Baru-bari ini, ternyata ISIS telah mengeluarkan travel warning atau nasihat perjalanan bagi para anak buahnya untuk menghindari untuk ke Eropa yang kini sedang terdampak pandemi virus Corona.
Dilansir Tribunnewswiki.com dari The Sunday Times pada Senin (16/3/2020), edisi terbaru buletin milik ISIS yakni Al-Naba, ternyata memberikan petuah dan peringatan terhadap anggota mereka untuk sementara ini tidak melakukan perjalanan ke Eropa.
Kelompok teror yang berbasis di Timur Tengah dan di masa lalu sering merencanakan serangan di Eropa itu, juga menginstruksikan kepada para pengikutnya yang mungkin mengidap Covid-19 untuk tetap tinggal di wilayah ISIS, demi mencegah penyebaran penyakit.
Menurut The Sunday Times, buletin Al-Naba itu mengatakan bahwa anggota ISIS yang sehat tidak boleh memasuki tanah epidemi (Eropa) dan orang yang tertimpa wabah tidak boleh keluar dadari wilayahnya.
Baca: Curhatan Anak ISIS eks WNI Nada Fedulla, Terjebak di Suriah Karena Ajakan Ayah, Cita-Cita Menguap
Baca: Pengakuan Napi Terorisme Tolak Baiat ISIS di Nusakambangan, Dianggap Kafir dan Darahnya Halal
Al-Naba juga menginstruksikan pengikut ISIS untuk "menutupi mulut mereka ketika menguap, batuk dan bersin" dan untuk mencuci tangan secara teratur.
Masih menurut The Sunday Times, buletin Al-Naba juga berikrar bahwa wabah virus Corona saat ini digambarkan sebagai "siksaan yang dikirim oleh Tuhan kepada siapa pun yang Dia kehendaki" dan menambahkan bahwa "wabah atau penyakit tidak menyerang dengan sendirinya, tetapi dengan perintah dan utusan Tuhan."
ISIS telah kehilangan banyak wilayah dan pengaruhnya di Timur Tengah setelah serangkaian kekalahan.
Tetapi ISIS tetap aktif di Irak dan Suriah dalam bentuk yang terfragmentasi.
Timur Tengah juga dilanda wabah koronavirus, dengan Irak melaporkan 101 kasus dan 10 kematian akibat COVID-19.
Eropa sekarang menjadi pusat pandemi di seluruh dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan Italia, Prancis dan Spanyol semua melarang pertemuan publik dan Inggris akan mengikuti jejaknya karena virus tersebut merenggut lebih dari 5.300 jiwa di seluruh dunia.
Baca: Setelah Mekkah, Kini Makam Suci Imam Reza di Iran Ditutup dari Aktivitas Haji Syiah, Dampak Corona
Baca: Wabah DBD di Tengah Kasus Virus Corona di Asia Tenggara Picu Kekhawatiran Para Ahli Tentang Hal Ini
Di Italia, 2.547 kasus baru coronavirus dilaporkan dan 252 kematian pada hari Sabtu, jumlah kematian tertinggi dalam satu hari sejak wabah dimulai.
Italia sekarang telah mengkonfirmasi 21.157 kasus, tertinggi kedua di dunia setelah Cina.
Hingga Sabtu, di Spanyol jumlah infeksi coronavirus telah mencapai 5.753 orang, setengahnya di Madrid.
Virus mematikan itu telah menewaskan lebih dari 5.300 jiwa dan menginfeksi lebih dari 142.000 orang di 135 negara dan wilayah, dengan Organisasi Kesehatan Dunia menggambarkan wabah itu sebagai pandemi pada pekan lalu.
Uji coba vaksin virus corona akan dimulai di Amerika Serikat.
Seorang pejabat pemerintah AS menegaskan rencana resmi ini belum diumumkan ke publik.
Percobaan dilakukan terhadap peserta pertama yang akan disuntik vaksin dengan dosis tertentu, pada Senin (16/3/2020).
Uji coba yang didanai oleh Institut Kesehatan Nasional / The National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat akan berlangsung di Kaiser Permanente Washington Health Research Institute di Seattle, AS.
Senada dengan hal tersebut, pejabat NIH, Dr Anthony Fauci menyebut bahwa validasi vaksin akan membutuhkan waktu satu tahun lebih, dilansir AP, Senin (16/3/2020).
Vaksin virus corona ini dilaporkan tak akan mengandung virus baru.
Pengujian akan dilakukan terhadap 45 sukarelawan muda yang sehat.
Vaksin yang dikembangkan oleh NIH dan Moderna Inc ini akan disuntikkan kepada pasien dengan dosis yang berbeda.
Uji coba ini dimaksudkan untuk melihat efek samping dari vaksin kepada pasien dan menemukan tahap yang lebih besar.
Namun demikian, hasil penelitian ini masih membutuhkan perbandingan dari penelitian lain di seluruh dunia untuk mengetahui apakah vaksin dapat melindungi atau justru membahayakan pasien.
Sampai saat ini, banyak kelompok peneliti yang berlomba untuk untuk membuat vaksin virus corona atau COVID-19.
Para peneliti dari seluruh dunia ini bersaing untuk membuat vaksin untuk virus yang telah menyebar ke lebih dari 118 negara ini.
Fokus penelitian di Seattle ini adalah untuk mengembangkan teknologi baru dari vaksin yang pengobatannya lebih cepat dari cara tradisional.
Sejumlah peneliti dilaporkan telah membuat vaksin sementara yang mampu melindungi pasien hanya dalam jangka waktu satu hingga dua bulan.
Beberapa vaksin lain dari Inovio Pharmaceuticals juga siap akan diujikan bulan depan di Universitas Pennsylvania dan di Kansas City, Missouri.
Sedangkan di Asia, terdapat penelitian vaksin serupa di China dan Korea Selatan.
Sampai saat ini berlum ada vaksin yang benar-benar terbukti menyembuhkan.
Sehingga banyak peneliti di seluruh dunia putar otak dan kerja keras menemukan vaksin yang diharapkan banyak orang tersebut.