2 Dokter Prancis Dikritik Setelah Menyarankan Uji Coba Vaksin Covid-19 pada Masyarakat Afrika

Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Kem Senou Pavel Dary, orang Afrika pertama yang terpapar virus Corona yang kini sudah sembuh.

TRIBUNNEWSWIKI.COM – Dua dokter Prancis terkemuka dituduh rasisme karena menyarankan vaksin virus corona (Covid-19) pertama-tama harus diuji pada orang-orang di Afrika.

Dilansir oleh Aljazeera pada Minggu (5/4/2020), komentar tersebut dilontarkan pada sebuah acara diskusi yang disiarkan di saluran televisi Prancis, LCI, pada Rabu.

Diskusi tersebut membahas tentang uji coba vaksin virus corona yang akan diluncurkan di Eropa dan Australia untuk melihat apakah vaksin TBC BCG bisa digunakan untuk mengobati virus tersebut.

Dalam segmen yang disiarkan di saluran TV Prancis LCI, Jean-Paul Mira dan Camille Locht mengemukakan gagasan untuk menguji vaksin baru pada populasi Afrika yang miskin.

Mira adalah kepala departemen perawatan intensif di Rumah Sakit Cochin di Paris, sementara Locht adalah direktur penelitian di Institut Nasional Kesehatan dan Penelitian Medis Prancis, yang dikenal sebagai Inserm.

"Jika saya bisa menjadi provokatif, tidakkah kita harus melakukan penelitian ini di Afrika, di mana tidak ada masker, tidak ada perawatan, tidak ada perwatan intensif," kata Mira.

“Seperti yang kami lakukan dalam beberapa penelitian tentang AIDS, di mana di antara para pelacur, kita mencoba sesuatu, karena kita tahu mereka sangat terbuka dan tidak melindungi diri mereka sendiri,” lanjutnya.

Baca: Tembus Angka 8 Ribu, Trump Sebut Kematian Akibat Covid-19 di AS Akan Lebih Banyak Lagi Pekan Depan

Baca: Jumlah Korban Meninggal Akibat Covid-19 Terus Melonjak, Spanyol Ubah Gelanggang Es Jadi Kamar Mayat

Pernyataan Mira ini pun disetujui oleh Camille Locht.

"Anda benar," jawab Dr Locht.

"Kami sedang dalam proses berpikir tentang studi paralel di Afrika," katanya, merujuk uji coba yang ada di negara-negara di benua lain.

Mira sebelumnya mempertanyakan apakah penelitian akan bekerja sesuai rencana pada petugas kesehatan di Eropa dan Australia karena mereka memiliki akses ke alat pelindung diri untuk mencegah mereka tertular virus.

Pernyataan dua dokter tersebut kemudian memicu kemarahan publik, termasuk mantan bintang Chelsea Didier Drogba dan mantan striker Barcelona Samuel Eto’o.

“Ini benar-benar tak terbayangkan kita terus mengingatkan ini. Afrika bukan laboratorium pengujian. Saya ingin dengan jelas mencela kata-kata yang merendahkan, salah, dan yang paling rasis. ” tulis pemain sepak bola profesional asal Pantai Gading Didier Drogba dalam akun Twitter pribadinya.

Sedangkan Eto’o menyebut menyebut para dokter tersebut sebagai ‘pembunuh’.

Olivier Faure dari dari Partai Sosialis Prancis, mengatakan tanda itu hampir tidak merupakan provokasi.

"Itu bukan provokasi, itu hanya rasisme," tulisnya di Twitter.

"Afrika bukan laboratorium Eropa. Orang Afrika bukan tikus!"

Baca: Hari Ini dalam Sejarah, 21 Maret 1960 : Pembantaian Massal Rasial di Sharpeville, Afrika Selatan

Baca: Pemerintah Republik Kongo Siap Tebang Hutan Afrika Demi Perusahaan China, Ini Kata Greenpeace

Kelompok anti-rasisme SOS Racisme meminta regulator media Prancis, Conseil Supérieur de L'Audiovisuel (CSA), untuk secara resmi mengutuk pernyataan tersebut.

Kelompok itu mengeluarkan pernyataan yang mengatakan, "Tidak, orang Afrika bukan kelinci percobaan", menambahkan bahwa perbandingan dengan AIDS dan pelacur adalah "bermasalah" dan "tidak disukai".

Organisasi itu mengatakan, pihak CSA tidak menanggapi keluhan mereka.

Halaman
12


Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
BERITA TERKAIT

Berita Populer