Candi Ceto

Penulis: Restu Wahyuning Asih
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pemandangan di Aras Candi Ceto yang memperlihatkan struktur punden berundak Candi Ceto


Daftar Isi


  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Candi Ceto atau yang biasa dibaca Candi Cetho merupakan candi bercorak agama Hindu yang diduga dibangun pada masa-masa akhir era Kerajaan Majapahit.

Pembangunan itu diperkirakan dilakukan pada abad ke-15 Masehi.

Lokasi candi berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut.

Secara administratif Candi Ceto berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Kompleks candi digunakan oleh penduduk setempat dan juga peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan.

Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa atau yang disebut Kejawen.

Laporan ilmiah pertama mengenai Candi Ceto dibuat oleh Van de Vlies pada tahun 1842.

Tidak hanya itu, A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenai situs bersejarah ini.

Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dan penemuan objek terpendam dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala (Commissie vor Oudheiddienst) Hindia Belanda.

Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini diperkirakan berusia tidak jauh berbeda dari Candi Sukuh, yang cukup berdekatan lokasinya. (1)

Baca: Candi Penataran

Baca: Candi Rimbi

  • Sejarah


Ketika pertama kali ditemukan, keadaan candi berupa reruntuhan batu yang terdapat pada 14 teras atau punden bertingkat yang memanjang dari barat (paling rendah) ke timur.

Meskipun pada saat ini tinggal 13 teras dan pemugaran dilakukan pada sembilan teras saja.

Strukturnya yang berteras-teras ("punden berundak") memunculkan dugaan akan sinkretisme kultur asli nusantara dengan Hinduisme.

Dugaan ini diperkuat oleh aspek ikonografi.

Bentuk tubuh manusia pada relief-relief pun menyerupai wayang kulit, dengan wajah tampak samping tetapi tubuh cenderung tampak depan.

Penggambaran serupa, yang menunjukkan ciri periode sejarah Hindu-Buddha akhir, ditemukan di Candi Sukuh.

Pemugaran pada akhir 1970-an yang dilakukan sepihak oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Suharto (presiden kedua Indonesia) yang mengubah banyak struktur asli candi.

Walaupun konsep punden berundak tetap dipertahankan.

Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam.

Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original diantaranya adalah gapura megah di bagian depan kompleks dan bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan.

Serta patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden juga hasil pemugaran. (2)

Pemandangan di aras paling atas dan paling bawah Candi Ceto

  • Susunan Bangunan


Setelah direnovasi, kompleks Candi Ceto terdiri dari sembilan tingkatan berundak.

Sebelum terdapat gapura besar berbentuk Candi Bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga.

Aras pertama setelah gapura masuk (yaitu teras ketiga) merupakan halaman candi.

Aras kedua masih berupa halaman, sedangkan pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto.

Sebelum memasuki aras kelima (teras ketujuh), pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi (tulisan pada batu) dengan aksara Jawa Kuno berbahasa Jawa Kuno berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397.

Tulisan tersebut ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dengan menyetakan tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi.

Di teras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, Surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit).

Terdapat juga simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang.

Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh.

Pada aras ke-delapan terdapat arca phallus (disebut "kuntobimo") di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud Mahadewa.

Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat.

Kemudian, aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa.

Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.

Selain itu, di bagian teratas kompleks Candi Ceto terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan).

Di timur laut bangunan candi dengan menuruni lereng, ditemukan sebuah kompleks bangunan candi yang kini disebut sebagai Candi Kethek (Candi Kera). (3)

(TribunnewsWiki.com/Restu)



Nama Tempat Candi Ceto


Lokasi Dusun Ceto, RT.01/RW.03, Cetho, Gumeng, Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57792


Google Map https://goo.gl/maps/4Ttf8xarGpPGNPB19


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. teamtouring.net


Penulis: Restu Wahyuning Asih
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
BERITA TERKAIT

Berita Populer