumah dan masjid berbentuk panggung).

Dalam lidah orang Sunda kata unggah sering diawali huruf ‘m’ hingga akrab dilafalkan munggah.

Kata ini sering dikaitkan dengan proses ibadah haji (munggah haji). (2)

Dalam ibadah ini terjadi proses naik (bergerak) secara lahiriyah dan (seharusnya) batiniyah.

Secara lahiriyah berarti naik pesawat terbang atau kapal laut. Sedangkan secara batiniyah adalah berubah dari sifat yang buruk menjadi lebih baik (mabrur).

Sedangkan “munggah” dalam menghadapi bulan puasa, yaitu unggah kana bulan nu punjul darajatna, artinya naik ke bulan yang luhur derajatnya. Dari kata munggah tersebut tersirat perubahan, baik secara lahiriyah dan (seharusnya) batiniyah.

Secara lahiriyah misalnya, kita harus menahan diri dari rasa haus dan lapar.

Jadwal makan berubah dari biasanya. Tapi seharusnya berubah dalam pemikiran, ibadah, sikap hidup dll. yang tentunya ke arah yang lebih baik. Seandainya semua itu terlaksana, itulah orang yang benar-benar menang, (suci, fitri) di hari lebaran.

Seiring dengan perkembangan zaman, Munggahan hanya diartikan sebagai makan-makan atau kumpul-kumpul bersama keluarga atau teman dalam menyambut bulan ramadhan.

Meski tradisi munggahan mulai memudar, walau belum hilang secara keseluruhan, tapi dengan acara makan bersama tersebut diharapkan bisa mempererat tali silaturahmi.

Baca: Padusan

Tradisi Munggahan menjelang bulan Ramadan, khas masyarakat Sunda. (alif.id)

  • Manfaat


Tradisi munggahan bukan hanya sebuah kebiasaan yang sudah menjadi budaya bagi masyarakat sunda.

Tradisi munggahan memberikan banyak manfaat dan makna bagi mereka.

Diantaranya mempererat silaturahmi baik dengan keluarga, teman, sahabat, kerabat, saudara bahkan juga dengan tetangga kita sendiri.

Disamping kita dapat bersilaturahmi, kita juga dapat saling memaafkan sehingga kita mempunyai hati yang bersih untuk memulai ibadah puasa.

Kita juga bisa memberikan kebutuhan pokok pada warga miskin tanpa membeda-bedakan untuk digunakan pada hari pertama menjalankan puasa. Selain itu juga merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Munggahan kalau direnungkan akan mempererat rasa kolektif antar manusia hingga dapat mengeluarkan diri dari jurang kemiskinan.

Tradisi munggahan juga secara praksis sosial adalah salah satu aktus atau habitus yang bakal menaikkan diri kita ke tangga pribadi yang sarat nilai-nilai kemanusiaan.

Oleh karena itu, bulan puasa harus dijadikan bulan untuk meninggalkan perilaku sombong, pelit, jail, sirik dan fitnah yang merupakan representasi anomali kemanusiaan dalam diri kita.

Sebetulnya makna dari tradisi munggahan adalah untuk introspeksi diri dari segala kesalahan yang sudah pernah kita lakukan sebelumnya, dan semoga sebelum memasuki bulan Ramadhan tersebut, segala kesalahan kita terutama kepada sahabat, teman dan keluarga dapat diampuni. Yang pada akhirnya kita memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan bersih hati dan bersih diri.

Tradisi Munggahan, punya makna menyambut bulan yang suci nan derajat tinggi (Ramadan) sekaligus menjaga silaturahmi dengan orang keluarga dan orang sekitar. (industry.co.id)

Baca: Padusan

  • Pelaksanaan


Munggahan bermakna orang yang berpuasa akan naik perasaannya, mengawali awal bulan puasa dengan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Selain itu sebagai ungkapan rasa syukur.

Tradisi Munggahan itu sendiri diadakan sehari sebelum puasa.

Aktivitas yang dilakukan dalam tradisi Munggahan diantaranya melakukan makan bersama dengan keluarga, kerabat dan tetangga. Tujuannya untuk menyambung silaturahmi.

Tradisi Munggahan ada yang resmi dengan melakukan ritual seperti ziarah kubur di makam orang tua atau saudara, bisa juga ziarah di makam para wali atau syekh, juga ulama yang turut menyebarkan agama Islam di suatu daerah.

Tradisi Munggahan selain mengadakan makan dan do’a bersama, tradisi ini juga merupakan sebuah sarana dalam mempertahankan nilai toleransi, tenggang rasa, saling menghormati dan menjaga keharmonisan antar sesame bagi masyarakat Sunda.

Tradisi Munggahan dilestarikan secara turun temurun.

Lantaran tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Sunda atas kedatangan bulan suci Ramadan, maka pelaksanannya dilakukan sehari sebelum dan saat hari pertama puasa.

Secara umum tradisi ini memang dilakoni oleh Masyarakat Sunda, Jawa Barat.

Namun sebagai informasi, tradisi ini memiliki bentuk pelaksanaan yang berbeda-beda dari kota yang satu dengan kota lainnya di Jawa Barat.

Perbedaan yang ada semasa sekali tidak mengurangi makna dan tujuan dari tadisi ini.

Sebab pada prinsipnya, tradisi ini tetap memiliki kesamaan yakni berkumpulnya anggota keluarga untuk bersilaturahmi, berdoa bersama, dan makan sahur bersama. (3)

Istilah munggahan juga sering disebut dengan istilah “botram” dengan keluarga, sanak saudara, kerabat dekat, dan tetangga di pegunungan, sawah, dan bukit-bukit.

Bahkan ada pula yang mengunjungi tempat wisata dengan keluarga atau mengadakan acara resmi keagamaan.

Selain acara makan-makan atau bepergian, tradisi ini merupakan sebuah sarana dalam menjaga keharmonisan dan kedekatan yang ada di antara anggota keluarga.

 (Tribunnewswiki.com/Ris)

 


Nama Tradisi Munggahan


Waktu Menjelang bulan Ramadan (seringkali sehari sebelum puasa hari pertama)


Subjek Masyarakat Sunda


Aktivitas Berkumpul dan makan bersama keluarga, kerabat dan orang dekat


Sumber :


1. www.inspiradata.com/inilah-asal-usul-tradisi-munggahan-sebelum-ramadhan/
2. blog.ugm.ac.id
3. nusantaranews.co


Penulis: Haris Chaebar
Editor: Archieva Prisyta

Berita Populer