Tepat pada hari ini, warga Korea Utara merayakan hari lahir ke-108 sang pemimpin pertama negara tersebut, Kim Il Sung.
Hari kelahiran kakek dari Kim Jong Un tersebut lebih dikenal dengan nama perayaan 'Day of The Sun' atau Hari Matahari.
Namun kali ini perayaan hari lahir Kim Il Sung tahun ini tak semeriah biasanya.
Seperti yang di tunjukkan dalam foto yang diunggah AFP, warga hanya memberikan penghormatan di hadapan patung raksasa Kim Il Sung dan Kim Jong Il.
Baca: Kim Il Sung, Presiden Korea Utara 1972-1994
Baca: 22 Hari Hilang di Tengah Wabah Corona dan Penembakan Pejabat Korea Utara, Kim Jong Un Kembali Muncul
Selain itu warga juga datang dengan membawa karangan bunga dan diletakkan di sekitar patung raksasa kedua pemimpin abadi di Manus Hill, Pyongyang, Korea Utara.
Tampak beberapa diantaranya mengenakan masker untuk menghindari adanya kemungkinan penularan virus corona.
Sepinya perayaan hari lahir Kim Il Sung diduga karena adanya pandemi corona yang juga berdampak pada Korea Utara.
Terlebih karena negara tersebut berbatasan langsung dengan Tongkok sebagai episenter pandemi corona.
Sehingga Korea Utara telah menutup perbatasan mereka dan mengkarantina ribuan warganya, termasuk warga negara asing.
Meski demikian, hingga artikel ini diunggah Korea Utara belum memberikan konfirmasi resmi mengenai adanya warga yang dinyatakan positif Covid-19.
Tahun-tahun sebelumnya, negara yang memiliki nuklir sebagai kekuatan militernya tersebut selalu mengadakan festival yang meriah.
Dikutip dari Kompas.com, acara yang biasanya diselenggarakan untuk merayakan hari lahir sang presiden abadi diantaranya festival Kimilsungia.
Dalam acara tersebut terdapat berbagai rangkaian agenda seperti festival, event tari-tarian, hingga pameran.
Warga kemudian memberikan penghormatan di patung perunggu raksasa sang presiden abadi di Mansu Hill, Pyongyang.
Bahkan pada 2012 dan 2017, hari lahir Kim Il Sung dirayakan oleh Kim Jong Un dengan 'memamerkan' gudang senjata Korea Utara pada dunia.
Selain itu warga kemudian beramai-ramai membawakan karangan bunga untuk diletakkan di sekitar patung bertuliskan "Presiden besar Kim Il Sung akan bersama kita selamanya."
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini tidak ada perayaan besar untuk merayakannya.
Korea Utara juga telah membatalkan beberapa elemen peringatan tahunan.
Termasuk Maraton Pyongyang, yang biasanya merupakan sumber devisa dari wisatawan asing terbesar Korea Utara.
Hanya sejumlah kecil warga nampak memberikan penghormatan dan meletakkan karangan bunga.
Diawali dengan uji coba peluncuran rudal anti kapal Selasa pagi
Selasa, (14/4/2020) Korea Utara menembakkan salvo berupa proyektil diduga rudal jarak pendek ke laut bagian timur Korea Utara.
Diberitakan oleh Yonhap, aktivitas militer tersebut dibenarkan oleh pihak Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS).
Pemilihan hari penembakan rupanya tepat satu hari sebelum hari ulang tahun presiden pertama Korea Utara sekaligus kakek dari Kim Jong Un yaitu Kim Il Sung.
Dikatakan oleh otoritas JCS, jenis proyektil diduga rudal tersebut adalah surface-ti-ship cruise missile.
Yaitu sejenis rudal yang dioperasikan di daratan namun bisa mencapai target kapal yang berada di laut.
Beberapa istilah lain dari proyektil jenis ini adalah anti-ship missiles atau rudal anti kapal.
Tak hanya itu peluncuran rudal diduga sekaligus 'menyambut' pemilu Korea Selatan yang diagendakan akan dilaksanakan Rabu, (15/4/2020).
Meskipun sebenarnya pemilu telah dilaksanakan beberapa hari lebih awal untuk mengurangi aktifitas keramaian lantaran pandemi corona masih terjadi.
Uji coba dilakukan di sekitar pesisir timur di laut Kota Munchon, Provinsi Kangwon, Korea Utara sekitar pukul 7 pagi waktu setempat selama 40 menit.
JCS menerangkan proyektil tersebut telah melempar rudal dengan jangkauan sekitar 150 km sebelum jatuh ke perairan di laut timur.
"Saat ini pihak militer terus memantau uji coba dengan cermat dan mempersiapkan apakah akan dilakukan uji coba lanjutan," terang JCS.
Uji coba tersebut merupakan aktivitas militer terbaru yang dilakukan Korea Utara untuk memperkuat militer negera tersebut.
Sebelumnya perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat telah dilakukan.
Namun perundingan tersebut terhenti karena adanya pandemi corona yang juga berdampak pada Amerika Serikat.
Baca: Kim Jong Un Ancam Pejabatnya dengan Konsekuensi Serius Jika Corona Sampai Infeksi Korea Utara
Baca: Sambut Ulang Tahun Mendiang Kim Il Sung dan Pemilu Korsel, Kim Jong Un Lakukan Uji Coba Rudal
Baca: Korea Utara Tak Makamkan Jenazah Covid-19 dengan Layak Malah Mayatnya Dijadikan Pupuk Tanaman