Rusia Lakukan Uji Vaksin Covid-19 pada Musang dan Primata, Bulan Juni Siap Diuji pada Manusia

Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Foto Angkatan Darat AS pada 8 Maret 2020 menunjukkan seorang karyawan USAMRIID (Institut Penelitian Medis Angkatan Darat Amerika Serikat) sedang melakukan penelitian terhadap virus coronavirus baru, COVID-19

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seorang ilmuwan telah mengkonfirmasi Rusia tengah melakukan tes vaksin Covid-19.

Tes tersebut dilakukan di sebuah laboratorium senjata biologi rahasia yang pernah digunakan Uni Soviet.

Diberitakan TribunnewsWiki.com dari Daily Star, Senin (23/3/2020), Wakil Kepala Ilmuwan di Vector, Yelena Gavrilova mengatakan kelompok itu mulai melakukan tes pada primata dan musang.

Laboratorium itu telah mengambil sampel dari setiap kasus yang dikonfirmasi dari coronavirus di Rusia, sejauh ini berjumlah 253.

Kemudian mereka akan menganalisanya di Pusat Penelitian Virologi dan Bioteknologi Vector State, dekat Novosibirsk di Siberia.

Diyakini, total 13 prototipe vaksin telah dikembangkan di laboratorium, dengan dua vaksin di antaranya layak untuk percobaan manusia pada Juni mendatang.

Wakil Kepala Ilmuwan di Vector, Yelena Gavrilova, mengatakan, "Segera setelah kami mendapatkan virus yang hidup, kami melakukan penelitian untuk mendapatkan model laboratorium yang sensitif, yang ternyata merupakan musang dan primata."

Baca: Aksi Bos Raksasa Alibaba Gelontorkan Bantuan ke 10 Negara Terdampak Corona

Baca: Kontak dengan Dokter yang Terinfeksi Covid-19, Kanselir Jerman Angela Merkel Isolasi Mandiri

ILUSTRASI - Para staf di Rumah Sakit Palang Merah Wuhan, China, Sabtu (25/1/2020), menggunakan pelindung khusus, untuk menghindari serangan virus corona yang mematikan. (AFP/HECTOR RETAMAL)

 

“Sekarang kami memiliki prototipe vaksin, kami mengujinya pada lab hewan."

"Kami memiliki kedua vaksin berdasarkan virus rekombinan yang dikenal dan vaksin sintetis, yang dikembangkan pada enam platform teknologi terpisah."

Lokasi yang dijaga ketat itu dulunya merupakan fasilitas untuk senjata biologis Soviet yang rahasia.

Baca: Bubarkan Kerumunan, Ini Kisah Pihak Berwenang Tegakkan Imbauan Social Distancing pada Masyarakat

Baca: Nenek Pembalap MotoGP Spanyol Tito Rabat Meninggal karena COVID-19

ILUSTRASI - Ilmuan akhirnya mengungkap alasan pengembangan vaksin untuk virus corona sangat lambat, WHO: perlu waktu 18 bulan. (YouTube WGBH News)

 

Berita Serupa

Diberitakan sebelumnya, seorang dokter mengklaim timnya mungkin telah menemukan obat untuk virus corona yang mendatangkan musibah di seluruh dunia.

Dilansir TribunnewsWiki.com dari Daily Star, ia adalah peneliti asal University of Queensland Centre for Clinical Research, David Paterson.

Menurut laporan yang diterima Daily Star, Profesor David Paterson berharap pasien bisa mencoba obat pada akhir Maret.

Dia mengatakan kepada news.com.au, "Ini 'pengobatan yang berpotensi efektif' yang harus dipertimbangkan untuk uji coba medis skala besar segera."

"Apa yang ingin kita lakukan saat ini adalah uji coba klinis besar di seluruh Australia, melihat 50 rumah sakit, dan apa yang akan kita bandingkan adalah satu obat, versus obat lain, versus kombinasi dari dua obat."

ILUSTRASI - Foto Angkatan Darat AS pada 8 Maret 2020 menunjukkan seorang karyawan USAMRIID (Institut Penelitian Medis Angkatan Darat Amerika Serikat) sedang melakukan penelitian terhadap virus coronavirus baru, COVID-19 (ERIN BOLLING / US ARMY / AFP)

Baca: Kini Jadi Harapan Dunia, Inilah 3 Langkah Strategis yang Dilakukan China untuk Atasi Virus Corona

Baca: Singapura Lockdown karena Corona, Denada Ungkap Banyak Pekerjaan Dibatalkan Pengaruhi Finansialnya

Menurut laporan, obat itu berfokus pada sekitar dua obat.

Yang pertama digunakan untuk menekan HIV, sementara yang lain adalah pengobatan antimalaria.

Dia menggambarkan obat itu sebagai "pengobatan atau penyembuhan" potensial.

"Gelombang pertama pasien China yang kami alami (di Australia), mereka semua melakukannya dengan sangat baik ketika mereka dirawat dengan obat HIV," lanjutnya.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Nur)



Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: haerahr

Berita Populer