IDI Komentari Keterbukaan dan Penanganan Covid-19 Tanah Air: Tes Lambat, Kematian PDP Tak Diumumkan

Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Persatuan Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr. Daeng M. Faqih saat ditemui di kantor pusat IDI, di Jakarta Pusat, Jumat (31/1/2020).

TRIBUNNEWSWIKI - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan keberatan dari informasi jumlah kasus kematian yang dirilis oleh pemerintah.

IDI mengatakan seharusnya jumlah kematian karena Covid-19 bisa mencapai lebih dari 1.000 kasus.

Padahal, ketika klaim ini diungkapkan oleh IDI, kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia diumumkan sejumlah 535 kasus per Sabtu, 18 April 2020.

Dari angka tersebut terdapat ketimpangan jumlah dari yang telah diungkapkan IDI hingga hampir dua kali lipat.

Baca: Korea Utara Terdampak Covid-19, Moon Jae In dan Donald Trump Setuju Berikan Bantuan Kemanusiaan

Baca: Jepang Kewalahan Hadapi Covid-19, Wali Kota Osaka Sampai Minta Warga Sumbangkan Jas Hujan untuk APD

Klaim IDI tersebut berdasarkan anggapan bahwa pemerintah sejauh ini belum menyertakan pasien PDP yang meninggal dunia sebagai korban Covid-19.

Seperti yang diberitakan Kompas.com, pernyataan tersebut  telah dikonfirmasi oleh  Ketua Umum IDI, Daeng M Faqih.

Tak hanya soal jumlah, Daeng juga memberikan komentar terkait penanganan Covid-19 di tanah air.

Diantaranya adalah lambatnya pelaksanaan dan pengumuman hasil tes Covid-19.

Selain itu, dikatakan Daeng, hasil tes yang lambat tersebut juga akan berefek 'gunung es'.

Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai pernyataan sang ketum IDI:

Jumlah kematian PDP cukup tinggi namun tidak diumumkan oleh pemerintah

Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2020). (KOMPAS.com/Dian Erika)

Ketika dikonfirmasi, Daeng menjelaskan klaim jumlah kematian dengan angka lebih dari 1.000 kasus tersebut berdasarkan data yang telah didapatkannya.

Yaitu dari data laporan langsung rumah sakit kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Data tersebut menerangkan bahwa jumlah keseluruhan kematian pasien positif Covid-19 dan PDP bila digabungkan mencapai lebih daari 1.000 kasus.

"Iya benar, kalau ditambahkan jumlah kematian yang positif Covid-19 dan PDP, itu akan lebih dari 1.000," kata Daeng saat dihubungi Kompas.com, Minggu (19/4/2020).

Namun dikatakan Daeng, pemerintah belum menyampaikan kasus kematian PDP.

Sejauh ini pemerintah hanya mengumumkan kasus kematian pasien yang dinyatakan positif Covid-19.

"Nah itu yang belum disampaikan oleh pemerintah. Kematian dengan status PDP ini banyak, kan tidak mungkin PDP yang meninggal lalu kita katakan itu pasti bukan Covid-19, kan enggak mungkin," lanjut Daeng.

Padahal, seperti yang dijelaskan Daeng, PDP yang meninggal oleh pihak rumah sakit dilaporkan juga sebagai kematian perawatan Covid-19.

Sebab status PDP saat berada di rumah sakit mendapatkan perawatan dengan prosedur Covid-19,

Bahkan saat meninggal dunia pun para PDP juga dimakakan dengan protokol pemakaman Covid-19.

Sehingga menurut Daeng, angka kematian PDP tidak bisa diabaikan jumlahnya.

"Angka PDP ini besar dan tidak bisa dihilangkan begitu saja," kata Daeng.

Soroti pelaksanaan tes Covid-19 yang minim dan lambat

Selain menyampaikan mengenai kasus kematian PDP, Daeng juga berkomentar tentang pelaksanaan tes Covid-19 di Indonesia.

Tak hanya jumlah tes yang dilakukan saat ini masih sedikit, Daeng juga menyoroti lambatnya waktu yang diperlukan untuk mengetahui hasil tes.

Sehingga sejumlah kasus PDP mengetahui status dan hasil tes setelah pasien tersebut meninggal.

Bahkan ada pula kasus pasien meninggal dunia namun tidak sempat melakukan tes Covid-19.

"Masih lama dan kurang cepat. Volume per hari nya masih relatif kurang. Perlu percepatan testing, perlu lebih banyak, lebih luas dan massal supaya deteksi kasus bisa lebih cepat dan penanganan lebih cepat," ujar Daeng.

Ia menegaskan, apabila test Covid-19 dilakukan dengan cepat, maka kematian PDP dapat diketahui penyebabnya.

Khawatir adanya fenomena gunung es

Jemaah menunaikan Salat Jumat dengan shaf berjarak 1 meter di Masjid Nasional Al Akbar, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/3/2020). MUI memberikan tuntunan ibadah di bulan Ramadan di saat wabah pandemi corona. (Surya/Ahmad Zaimul Haq)

Banyaknya kasus PDP yang meninggal dan belum diketahui hasil tesnya, Daeng menilai hal tersebut bisa menjadi masalah yang besar.

Sehingga menurut Daeng, kasus tersebut perlu mendapatkan jawaban dan segera diperiksa akar permasalahannya.

"Agar tidak menjadi fenomena gunung es," kata Daeng.

Pengumuman jumlah kasus Covie-19 merupakan data lama

Tak hanya soal angka kematian, Daeng menyebut kasus positif corona di Indonesia masih berpotensi akan mengalami peningkatan yang lebih besar.

Daeng bahkan menyebut, bahwa data yang diupdate setiap harinya oleh pemerintah bisa jadi adalah data satu atau dua minggu yang lalu.

Sebab antara waktu pengetesan, proses dan pengumuman hasilnya bisa memakan waktu satu minggu.

Sehingga konteks pernyataanya terkait jumlah pasien meninggal terkait corona yang mencapai 1.000 tersebut juga berkaitan dengan jumlah tes yang sedikit dan waktunya yang lama.

Karena itu pihaknya mendorong agar tes virus corona di Indonesia dipercepat dan diperluas.

Daeng mengungkapkan, dengan tes yang dipercepat dan diperluas maka penemuan kasus akan semakin cepat dan tepat.

Selain untuk menghindari fenomena gunung es yang ia sebut tadi.

"Yang ditemukan sekian, tetapi sebenarnya yang aslinya lebih besar dari itu," kata Daeng.

"Saya sebenarnya menekankan pesan dari Presiden Jokowi untuk mempercepat tes itu tadi karena angka positif atau kematian akan lebih besar bila itu dilakukan," pungkas Daeng.

Update kasus Covid-19 di Indonesia

Update kasus corona di Indonesia per Minggu, 19 April 2020 adalah terdapat penambahan 327 kasus.

Sehingga jumlah total pasien yang dinyatakan positif Covid-19 adalah 6.574 orang.

Dari jumlah tersebut seperti yang diungkapkan jubir pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto, terdapat 686 pasien yang dinyatakan sembuh.

Menurut keterangan Yuri dalam konferensi pers yang dilaksanakan di Graha BNPB, jumlah total kematian akivat Covid-19 juga mengalami penambahan sebanyak 47 kasus.

Jadi jumlah total pasien yang dinyatakan meninggal dunia akibat terpapar virus corona mencapai 582 orang.

Baca: Genjot Produksi Lokal, Kementerian BUMN: Ada yang Paksa Indonesia agar Selalu Impor Alat Kesehatan

Baca: Mengaku Jenuh dan Merasa Sehat, Pemudik Berstatus PDP di Tegal Kabur Saat Isolasi di Rumah Sakit

Baca: Viral Masyarakat Baciro Yogya Sambut Tenaga Medis, Warga Bentangkan Poster: Selamat Datang Pahlawan

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi, KOMPAS/Dandy Bayu Bramasta)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "IDI Sebut Angka Kematian Terkait Corona di Indonesia Lebih dari 1.000 Kasus"



Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Melia Istighfaroh
BERITA TERKAIT

Berita Populer