Kebijakan ini dilakukan untuk membantu pemerintah mengukur keefektifan jarak social distancing dalam rangka membendung pandemi virus corona atau Covid-19.
Google nantinya akan menyediakan laporan pengguna yang berisi peta tren pergerakan pengguna berdasarkan waktu dan wilayah di 131 negara.
Tren tersebut akan memperlihatkan "peningkatan atau penurunan persentase poin (seorang pengguna) dalam kunjungannya" ke lokasi seperti taman, toko, rumah, kantor, dan tempat-tempat lainnya.
Baca: Update Virus Corona di Kota Solo, 1 Pasien Dinyatakan Positif, Status PDP Bertambah 7 Orang
Namun tren tersebut bukanlah "jumlah total kunjungan" kata Jen Fitzpatrick, pimpinan Google Maps dan Kepala Petugas Kesehatan Perusahaan, Karen DeSalvo dalam postingan di salah satu blog Google, dilansir AFP, Jumat (3/4/2020).
Sebagai contoh, di Prancis, data menunjukkan bahwa kunjungan penggung Google ke restoran, kafe, pusat perbelanjaan, museum atau taman hiburan anjlok 88 persen dari tingkat normalnya.
Pada awal sebelum pandemi covid-19, kunjungan pengguna google ke pusat perbelanjaan di Prancis melonjak 40 persen, sebelum kemudian jatuh turun sebesar 72 persen.
Baca: Tahun Ini Ekonomi Malaysia Diperkirakan Bakal Anjlok ke Level Terendah Akibat Sebaran Virus Corona
Sementara itu, kunjungan pengguna Google ke kantor jauh lebih kecil tingkat penurunannya yaitu sebesar 56 persen.
"Kami berharap laporan ini dapat membantu mendukung keputusan (pemerintah) untuk mengatasi pandemi Covid-19," kata pihak eksekutif Google.
"Informasi ini dapat membantu pejabat pemerintahan memahami perubahan dalam kunjungan pengguna, yang kemudian dapat membuat rekomendasi jam kerja (kantor) ataupun menginformasikan terkait aturan layanan pengiriman," tambahnya.
Baca: Masa Depan 12 Ribu Klub dan Jutaan Pesepak bola di Italia Terancam Akibat Pandemi Virus Corona
Namun jangan khawatir, Google menyebut bahwa data pengguna akan dibuat anonim, seperti saat mendeteksi kemacetan lalu lintas di Google Maps.
Semua fitur baru ini dapat dilakukan bagi pengguna yang telah mengaktifkan lokasi mereka.
Dalam laporannya, Google memastikan tak akan ada "informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi, seperti lokasi individu, kontak pribadi, dan pergerakan pengguna secara personal.
Baca: Update Pasien Virus Corona 3 April 2020: Total Tembus 1.016.401 Kasus, 211.777 Orang Sembuh
Google juga akan menggunakan teknik statistik dengan menambahkan 'suara buatan' agar semakin sulit untuk mengidentifikasi 'individu'.
Sebelumnya, dari mulai China, Singapura, lalu Israel, pemerintah telah memakai Google untuk memantau gerakan warganya dalam upaya membantu membatasi penyebaran virus yang telah menginfeksi lebih dari satu juta orang dan membunuh lebih dari 50.000 orang di seluruh dunia.
Sedangkan di Eropa dan Amerika Serikat, Google juga telah membagikan data pengguna ponsel cerdas secara 'anonim' untuk melacak wabah dengan lebih baik.
Baca: Diduga Karena Khawatir Dampak Ekonomi Akibat Virus Corona, Menkeu di Jerman Bunuh Diri
Bahkan di Jerman, sebagai negara yang begitu menghormati privasi pengguna sedang mempertimbangkan untuk menggunakan aplikasi smartphone untuk membantu mengelola penyebaran penyakit.
Namun, sejumlah aktivis di Jerman menyebut bahwa rezim yang sekarang menggunakan corona sebagai alasan untuk meningkatkan pengawasan kepada warganya.