Di Amerika Serikat (AS), kesenjangan teknologi menyebabkan ribuan siswa kurang mampu kehilangan kesempatan mengikuti pelajaran selama berminggu-minggu.
Banyaknya sekolah dan universitas di AS yang tutup pada tahun akademik, membuat siswa di Los Angeles, AS menyelesaikan tahun terakhirnya melalui pengajaran daring alias kuliah online / kuliah di rumah.
Sebagian dari mereka mendapatkan bantuan fasilitas komputer yang disumbang dari distrik tempat mereka belajar.
Satu diantaranya, Kenia Molina bercerita kepada AFP, Sabtu (18/4/2020), perihal kesulitannya mendapatkan fasilitas teknologi di negaranya.
Baca: New York Beri Sinyal Akan Cabut Lockdown COVID-19, Buka Kembali Bisnis dan Sekolah
"Ini sangat penting ... bagi siswa yang tak punya akses ke internet bahkan tak punya perangkat apa pun, mereka bahkan tak mampu membeli gawai apa pun," kata Molina, mengenakan masker dan sarung tangan pelindung sembari menerima bantuan laptop dari distriknya.
Diketahui, komputer gratis diberikan oleh distrik sekolah di Los Angeles -wilayah terbesar kedua di AS- untuk membantu para pelajar kurang mampu.
"Ini membantu kami untuk tetap berada di sana dan terhubung satu sama lain," tambah Molina.
Namun demikian, Departemen Pendidikan di California masih membutuhkan hampir 240.000 perangkat komputer.
Setidaknya 7.400 dari total 120.000 siswa sekolah menengah di Los Angeles belum mengikuti 'pengajaran daring / online' sejak masa karantina dimulai.
Angka ini turun dari sebelumnya mencapai 15.000 siswa yang belum bisa 'log in' di komputernya dalam dua minggu pertama lockdown.
Ini adalah sesuatu yang seharusnya sudah kita siapkan bertahun-tahun yang lalu," kata Rafael Balderas, Kepala Sekolah di Los Angeles, di pinggiran kota Bell, tempat Molina belajar.
"Anda tidak bisa lepas dari pengajaran tatap muka / face-to-face, itu adalah bentuk pembelajaran terbaik untuk anak-anak," kata Rafael.
"Tetapi sekarang sudah menjadi kebiasaan baru bagi kita," tambahnya.
Dengan adanya pandemi dan kemajuan teknologi ini mendorong sistem sekolah untuk "memindahkan anak-anak kita menuju abad ke-21," jelas Rafael.
Baca: Pemerintah California Minta Para Buruh Pangan Ambil Cuti saat Pandemi COVID-19, Gaji Dibayar Penuh
Penutupan institusi sekolah di AS memberikan tantangan tersendiri bagi daerah miskin atau pedesaan di mana banyak keluarga kekurangan fasilitas komputer maupun akses internet.
Molina adalah satu dari 400 siswa di sekolahnya yang mendapatkan bantuan komputer untuk mengikuti kelas, menyerahkan tugas, dan mengikuti ujian.
Sekolah-sekolah di pedalaman AS juga bekerjasama dengan jasa penyedia internet, agar membuat keluarga yang tak mampu dapat segera mengakses internet.
Andes Chait, seorang murid Telfair Primary mengatakan ada beberapa zona sekolah dimana satu dari lima murid tidak memiliki rumah sendiri.
Banyak dari mereka yang tinggal di motel atau di rumah keluarga lain, tanpa 'meja yang tenang' yang 'bebas dari gangguan', kata Chait.
Orang tua mereka juga masih harus bekerja untuk membayar biaya pendidikan, sebuah pengorbanan besar memastikan anak-anak mereka punya kesempatan bersekolah.
Terkadang, orang tua mereka menyuruh saudaranya untuk mengawasi anak-anak mereka dalam pengajaran virtual di tempat yang bukan rumahnya.
Akibat pandemi ini, para guru juga diharuskan beradaptasi dengan cepat belajar menggunakan saluran Youtube dan aplikasi telekonferensi seperti Zoom.
"Mereka (Guru) menjaga agar siswa tetap berada dalam pengajaran, sehingga ke depan kita tak kehilangan enam bulan pembelajaran," kata Chait.
"Aman untuk mengatakan bahwa pendidikan kita telah berubah selamanya," kata guru matematika, Andrew Rowland, yang menciptakan aplikasi pendidikan Classkick.
"Sekarang semakin banyak guru yang dididik bagaimana mereka dapat menggunakan pengajaran virtual secara efektif," tambahnya.
Bagi Molina, perubahan ini kemungkinan akan berlanjut hingga universitas.
Tetapi sebelum itu terjadi, ia telah merasakan aneka perubahan besar termasuk mengubah kehidupan nyata pendidikan ke dalam layar komputer, dan kelulusan sekolah menengahnya, yang dimungkinkan akan diadakan juga secara virtual.
"Itu adalah kenangan yang tak bisa kulupakan," katanya.
"Tapi kita sungguh tidak bisa berbuat banyak akan hal itu," tambahnya.
Adanya penutupan institusi pengajaran juga memengaruhi penyediaan makanan gratis di sekolah yang biasanya menjadi sandaran bagi keluarga kurang mampu.
Itu dijawab oleh distrik sekolah di Los Angeles yang telah menyiapkan 63 titik distribusi makanan gratis dengan total setengah juta makanan per hari.
California adalah salah satu negara bagian di AS yang pertama kali menutup sekolah pada pertengahan Maret.
Infeksi COVID-19 telah merenggut setidaknya 900 orang di California.
Ketika pada akhirnya sekolah-sekolah akan dibuka kembali, Gubernur California, Gavin Newsom mengingatkan agar terus menjaga jarak sosial.
-